Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 94


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Kini, usia kandungan Jiana memasuki bulan kelima. Semenjak kejadian waktu itu, Jiana jadi lebih berhati-hati lagi dan sebagian besar menyerahkan tugasnya untuk mengurus Maura kepada bi Lastri.


Kehamilan pertamanya, tentu saja harus ekstra hati-hati dan waspada. Setelah menantikannya begitu lama dan sempat hampir putus asa, kini Jiana maupun Raka akan menjaga calon buah hatinya dengan baik.


Siang ini, jadwal Jiana untuk memeriksakan kandungannya sekaligus ingin tahu jenis kelamin buah hatinya. Apapun nanti, laki-laki maupun perempuan tak menjadi masalah besar bagi mereka. Yang terpenting, Jiana dan calon bayinya sehat.


Saat ini, mereka sudah berada di mobil dan melaju menuju rumah sakit. Sekalian nanti menjemput Maura dari sekolahnya sehabis pemeriksaan.


Jiana duduk di samping Raka yang tengah mengemudikan mobilnya. Ia bersandar di bahu Raka sambil sesekali mengusap perutnya yang sudah lumayan membesar itu.


"Mas, nanti kalau habis lahiran aku jadi jelek gimana?" tanya Jiana khawatir. Raka seketika tertawa mendengar pertanyaan istrinya.


"Kamu ini aneh, jelek dari mananya coba? Justru tambah seksi tahu," balas Raka sambil terkekeh. Ia melirik Jiana sekilas.


"Aku serius mas," ujar Jiana lalu mengerucutkan bibirnya.


"Iya juga ya. Nanti kalau kamu jelek, mas gimana?" goda Raka. Jiana langsung menatap suaminya dengan tajam.


"Tuhkan...!" ujar Jiana sambil memukul lengan suaminya. Raka tak menghindar. Ia justru tertawa melihat tingkah istrinya.


"Eh, sayang. Dengarkan mas ya. Meskipun nanti kamu bakal gemuk atau enggak, mas nggak akan mempermasalahkan itu kok. Jadi, jangan mikir yang berlebihan ya," tutur Raka. Ia mengecup puncak kepala Jiana sekilas.


"Bohong! Pasti nanti bakal lirik sana-sini kan? Cari wanita yang lebih cantik lagi. Iya kan?" Jiana semakin menjadi.


"Awas aja ya kalau sampai kamu cari wanita lain di luar sana aku bakal minta cerai saat itu juga!"

__ADS_1


Ciiiittt....


Raka langsung mengerem mendadak. Jiana yang terkejut langsung terdiam sambil menetralisir jantungnya yang berdegub kencang. Raka menatap Jiana dan memegang pundaknya.


"Apa yang kamu bicarakan? Hmm?" tanya Raka melembut.


"Aku kan hanya bicara kemungkinan yang bisa terjadi nanti," balas Jiana dan matanya menghindari tatapan suaminya. Raka meraih tubuh istrinya dan memeluknya. Ia mengusap kepala Jiana dengan lembut.


"Kamu tidak percaya kepadaku?" tanya Raka. Jiana mendongak menatap suaminya.


"Siapa bilang?" Jiana bertanya balik.


"Itu tadi apa? Kamu meragukan suami kamu sendiri loh," ujar Raka. Lalu ia melepas pelukan itu dan kembali melajukan mobilnya.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Baik Raka maupun Jiana sama-sama terdiam. Hingga mobil mereka berhenti di parkiran rumah sakit.


Raka langsung keluar dan membantu membukakan pintu untuk istrinya. Mereka langsung menuju ruangan dokter Faye untuk melakukan pemeriksaan.


"Alhamdulillah, janinnya tumbuh dengan sehat," ucap dokter Faye sambil menatap layar USG.


"Lalu, anak kami laki-laki atau perempuan dok?" tanya Raka.


"Dari yang kalian lihat, jenis kelaminnya perkiraan adalah perempuan," jawab dokter Faye.


Setelah selesai USG, Jiana menyelesaikan beberapa pemeriksaan lagi. Raka menunggu istrinya dengan sabar.


"Terima kasih dokter, kalau begitu kami permisi," ujar Raka setelah Jiana menyelesaikan pemeriksaannya.

__ADS_1


Setelah keluar ruangan, mereka kembali terdiam. Memilih untuk bungkam hingga sampai kembali di parkiran mobil.


Jiana tahu jika suaminya sedang marah padanya. Mungkin pertanyaan Jiana tadi terlalu membuat suaminya tak nyaman. Sebenarnya bukan ia tak percaya pada suaminya, tetapi ia hanya ingin memastikan kembali agar dirinya juga lega setelah mendengarnya dari suaminya.


"Mas, kita jadi menjemput Maura?" tanya Jiana sambil mengenakan sabuk pengaman.


"Iya," jawab Raka singkat. Ia melajukan mobilnya menuju sekolah Maura. Suasana hening kembali.


Kini mereka sudah sampai di depan sekolah Maura. Jiana maupun Raka langsung keluar dari mobil.


"Bunda, papa," ucap Maura setelah sampai di depan mereka.


"Ayo, kita langsung pulang. Kasihan bunda capek," ucap Raka lalu menggendong putrinya. Maura duduk di jok belakang sedangkan Jiana dan Raka di depan.


***


"Mas, kamu marah sama aku?" tanya Jiana saat mereka sudah sampai di rumah. Kini Maura menuju kamarnya dengan didampingi oleh bi Lastri.


"Tidak," jawab Raka singkat. Ia berjalan menuju kamarnya. Jiana mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di kamar, Jiana langsung memeluk suaminya dari belakang. Ia tak peduli jika Raka akan menolak pelukannya nanti. Raka tersenyum tipis. Ia sengaja mendiamkan istrinya agar tidak mengulangi kesalahannya lagi.


"Ada apa?" tanya Raka dengan datar.


"Kangen," balas Jiana pelan. Raka mengernyitkan dahinya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya.


"Yakin?"

__ADS_1


Jiana mengangguk. Ia kembali memeluk suaminya dengan erat. Menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Raka menangkup wajah istrinya dan mengecup bibirnya dengan lembut. Ia memandangi wajah istrinya dan membelainya. Raka menggendong Jiana dan menurunkannya di ranjang dengan pelan. Bibirnya kembali mengecup bibir istrinya. Dan kini mereka kembali menyatukan hasrat mereka dan tentunya Raka melakukannya dengan hati-hati.


__ADS_2