Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 87


__ADS_3

"Mama mau bicara sama kamu Jiana," ucap mama Mira setelah selesai makan siang. Jiana tersenyum, lalu memanggil bi Lastri agar mengasuh Maura terlebih dahulu. Kemudian, Jiana dan mama Mira menuju ke ruang tengah.


"Mama mau bicara apa ya?" tanya Jiana penasaran.


"Kamu bertemu sama anak kecil itu di mana? Kok bisa-bisanya membawanya ke rumah ini?" tanya mama Mira tanpa basa-basi. Jiana menunduk. Ia meremas jemarinya pelan.


"Kami akan mengadopsi Maura Ma. Mas Raka juga setuju akan hal ini," balas Jiana. Mama Mira mengernyitkan dahinya. Ia menatap tajam ke arah Jiana.


"Mengadopsi? Mama tidak setuju ya kalau kalian mengadopsi anak itu. Kalian kan bisa memulai program lagi. Kenapa harus mengadopsi anak segala sih? Heran sama kalian," ucap mama Mira dengan kesal. Jiana hanya menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap mertuanya itu.


"Pokoknya mama tidak akan setuju mengenai hal ini. Panggil Raka untuk pulang sekarang juga. Mama perlu bicara padanya!" tegas mama Mira. Bukan tak ingin, memang ponsel Raka sulit dihubungi sedari tadi. Jiana mengangguk pelan tanpa berkata apapun. Ia mengambil ponselnya dan menelepon suaminya. Jiana sedikit menjauh dari tempatnya.


Karena masih belum bisa menghubungi suaminya, ia menelepon Farrel sang asisten. Dua kali panggilan akhirnya terjawab juga. Hari ini Raka sedang ada pertemuan yang sempat tertunda waktu itu. Itu sebabnya, ia sengaja mematikan ponselnya agar lebih fokus membahas kerjasamanya. Setelah berhasil menghubungi suaminya, Jiana kembali lagi menemui mertuanya.


Beberapa saat kemudian, Raka berjalan dengan tergesa untuk menemui mamanya. Sepanjang perjalanan tadi ia sudah tak fokus. Pikirannya tertuju pada ibu dan istrinya.


"Ma, ada apa?" tanya Raka sambil mengatur ritme napasnya. Ia kini sudah duduk di sebelah kiri istrinya.

__ADS_1


"Kenapa tidak cerita dulu sama mama? Mama terus terang saja, mama tidak setuju kalian mengadopsi anak itu," kekeh mama Mira. Raka menghela napasnya sejenak. Ia memejamkan matanya dan sudah menduga bahwa mamanya tidak akan setuju dengan keputusan ini.


Untungnya, bi Lastri membawa Maura ke taman belakang. Sehingga tak mendengar pertengkaran ini.


"Ma, inilah keputusan kami. Raka juga sudah mengurus prosedurnya. Mulai hari ini Maura menjadi anak angkat Raka dan Jiana," ucap Raka pelan karena tak ingin bertengkar dengan mamanya.


"Tapi Raka,"


"Sudahlah Ma, jangan membesarkan masalah. Tolong hargai keputusan kami," pinta Raka. Mama Mira menatap tajam ke arah anak dan menantunya. Tanpa bicara satu patah kata pun, mama Mira segera pergi dari sana.


"Ma, tunggu," ucap Jiana dan ingin mengejar mertuanya. Namun Raka menahannya dan membiarkan mamanya pergi dari rumahnya.


"Mas, geli ah,"


"Kangen," gumam Raka. Raka menarik tangan Jiana agar mengikutinya menuju kamar. Sesampainya di kamar, Raka langsung menerkam Jiana dan menghujaninya dengan kecupan. Jiana menerima setiap perlakuan suaminya itu.


"Semalam karena ada Maura aku harus menahannya," ucap Raka setelah berhasil melucuti pakaiannya dan istrinya. Mereka saling memandang wajah satu sama lain dan tergurat senyum meskipun hanya tipis.

__ADS_1


Pukul 16.00 Jiana bangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah suaminya yang sedang terlelap karena kelelahan. Ia mengecup kening Raka sekilas sebelum meninggalkannya menuju kamar mandi untuk bersih diri.


"Hah, jadi lupa sama Maura kan," gumam Jiana setelah selesai mandi. Ia keluar kamar untuk menemui Maura yang kini menjadi putri angkatnya.


Raka terbangun kala mendengar sayup-sayup suara Jiana dan Maura sedang bermain. Ia melirik jam yang ada di nakas. Pukul 16.35, dengan malas ia beralih duduk dan bersandar. Ternyata cukup lama ia tertidur setelah pergulatan dengan istrinya siang tadi. Ia segera menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya kembali.


"Mas, sudah bangun?" ucap Jiana kala melihat suaminya menuruni tangga. Raka tersenyum sambil mengangguk. Ia segera menghampiri mereka.


"Main apa sih, seneng banget," ucap Raka.


"Main banyak sama tante,"


Raka mengernyitkan dahinya kala menyadari ada yang salah dengan perkataan gadis kecil itu.


"Maura, mulai hari ini panggilnya bunda sama papa ya. Maura mau kan?" ujar Raka. Maura menatap Jiana lalu disambut anggukan oleh Jiana.


"Bunda? Papa?" ucap Maura sambil menatap mereka dengan bergantian. Mendengar hal itu, mereka tersenyum bahagia terutama Jiana. Ia sampai meneteskan air matanya karena terlalu senangnya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, telah hadir dalam kehidupan kami," Jiana merengkuh tubuh gadis mungil itu dan menghujaninya dengan ciuman. Lalu ia memeluknya dengan erat.


__ADS_2