
"Eh, apa yang kamu lakukan? Turunin aku Raka," ujar Jiana dan memukul-mukul dada suaminya. Namun Raka tidak menghiraukannya.
Raka melempar Jiana ke kasurnya. Ia segera menindih Jiana dan mengunci pergerakannya. Matanya menatap wajah Jiana dengan lekat. Tangannya bergerak membelai pipi Jiana dengan pelan. Raka terus memerhatikan wajah istrinya yang kini pipinya sudah memerah karena gugup dan malu.
Jiana memalingkan wajahnya. Ia menjadi salah tingkah saat suaminya menatapnya begitu intens. Ia bahkan bisa merasakan deru napas suaminya yang teratur, menerpa wajahnya.
"Sayang," ucap Raka lirih. Jiana menatap Raka sejenak.
"Ada apa?" tanya Jiana dan kembali memalingkan wajahnya.
"I love you," ucap Raka. Ia masih memerhatikan perubahan raut wajah Jiana.
Seketika jantung Jiana berdebar kencang. Ada getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jiana semakin gugup. Ia bahkan sampai menggigit bibir bagian bawahnya.
"I love you sayang," bisik Raka tepat di samping telinga Jiana. Raka tersenyum tipis dan mengecup telinga Jiana sekilas.
__ADS_1
Jiana semakin gugup dan salah tingkah. Dirinya benar-benar bingung. Sepertinya Raka menunggu jawaban darinya. Tetapi lidahnya serasa kaku untuk mengatakan hal yang sama. Jiana masih belum yakin jika ia benar-benar jatuh cinta pada suaminya.
"Kalau nggak mau balas juga nggak apa-apa. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu yakin bahwa kamu juga mencintaiku sayang. Aku akan selalu menunggu ungkapan cinta darimu," ucap Raka sambil membelai pipi Jiana.
"Maaf Raka, aku belum yakin dengan perasaanku sendiri. Kamu jangan marah ya," ujar Jiana. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Memang akhir-akhir ini ia merasa nyaman berada di dekat Raka. Jantungnya berdebar dua kali lipat saat Raka menyentuhnya seperti ini. Tetapi ia belum bisa mengakui jika ia sudah jatuh cinta pada suaminya ini.
"Sama sekali tidak. Masih ada banyak waktu untuk membuatmu jatuh cinta," ucap Raka. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia mencium bibir Jiana. Melumatnya pelan dan semakin kasar. Jiana juga tidak bisa mengelak. Ia membalas ciuman itu.
Semakin memburu dan napas mereka semakin beradu. Tubuh Jiana semakin memanas. Raka semakin melancarkan aksinya.
"Jangan lupa jika aku masih datang bulan," ucap Jiana. Raka mengernyitkan dahinya.
"Bukankah ini sudah lewat satu minggu?" tanya Raka tak percaya.
"Iya terus kenapa? Memang belum selesai kok," jawab Jiana.
__ADS_1
Raka memejamkan matanya sejenak. Mengontrol emosinya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Raka dan ia bangkit dari tubuh Jiana. Raka duduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
"Maaf, siapa yang tahu kamu begitu bernafsu," jawab Jiana. Ia duduk sambil menatap Raka. Sebenarnya ia tak tega. Namun ia tidak ingin berhubungan dengan suaminya saat ini.
"Maaf Raka, aku berbohong padamu," batin Jiana.
Raka menoleh dan merengkuh tubuh Jiana. Ia memeluknya dengan erat dan menciumi puncak kepala Jiana.
"Baiklah tidak apa-apa," ucap Raka. Ia menyatukan keningnya dan kening istrinya. Raka kembali mencium bibir istrinya itu. Kini ia lakukan dengan sangat lembut.
Raka mendorong tubuh Jiana hingga terbaring di kasur. Raka kembali memeluk Jiana dan menyembunyikan wajahnya di leher Jiana.
"Biarkan seperti ini untuk sesaat saja," ucap Raka. Ia mengecup sekilas leher Jiana. Jiana mengangguk. Ia membelai rambut suaminya dengan lembut.
__ADS_1