Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 03


__ADS_3

"Kenapa kita tidak magang bersama saja? Bukankah itu seru," seru Sarah dengan antusias.


"Nanti coba aku tanya sama Papaku deh," jawab Jiana sambil nyengir ke arah Sarah.


"Oke!" balas Sarah singkat.


Kelas pun dimulai. Mereka semua fokus dengan pelajaran yang diterangkan dosennya. Semua memperhatikan tanpa ada suara. Ada juga yang mencatat materi yang mereka rasa penting.


Kelas pun selesai. Para mahasiswa berhamburan keluar. Di kelas hanya tinggal Sarah dan juga Jiana.


"Ji, ke kantin yuk," ajak Sarah saat mengemas bukunya.


Namun sebelum Jiana menjawab, ponselnya berdering. Dilihatnya tertera nama 'Mama'. Jiana mengembangkan senyumnya dan menjawab panggilan itu.


"Halo Mamaku sayang," ucap Jiana dengan senang.


"Halo juga sayang. Oh iya.. Hari ini kamu masih ada kelas lagi?" tanya Desi.

__ADS_1


Jiana berpikir sejenak. Sebenarnya hari ini ada matkul setelah jam 12.00.


"Ada sih Ma. Ada apa ya?" tanya Jiana penasaran. Sarah yang di sampingnya hanya menatap Jiana yang sedang menerima telepon.


"Izin bisa? Mama sama Papa mau ajak kamu makan siang bareng," ujar Mama Desi.


Jiana mengernyitkan dahinya. Tidak seperti biasa, ada apa kali ini. Kenapa tiba-tiba mengajak makan siang bareng.


"Oke Ma," jawab Jiana singkat dan itu mengakhiri pembicaraan mereka.


Sarah yang berada di sampingnya menatap Jiana seolah meminta penjelasan. Jiana menghela napasnya dan duduk kembali ke kursinya.


Di luar, Alex sudah berdiri di depan mobil menanti anak kesayangannya. Jiana melambaikan tangannya ke arah Papanya. Kemudian Jiana pamit kepada sahabatnya itu. Jiana sedikit berlari menuju mobil papanya.


"Loh, Pak Rio ke mana Pa?" ujar Jiana sembari masuk ke dalam mobil.


"Pak Rio sudah papa suruh untuk pulang tadi. Papa kan ingin menjemput putri kesayangan Papa ini," ucap Alex santai. Jiana hanya ber oh ria saja.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota yang tampak ramai seperti biasanya. Jiana memilih untuk bermain dengan ponselnya. Sedangkan Alex fokus dengan kemudinya.


Tak butuh waktu lama. Mereka sudah sampai di depan rumah. Jiana mengernyitkan dahinya. Ia pikir mereka akan makan siang di restoran atau di tempat lain.


Mereka keluar dari mobil dan menuju dalam rumah. Langkah Jiana terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya dengan seorang laki-laki muda. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapa mereka dan ada keperluan apa datang ke sini.


"Kak, sini. Kenapa berdiri saja di situ?" ucap Desi yang menyadari anaknya masih mematung tak jauh dari pintu rumahnya.


Wanita paruh baya dan laki-laki itu sontak menoleh ke arah Jiana. Jiana semakin terkejut saat melihat laki-laki yang duduk bersama keluarganya adalah laki-laki yang tadi pagi ia temui.


"I-iya Ma," ucap Jiana dan kini ia melangkahkan kakinya ke ruang keluarga.


Jiana bersalaman dan mencium punggung tangan orang tuanya dan wanita paruh baya itu secara bergantian. Setelah itu ia beranjak ke kamarnya.


"Mau ke mana?" tanya Desi saat melihat Jiana akan pergi dari situ.


"Ke kamar Ma," jawab Jiana cuek.

__ADS_1


"Sini duduk sama Mama. Nanti saja ke kamarnya," suruh Desi. Jiana menghela napasnya dengan pelan lalu menuju sofa dan duduk di sana. Semua perilaku Jiana tak lepas dari perhatian Raka. Raka menatap lekat Jiana.


__ADS_2