Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 92


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi ini setelah membantu bi Lastri memasak, Jiana bergegas menyiapkan baju kerja untuk suaminya dan seragam sekolah untuk Maura. Meskipun sedang mengandung, tak membuat Jiana malas-malasan untuk melakukan aktivitas selagi itu masih dalam batas wajar. Walaupun suaminya sering menasehatinya agar banyak istirahat.


Bukan keras kepala, namun Jiana tidak ingin menjadi manja jika ia bisa melakukannya. Meskipun kandungannya masih memasuki bulan kedua, dan itu harus ekstra hati-hati dalam beraktivitas, tak membuatnya berhenti mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jiana lebih semangat lagi melayani suaminya mulai memasak makanan untuknya hingga menyiapkan keperluannya.


"Maura sayang, bangun yuk," ucap Jiana sambil menarik selimut dari tubuh Maura. Ia merapikannya dan duduk di tepi ranjang. Gadis kecil itu menggeliat kecil. Maura tersenyum kala melihat Jiana sudah berada di dekatnya.


"Pagi bunda," ucap Maura dan berusaha untuk duduk.


"Pagi sayang. Ayo, Maura segera mandi gih," ucap Jiana.


"Maura mau mandi sendiri boleh?" tanya Maura. Jiana berpikir sejenak. Ia tersenyum lalu mengangguk tipis. Maura segera turun dari tempat tidur. Ia menuju ke kamar mandi untuk mandi tanpa bantuan Jiana.


Jiana menunggu Maura selesai mandi sambil merapikan tempat tidur putrinya itu. Beberapa saat kemudian, Maura membuka pintunya dan keluar.


"Sudah selesai?" tanya Jiana. Maura mengangguk. Jiana membantu Maura untuk memakai seragamnya.


"Yeay.. Putri bunda sudah cantik," ucap Jiana sambil mencubit kecil pipi Maura dengan gemas.


"Bunda juga cantik," balas Maura lalu mencium pipi kanan Jiana. Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Jiana membawa Maura menuju ruang makan. Mengambilkannya sarapan, setelah itu menuju ke kamarnya untuk membangunkan suaminya.


Sampai di kamar, ternyata suaminya sudah selesai bersiap. Jiana tersenyum sambil berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa.


"Kamu jangan capek-capek. Istirahat saja sayang," ucap Raka setelah selesai memakai sepatunya.


"Nggak apa-apa mas, kalau capek aku akan istirahat kok. Jangan khawatir berlebihan ya," balas Jiana. Raka menatap istrinya lalu mencubit hidungnya dengan gemas.


"Baiklah tuan putriku..." goda Raka. Jiana memukul lengan suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju meja makan.


***


"Sayang, tumbuhlah dengan baik di perut bunda ya," gumam Jiana sambil mengusap perutnya. Tanpa sadar, mobilnya sudah sampai di depan sekolah Maura.


"Nyonya, kita sudah sampai," ucap Mang Udin. Lalu ia turun dan membukakan pintu untuk Jiana.


"Terima kasih ya Mang," ujar Jiana. Mang Udin mengangguk sambil tersenyum tipis.


Maura berlari menuju arahnya. Ternyata gadis kecil itu sudah menunggu kedatangan Jiana. Jiana berjongkok untuk menciumi pipi Maura.


"Ayo sayang kita pulang," ucap Jiana. Maura mengangguk. Mereka memasuki mobil kembali.

__ADS_1


"Mang, nanti mampir ke mall sebentar ya," ucap Jiana. Mang Udin mengangguk dan segera melajukan mobilnya kembali.


Di dalam mobil, Maura asik bercerita mengenai aktivitasnya selama di sekolah. Jiana menjadi pendengar setianya. Mobil mereka melaju dengan santai. Hingga sampailah di salah satu mall terdekat dari sekolah Maura.


"Nyonya, biar saya temani Anda," ucap Mang Udin setelah Jiana keluar dari mobilnya.


"Tidak usah Mang. Jiana sama Maura saja. Hanya sebentar kok," balas Jiana. Mang Udin pasrah dan memilih menunggu mereka di mobil.


Maura terlihat begitu senang diajak ke mall. Entah kenapa hari ini Jiana ingin ke mall dan makan sesuatu di sana. Ia sengaja tidak memberitahu suaminya karena takut tidak mendapat izin darinya. Hingga langkahnya terhenti di kedai es krim yang lumayan ramai. Jiana bahkan rela mengantri hanya untuk bisa memakan es krim itu.


"Maura capek tidak?" tanya Jiana. Karena saat ini mereka tengah berdiri untuk memesan es krim. Maura menggeleng pelan. Setelah mendapatkan pesanannya, Jiana memilih tempat untuk duduk sambil menikmati es krim itu. Begitu juga dengan Maura. Mereka terlihat begitu bahagia.


Selesai makan es krim, Maura ingin bermain sebentar di area permainan. Jiana mengiyakan keinginan putrinya dan mereka berjalan menuju tempat permainan. Cukup lama Maura bermain di sana.


Satu jam kemudian, mereka baru keluar mall dengan beberapa tas belanjaan ditangan Jiana.


"Ahh," eluh Jiana sambil memegangi perutnya. Ia terlihat kesakitan.


"Bunda kenapa?" tanya Maura khawatir. Jiana tersenyum tipis.


"Tidak apa-apa sayang. Bunda hanya lelah. Ayo, segera ke mobil dan pulang," jawab Jiana. Ia berjalan sedikit pelan. Beberapa kali mengusap perutnya.

__ADS_1


__ADS_2