Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 62


__ADS_3

"Waahh, kebetulan kita bertemu di sini," ucap seorang wanita yang berdiri di samping Jiana. Jiana langsung menatap wanita itu dengan kesal.


Meskipun ia tidak kenal dengan Niha, ia cukup tahu niat dari Niha menemuinya. Pasti bukan sesuatu yang baik. Niha berdiri di samping Jiana dengan angkuh. Jiana berusaha untuk mengabaikannya, namun trolinya ditahan oleh Niha.


"Wah, apa ini?" ucap Niha sambil mengambil kotak susu tersebut. Ia menatap Jiana dengan tatapan merendahkan. Niha cukup tahu kondisi Jiana karena Mira yang menceritakannya padanya. Niha berpikir itu adalah kesempatan bagus untuknya. Mendekati Raka secara perlahan.


Jiana langsung merebut kembali susu tersebut. Ia menatap Niha dengan tajam seperti ingin mencabik wanita di depannya ini.


"Kenapa? Kalau tidak bisa hamil mau usaha bagaimanapun juga akan tetap sia-sia. Jiana sayang, kamu bahkan wanita yang tidak sempurna. Masih yakin Raka akan tetap menerima kekuranganmu?" ucap Niha dengan sinis.


"Ini sama sekali bukan urusanmu! Raka adalah suamiku. Menerima atau tidak, bukan kamu yang menentukannya!" jawab Jiana balik. Ia berlalu meninggalkan Niha. Jiana sengaja menyenggol bahu Niha dengan cukup keras hingga Niha hampir terjatuh.


"Masih tidak tahu dirikah?" ucap Niha yang seketika membuat Jiana langsung berhenti melangkah. Jiana berbalik dan menatap Niha dengan tajam. Jiana tersenyum sinis. Apa urusannya wanita itu atas kehidupan rumah tangganya. Jiana menghampiri Niha perlahan. Ia menepuk bahu Niha cukup kuat.


"Lalu, siapa kamu? Memangnya kamu pantas? Masih tidak tahu diri juga?" bisik Jiana. Niha langsung mengepalkan tangannya. Ternyata tidak mudah memprovokasi Jiana. Ia pikir akan mudah Jiana jatuh dalam perangkapnya dan sadar diri jika dirinya tidak pantas untuk Raka. Namun nyatanya, tidak seperti yang ia duga.


Jiana mencengkram kuat lengan Niha. Ia tidak ada kesabaran menghadapi wanita yang mencoba untuk merusak rumah tangganya. Tatapannya begitu tajam seolah ingin menghabisi Niha saat itu juga. Niha menahan lengannya. Ia merasa kesakitan. Baru kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kau pikir aku selemah itu? Jika kamu berani lagi menggangguku, akan aku pastikan jika kamu tidak akan bisa melihat hari esok. Kau, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diriku!" ucap Jiana penuh penekanan. Ia menghempaskan tangan Niha dengan kuat hingga Niha hampir terjatuh. Lalu Jiana berbalik dan ingin segera pergi dari sana.


"Kau yang pelakor! Beraninya merebut suami orang! Hei, lihatlah... Wanita ini telah merebut suamiku," teriak Niha. Semua orang yang mendengarnya langsung berkerumun. Mereka berbisik tentang dua wanita itu. Jiana menatap mereka yang tengah berbisik membicarakan dirinya. Sedangkan Niha tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Dia sudah merebut suamiku. Dan sekarang dia mengancamku. Wanita ini tidak tahu diri! Dasar pelakor!" ucap Niha lagi.


Jiana langsung menghampiri Niha. Ia menampar Niha dengan keras hingga Niha jatuh tersungkur. Semua orang yang menyaksikan menyalahkan Jiana. Mereka mengecam Jiana. Tetapi Jiana tidak peduli.


"Ini satu peringatan buat kamu! Jika kamu masih macam-macam, aku akan membuatmu tidak akan melihat keindahan dunia selamanya!" ucap Jiana. Ia segera pergi dari sana.


