
Raka semakin bergelayut manja sambil memeluk Jiana. Napasnya terdengar berat, saat ini Raka sedang menahan hasratnya. Jiana hanya diam dan masih bergelut pikirannya.
"Aahh..." Pekik Jiana saat Raka menggigit leher Jiana sedikit kasar.
"Ayo sayang.." Ajak Raka dan menatap Jiana. Tatapannya sayu, Jiana paham jika Raka sedang menahannya saat ini.
"Aku tidak mau! Kamu menjauhlah dariku!" Ujar Jiana dan mendorong Raka.
Jiana beringsut ingin pergi dari ranjangnya. Namun Raka menahan tangannya dan memeluk Jiana dari belakang.
"Raka, kamu sudah janji tidak akan memaksaku kan. Apa kamu lupa?" Ujar Jiana sambil berusaha melepas pelukan Raka.
Jiana berlari ke luar kamarnya meninggalkan Raka sendiri. Jika terus bertahan di dalam sana, Jiana yakin dirinya tidak akan baik-baik saja. Raka hari ini sungguh mengerikan.
Jiana menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.Tiba-tiba saja isak tangis terdengar darinya. Raka menghampiri Jiana dan ia terkejut saat ini Jiana sedang menangis.
"Ada apa? Maaf sayang, aku membuatmu takut hari ini." Ujar Raka sambil berlutut di depan Jiana. Raka mengusap rambut Jiana dengan lembut.
Hiks hiks hiks
Jiana masih dalam posisinya. Ia masih terisak.
"Maaf. Aku tidak akan memaksamu lagi sayang." Ujar Raka dengan lembut. Mencium sekilas puncak kepala Jiana.
__ADS_1
Jiana mendongak dan menatap Raka dengan sendu. Raka duduk di sampingnya dan memeluk Jiana. Dengan erat Jiana memeluk Raka yang entah mengapa itu membuatnya tenang dan nyaman. Raka mengusap punggung Jiana.
"Meluknya erat banget neng." Ucap Raka bercanda.
Jiana memukul dada Raka kala mendengar ucapan Raka. Jiana memanyunkan bibirnya.
"Kalau meluk nggak apa-apa. Tapi nggak untuk satu itu." Ucap Jiana yang masih menyembunyikan wajahnya.
"Berarti kalau cium boleh dong?" Tanya Raka.
"Hah?"
Cup
Sebelum Jiana melanjutkan ucapannya, Raka lebih dulu menyambar bibir Jiana. Melumatnya dengan pelan.
Jiana mengangguk dan berdiri. Tiba-tiba Raka mengangkat tubuh Jiana ke bahunya. Raka segera membawa Jiana menuju kamar.
"Rakaa.. Turunin aku..!!" Ucap Jiana sambil memukul-mukul punggung Raka. Namun Raka sama sekali tak peduli.
"Rakaa.. Sialan kamu!!" Umpat Jiana sepanjang perjalanan menuju kamarnya. Raka hanya terkekeh mendengarnya.
***
__ADS_1
Jiana terbangun kala bunyi alarm memekikkan telinganya. Ini masih terlalu pagi untuknya bangun tidur. Kalau di rumahnya dulu ia bisa bersantai ria bangun kapan saja. Tetapi kini ia harus menyiapkan sarapan untuk suaminya dan keperluannya sebelum berangkat ke kantor. Jiana yang dulu berbeda dari sekarang. Meskipun ia sudah banyak perubahan, tetapi sifat mengeluhnya masih tetap ada pada dirinya. Kalau dulu ia bisa bermanja ria sekarang ia harus mandiri.
Jiana mengerjapkan matanya beberapa kali. Bangun pagi sungguh menyusahkan untuknya. Tangannya meraih jam kecil yang berada di nakasnya. Masih pukul 05.00 pagi. Matanya terasa berat untuk bangun.
Jiana menoleh dan menatap seorang pria yang dari semalam memeluknya dengan erat. Raka masih terbuai dengan mimpinya. Jiana menghela napasnya pelan dan mulai mengalihkan tangan Raka. Jiana segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum bergulat dengan sayuran di dapurnya.
Meskipun berat, Jiana tetap melaksanakan tugasnya. Mulai dari menyiapkan sarapan, menyiapkan baju kerja untuk Raka dan menyapu lantai.
"Rakaa banguunnn!!" Teriaknya saat ia baru selesai menyapu lantai.
Mendengar teriakan istrinya yang sungguh merdu itu, Raka segera bangun dan bersandar di ranjang.
"Apa tidak bisa membangunkan dengan cara yang lebih romantis lagi. Setiap pagi selalu berteriak." Gumam Raka sambil mengumpulkan nyawanya. Setelah benar-benar tersadar, ia menuju kamar mandi.
"Pagi sayang." Sapa Raka dan mencium kening Jiana.
"Pagi suamiku sayang." Balas Jiana dan menampilkan senyum paksaan di wajahnya.
"Dari jam berapa kamu bangun?" Tanya Raka saat ia mengambil sendok dan garpu.
"Dari tadi pagi." Balas Jiana santai.
"Sini!" Ucap Raka dan menarik Jiana agar duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Jiana bingung.
"Aku ingin sarapan dengan cara seperti ini." Ucap Raka dan tersenyum penuh arti.