
Jiana menghampiri Raka dan menariknya sedikit menjauh dari bi Lastri. Ia mendekatkan tubuhnya agar pembicaraannya tak terdengar oleh bi Lastri.
"Raka, bukankah tadi malam aku sudah bilang tidak perlu pembantu. Aku bisa melakukannya sendiri," bisik Jiana. Raka hanya tersenyum.
"Kita bicarakan ini di kamar," jawab Raka. Ia menghampiri bi Lastri. Raka menyuruh bi Lastri untuk menaruh barang-barangnya di kamar yang sudah disediakan dan bisa memulai kerjanya hari ini.
Setelah itu, Raka menarik Jiana menuju kamar mereka. Raka menutup pintunya rapat agar bi Lastri tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat atau yang terlalu melelahkanmu sayang," ujar Raka.
"Kenapa? Bukankah setiap hari aku juga melakukan aktivitas itu?" tanya Jiana bingung.
"Karena aku tidak mau tuan putriku yang manja ini kelelahan," jawab Raka santai.
"Jangan bercanda! Aku serius Raka!" ucap Jiana kesal. Raka tersenyum. Ia mendekati Jiana.
"Apa kamu tidak menginginkan kehadiran seorang bayi? Kalau kamu terlalu fokus dengan pekerjaanmu, kapan kita punya waktu berduaan," ucap Raka lembut.
"Hah? Secepat itu? Aku masih ingin kerja, lagipula aku juga belum lulus kuliah," ucap Jiana.
"Cepat atau lambat kamu juga akan hamil kan? Aku tidak mau ya kalau kamu kerja nantinya. Kamu hanya boleh fokus menjadi ibu rumah tangga yang baik saja," ujar Raka.
"Tapi, aku boleh bekerjakan untuk saat ini?" tanya Jiana hati-hati.
Raka terdiam sejenak. Kerjaan di kantornya juga tidak terlalu melelahkan. Nanti Raka akan mengatur kembali pekerjaan untuk Jiana agar lebih ringan lagi.
"Boleh, tapi jangan terlalu lelah ya," balas Raka. Ia tersenyum dan mencium kening Jiana sekilas.
Setelah itu, Raka dan Jiana bersiap untuk ke kantor. Hari ini Raka memberitahu Jiana perihal Sarah yang ingin bekerja di kantornya. Ia menyetujui permintaan Jiana semalam.
Setelah sarapan, mereka langsung bergegas menuju kantor. Raka melajukan mobilnya dengan santai.
"Sayang, apa sebaiknya kita umumkan perihal kita sudah menikah kepada karyawan kantor? Aku tidak mau ada laki-laki lain yang mencoba mendekatimu ya," tutur Raka. Ia melirik Jiana sekilas yang sedang duduk di sampingnya.
"Jangan! Aku tidak mau dihormati hanya karena aku istrimu ya," jawab Jiana tegas. Raka hanya bisa menghela napasnya pelan.
__ADS_1
Seperti biasa, Jiana meminta turun di halte dekat kantornya. Meskipun Raka sudah menolaknya beberapa kali, Jiana masih kekeh untuk turun di halte tersebut.
Kini, Jiana sudah turun dari mobil. Ia berjalan dengan santai karena ini masih terlalu pagi untuknya pergi ke kantor. Ia tadi juga sudah mengirimkan pesan kepada Sarah bahwa hari ini Sarah bisa bekerja satu kantor dengan Jiana.
"Kok jalan kaki. Dicampakkan sama pak Raka ya?" Suara Sandra memecah keheningan. Jiana yang sudah sampai di lobi hanya menghentikan langkahnya sejenak. Ia memutar bola matanya dengan malas.
Sandra menghampiri Jiana. Ia memandang sinis ke arah Jiana.
"Bisa nggak sih gausah ganggu satu hari saja?" tanya Jiana jengah.
