Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 28


__ADS_3

Pagi hari bukannya langsung bangun, Jiana justru terlelap dalam tidurnya. Yang biasanya bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan kali ini ia masa bodoh dengan itu. Dirinya benar-benar lelah dan malas untuk bangun tidur.


Cup


Cup


Cup


Raka mencium pipi Jiana agar segera bangun. Tetapi Jiana justru tak merasa terganggu dengan hal itu.


"Sayang, bangun yuk," ajak Raka.


"Lima menit lagi!" ucap Jiana yang masih memejamkan matanya.


"Sayang, bukannya kamu ada kelas pagi ini?" tanya Raka yang sudah segar dengan balutan baju santainya. Dirinya baru selesai mandi.


"Bodoamat! Aku nggak mau ke kampus," jawab Jiana jutek. Ia tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini.


"Kenapa?" tanya Raka bingung. Karena selama ini Jiana merupakan mahasiswi yang rajin.


"Masih tanya kenapa? Setelah apa yang kamu lakukan semalam?" ujar Jiana kesal.


Raka tertawa kecil. Ia paham saat ini Jiana sedang marah padanya.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku siapkan sarapan dulu ya. Kamu mau makan apa hari ini?" ujar Raka sebelum meninggalkan Jiana menuju dapur.


"Terserah!" Satu kata yang tak dapat Raka deskripsikan. Raka menghela napasnya sejenak. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar.


"Raka, tunggu!" suara yang berhasil membuat Raka menghentikan langkahnya.


"Kenapa kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Jiana yang kini sudah membuka matanya lebar-lebar.


"Mau bagaimana lagi, istriku lagi malas ke kampus, aku mau menemaninya," ucap Raka santai. Kemudian ia berjalan keluar kamar.


Jiana menutupi wajahnya sendiri dengan selimut. Kemudian ia membukanya lagi dan kini duduk bersandar di ranjang.


"Jiana, bagaimana bisa kamu menyerahkan dirimu sendiri seperti tadi malam? Dasar bodoh! Bahkan kamu sama sekali tak mencintainya," gumam Jiana menyesali.


Jiana berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Setelah sedikit kering, ia duduk di depan cermin.


"Hah! Gila apa! Banyak banget sih ini," ujar Jiana yang melihat lehernya penuh tanda merah. Setelah sedikit berdandan, ia berjalan ke almari untuk mencari pakaian yang lebih menutupi lehernya. Akhirnya ia memakai kemeja meskipun tidak sepenuhnya tertutupi.


Jiana keluar kamar menuju meja makan. Jalannya ia perlambat saat melihat Raka yang dengan lihai memasak makanan. Jiana tersenyum tipis. Ia menarik kursi dan duduk di sana. Jiana mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan kepada Sarah bahwa dirinya hari ini tidak ke kampus dengan alasan sakit.


Raka sudah selesai memasak. Ia menghidangkan makanan tersebut di meja makan. Jiana masih fokus memperhatikan Raka.


"Ada apa? Cepat makanlah," ujar Raka sambil menyodorkan makanan kepadanya.

__ADS_1


Jiana masih diam. Ia menatap makanan tersebut dan beralih menatap Raka. Sebenarnya ia sudah lapar, entah apa yang membuatnya terdiam dan hanya menatap makanan tersebut.


"Sayang? Kenapa tidak dimakan?" tanya Raka sambil mengusap tangan Jiana.


"Aku tidak lapar," jawab Jiana lalu ia berdiri hendak pergi dari sana.


Rana menahan Jiana dan berdiri mensejajarkan dirinya dengan Jiana.


"Hei, ada apa? Apa kamu tidak suka dengan makanan itu? Apa kamu ingin aku memasak yang lain lagi?" tanya Raka dengan lembut. Namun Jiana hanya memalingkan wajahnya.


Dirinya teringat dengan bekas merah yang memenuhi lehernya. Tiba-tiba saja ia merasa kesal dengan Raka. Kesal dengan pria yang saat ini berada di depannya.


"Kenapa kamu jadi baik begini? Apa karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan? Biasanya kamu selalu keras padaku kan? Kenapa hari ini bersikap manis padaku?" tanya Jiana yang kesal terhadap Raka. Bahkan dirinya tidak sadar dengan apa yang ia lontarkan.


"Kamu masih marah padaku?" tanya Raka sambil menggenggam tangan Jiana.


"Kamu sudah janji padaku sebelumnya, tapi kenapa kamu mengingkarinya Raka, apa semua yang aku katakan padamu itu hanya omong kosong belaka. Sehingga dengan mudahnya kamu melakukan itu," ucap Jiana. Kini ia menangis.


Raka merengkuh Jiana dan memeluknya erat.


"Bukan seperti itu sayang, maaf kalau aku menyakitimu. Bukankah semalam kamu juga tidak mempermasalahkan hal ini lagi? Kenapa sekarang marah lagi?" ucap Raka yang masih memeluk Jiana. Padahal Raka ingat jika Jiana tidak lagi marah padanya. Itu sebabnya ia merasa Jiana sudah mulai membuka dirinya sehingga memberikan Raka kesempatan untuk memiliki Jiana seutuhnya.


"Sudahlah, aku mau makan," ucap Jiana melepaskan pelukannya dan kembali duduk.

__ADS_1


Raka tersenyum dan duduk di samping Jiana. Mereka makan dengan tenang.


__ADS_2