Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 66


__ADS_3

Dua hari berlalu.


Setelah ribut dengan suaminya perihal bulan madu mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk berlibur ke puncak. Sebenarnya Raka ingin liburan ke luar negeri namun Jiana tidak ingin pergi terlalu jauh. Alhasil, mereka memutuskan untuk liburan ke puncak yang terletak di daerah Bogor.


Nuansa pegunungan dan kebun teh yang menyejukkan mata, mungkin bisa menenangkan pikiran mereka. Pagi sekali mereka segera berangkat ke sana. Raka sengaja meliburkan diri dan menyerahkan tugas kantornya pada asisten serta sekretarisnya. Mereka sepakat untuk berada di sana sekitar satu minggu.


Pagi ini mereka dalam perjalanan menuju puncak. Mereka diantar oleh pak Rio, sopir keluarga Alex. Jiana merasa senang, ini pertama kalinya bagi mereka berlibur bersama. Raka dan Jiana duduk di kursi belakang kemudi. Jiana menyandarkan badannya pada tubuh Raka.


"Apa kamu senang sayang?" tanya Raka. Ia melirik Jiana sekilas lalu mencium puncak kepalanya.


"Iya, terima kasih ya," jawab Jiana. Raka tersenyum tipis.


Perjalanan kali ini tidak terlalu ramai. Jalan yang mereka lalui juga cukup lancar. Sehingga setelah menempuh perjalanan beberapa jam mereka sampai di salah satu villa yang tak jauh dari sana. Vila itu sengaja Raka siapkan untuk mereka berdua.


Jiana turun dari mobilnya diikuti oleh Raka. Pak Rio membantu memasukkan koper ke dalam villa tersebut.


Setelah sampai, Jiana langsung menjatuhkan dirinya ke sofa ruang tamu. Ia merasa sangat lelah. Padahal tadi pagi ia baik-baik saja. Pak Rio membawakan koper tersebut sampai ke dalam kamar mereka.


"Pak Rio, terima kasih banyak sudah mengantar kami," ucap Raka.

__ADS_1


"Sama-sama tuan muda, saya permisi dulu," ujar pak Rio. Raka mengangguk. Ia ikut duduk di samping Jiana.


"Sayang, kenapa? Kamu sakit?" tanya Raka yang menyadari wajah Jiana terlihat pucat. Ia menempelkan punggung tangannya pada dahi istrinya.


"Sepertinya begitu. Tiba-tiba aku tidak enak badan," jawab Jiana. Raka langsung mengangkat tubuh Jiana menuju ke kamar mereka. Ia merebahkan Jiana di atas kasur dengan pelan.


"Istirahatlah sebentar, aku akan buatkan minuman hangat untukmu," bisik Raka. Jiana hanya mengangguk tipis. Raka mengecup kening Jiana sekilas lalu segera menuju ke dapur.


Raka segera menyiapkan teh hangat untuk istrinya. Mungkin saja karena Jiana kelelahan setelah menempuh perjalanan tadi. Setelah siap, ia segera menuju ke kamar kembali. Sesampainya di kamar, Raka melihat Jiana yang tertidur pulas. Ia tidak tega untuk membangunkan istrinya. Perlahan Raka meletakkan secangkir teh hangat itu di atas nakas. Lalu ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Jiana yang polos saat tertidur. Raka menyelimuti Jiana dan mengusap pipinya dengan lembut. Lalu ia beralih untuk menata baju-baju mereka ke dalam lemari sambil menunggu Jiana bangun.


***


Jiana menggeliat kecil. Ia perlahan membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya. Bukannya membaik, ia merasa semakin memburuk. Kepalanya terasa pening dan badannya mulai panas. Jiana enggan beranjak dari tempat tidurnya. Ia berbaring ke kanan dan melanjutkan tidurnya.


Setelah beberapa menit kemudian, makanan sudah tersaji di meja makan. Ia segera menuju ke kamarnya untuk memanggil Jiana. Karena sejak tadi siang tiba di sini, Jiana belum makan apapun. Dan lagi, saat ini kondisinya sedang tidak stabil.


"Sayang, bangun yuk," ucap Raka dengan lembut. Ia sedikit membuka selimut Jiana. Jiana hanya membuka matanya sekejap lalu beralih membelakangi suaminya.


"Kenapa? Masih capek?" tanya Raka. Ia mengusap puncak kepala Jiana dan terkejut dengan suhu badan istrinya itu. Jiana demam tinggi. Ia membalikkan tubuh istrinya dan memeriksa area kening.

__ADS_1


"Astaga sayang, badan kamu panas sekali... Kalau tahu begini kita tidak usah liburan saja," ucap Raka merasa menyesal telah membawa Jiana berlibur. Jiana hanya tersenyum tipis.


"Mungkin hanya kelelahan saja. Besok juga sembuh kok," balas Jiana.


"Ya sudah, makan dulu baru tidur lagi nanti. Kamu juga harus makan agar cepat sembuh," ucap Raka. Jiana mengangguk. Ia beralih untuk duduk bersandar di ranjangnya. Raka menuju dapur kembali dan menyiapkan makan untuk istrinya. Setelah itu, ia kembali lagi ke kamarnya.


Raka menyuapi Jiana dengan penuh perhatian. Untungnya Jiana masih berselera untuk makan. Raka tak terlalu khawatir dengan kondisi istrinya saat ini.


Padahal, mereka sudah merencanakan dengan matang hal apa saja yang akan mereka lakukan saat tiba di puncak. Namun kenyataan berkata lain, Jiana harus istirahat di kamarnya terlebih dahulu karena kondisinya yang sedang sakit. Raka tak menyesali jika mereka harus beristirahat sejenak hingga Jiana merasa baikan. Yang lebih ia sesali, seandainya ia tahu istrinya akan jatuh sakit seperti ini, ia akan membatalkan acara liburannya. Bagaimanapun kesehatan Jiana adalah hal yang utama.


"Aku panggil pak Rio sebentar untuk membelikan obat ya, kamu tidur saja lagi," ucap Raka. Ia mengusap puncak kepala Jiana dengan lembut.


"Mas, maaf ya... Aku menyusahkanmu lagi," ujar Jiana merasa bersalah. Raka yang sudah berdiri kini langsung duduk di samping Jiana. Ia memeluk istrinya dengan erat.


"Jangan pernah berkata seperti itu sayang... Aku justru yang harusnya minta maaf sama kamu. Aku membuatmu jadi sakit seperti ini," ucap Raka. Kemudian ia melepas pelukan itu.


"Aku belikan obat untukmu dulu," ujar Raka. Jiana mengangguk tipis dan kembali berbaring di atas ranjangnya. Raka keluar dari villa ditemani oleh pak Rio untuk membelikan obat agar Jiana cepat sembuh.


Sepuluh menit kemudian, Raka kembali lagi dengan membawakan obat untuk Jiana. Ia juga membeli beberapa makanan padahal di villanya masih banyak makanan. Raka membangunkan istrinya agar segera minum obat tersebut. Jiana menurut begitu saja dan segera meminum obat tersebut lalu lanjut untuk beristirahat.

__ADS_1


Hingga menjelang malam, Raka terus menemani istrinya di sampingnya. Raka duduk di tepi ranjang dan bersandar pada ranjang sambil mengompres dahi Jiana. Berharap demamnya segera turun dan Jiana bisa sembuh seperti biasanya. Ia bahkan sampai lupa jika dirinya sendiri belum makan dari tadi siang. Karena merasa lelah, ia tertidur dengan posisi yang masih sama seperti awal. Dengan tangannya yang memeluk Jiana.


__ADS_2