Setelah membayar belanjaannya, Jiana langsung memesan taksi dan pergi meninggalkan supermarket tersebut. Di dalam taksi, Jiana mulai menangis. Di luar sana, Jiana memang terlihat kuat dan tegar. Namun saat menyendiri seperti ini ia sangatlah rapuh. Apalagi dengan masalah kehamilan yang begitu sensitif untuknya.


Jiana memukul-mukul perutnya sendiri. Ia merasa kecewa dan sedih dengan keadaannya saat ini. Meskipun Raka selalu menguatkannya, dalam hati kecilnya Jiana tetap tidak setegar itu.


Tanpa terasa, taksi sudah sampai di depan rumahnya. Jiana segera turun dan tak lupa membayar taksi tersebut. Lalu ia memasuki rumahnya sambil membawa barang belanjaannya. Matanya terlihat sembab, karena ia habis menangis di dalam taksi tadi.


Saat menata belanjanya, ia terhenti saat melihat susu yang ia beli tadi. Jiana menjadi gugup dan takut. Namun ia tidak akan putus asa mencoba segala cara agar dirinya cepat hamil. Salah satunya dengan dibantu asupan susu untuk program hamil itu. Jiana tersenyum membayangkan dirinya yang mengandung dan menjaga buah hatinya nanti. Jiana semakin tak sabar menanti hari itu tiba.


"Oke, sekarang usaha dulu. Untuk yang lainnya serahkan saja pada Tuhan. Semoga dalam waktu dekat ini aku segera hamil," batin Jiana menyemangati dirinya sendiri.


Jiana kembali menata belanjanya dan bersiap untuk memasak menu makan siang. Ia di rumah sendiri karena mamanya belum pulang. Satu jam kemudian, Jiana selesai memasak. Ia menyiapkan makanan tersebut di kotak makan. Setelah itu, ia menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap.


Selesai bersiap, Jiana keluar kamarnya dan ingin memesan taksi online. Namun Farrel sudah duduk manis di ruang tamu menunggu Jiana.


"Selamat siang nyonya, saya akan menjemput Anda hari ini," ujar Farrel dengan sopan.

__ADS_1


"Oke, aku ambil bekalnya dulu ya," ucap Jiana. Farrel mengangguk sopan.


"Tidak mau makan dulu?" tanya Jiana sambil berjalan menghampiri Farrel.


"Tidak perlu repot nyonya, mari saya antar," jawab Farrel. Mereka keluar rumah dan menuju ke mobil. Tak lupa Jiana mengunci pintu rumahnya.


Sekitar 30 menit, Jiana sudah sampai di kantor Raka. Ia mengembangkan senyumnya dan berjalan menuju ruangan suaminya. Farrel mengantar Jiana hanya sampai di depan pintu ruangan Raka.


"Terima kasih ya," ucap Jiana. Farrel mengangguk sopan. Ia pamit undur diri.


Jiana membuka pintunya. Suaminya sedang sibuk dengan beberapa berkas di mejanya. Jiana menutup kembali pintunya dan menghampiri Raka. Ia tersenyum lebar melihat Raka yang sedang sibuk seperti itu.


"Istirahat dulu yuk, aku sudah masak menu spesial buat kamu," ucap Jiana. Ia memeluk Raka dari belakang. Raka menghentikan aktivitasnya. Ia membereskan berkasnya dan menarik Jiana untuk duduk di pangkuannya.


"Sayang, kamu pasti lelah kan?" tanya Raka sambil menenggelamkan wajahnya ke leher istrinya.


"Aku senang melakukannya. Makan dulu yuk, ini sudah siang," ucap Jiana. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Raka. Namun Raka semakin mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih ya, kamu memang istri yang pengertian," ucap Raka. Jiana hanya tersenyum tipis.


Raka berdiri dan mereka menuju ke sofa. Di sana, Jiana menyiapkan makan siang untuk suaminya. Meskipun hanya menu sederhana, tetapi bagi Raka itu adalah makanan terenak yang pernah Raka makan. Jiana mau memasakkan makanan untuknya saja itu sudah suatu berkah baginya. Raka mulai mencicipi masakan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2