"Nggak bisa! Selagi kamu menjadi sainganku untuk mendapatkan pak Raka, aku akan terus mengganggumu!" tegas Sandra. Ia menyenggol lengan Jiana dengan kasar hingga Jiana sedikit oleng. Sandra menuju lift lebih dulu.
Jiana hanya bisa menahan tawanya. Sandra belum mengetahui bahwa orang yang ia ganggu setiap hari adalah istri dari bosnya sendiri.
"Bagaimana reaksinya kalau sampai tahu aku adalah istri Raka Sanjaya ya? Hehe, pasti bakal kaget banget," batin Jiana terkikik.
Ia menuju meja kerjanya sambil menunggu kedatangan Sarah. Sarah datang dan Jiana segera membawanya ke ruangan HRD. Atas perintah Raka, Sarah sekarang satu devisi dengan Jiana. Kini mereka sudah kembali dan mulai bekerja.
Tanpa terasa saatnya jam makan siang. Jiana ingin makan siang bareng Sarah. Sudah lama dirinya tidak makan bersama dengan sahabatnya itu. Namun sebelum itu, ia meminta izin kepada Raka. Untungnya Raka memberinya izin.
"Ji, apa semua karyawan tidak mengetahui bahwa pak Raka sudah beristri?" tanya Sarah penasaran. Karena tak sedikit yang membicarakan ketampanan Raka, bosnya itu.
Jiana hanya menggeleng pelan. Mereka juga jarang terlihat bersama. Jiana dan Raka selalu profesional dalam hal pekerjaan.
"Pantas saja mereka selalu mengidamkan pak Raka sebegitunya. Aku jadi ingin tahu bagaimana reaksi mereka nanti saat tahu jika pak Raka sudah menikah," tutur Sarah. Ia sedikit berbisik. Jiana hanya tertawa lepas.
"Sudahlah, kita habiskan makanan ini dulu lalu mengobrol lagi," ujar Jiana.
Tanpa terduga, Sandra mendengar pembicaraan mereka.
"Apa benar, jika pak Raka sudah menikah? Tapi bagaimana bisa? Di kantor juga tidak ada yang heboh begitu," batin Sandra bingung.
Selesai makan siang, Jiana dan Sarah menuju ruangannya kembali. Saat ingin masuk ke dalam ruangan, Sandra sudah berdiri di depan pintu dan melipat tangannya ke depan dadanya. Ia bersandar pada pintu tersebut.
"Sandra, apa yang kamu lakukan?" tanya Jiana. Jiana dan Sarah berjalan mendekati Sandra.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana kalau pak Raka sudah menikah?" tanya Sandra tanpa basa-basi.
Jiana dan Sarah saling bertukar pandang.
"Kenapa? Kecewa ya?" tanya Jiana balik. Kemudian ia tertawa sinis. Sarah hanya mengernyitkan dahinya.
"Bukan urusan kamu! Aku tanya sekali lagi, dari mana kamu tahu pak Raka sudah menikah?" ujar Sandra. Jiana menghela napasnya pelan. Ia tidak menjawab dan justru masuk ke ruangannya diikuti dengan Sarah.
"Awas aja ya kamu!" batin Sandra geram. Ia kembali ke ruangannya sendiri.
"Ji, siapa tadi?" tanya Sarah bingung.
"Dia Sandra. Penggemar Raka," jawab Jiana santai.
"Apa? Kenapa kamu juga begitu santai? Bagaimana jika pak Raka digoda olehnya?" tanya Sarah panik.
"Tidak akan. Kamu tahu sendirikan Raka itu bagaimana orangnya. Sudahlah, ayo lanjut bekerja," ucap Jiana. Mereka melanjutkan pekerjaannya lagi.
Tanpa terasa waktu sudah semakin sore. Sudah waktunya untuk pulang. Jiana dan Sarah keluar kantor bersama. Namun setelah sampai di depan kantor, Sarah pamit untuk pulang terlebih dahulu. Jiana berjalan sendiri menuju halte. Setelah sebelumnya ia mengirim pesan kepada Raka.
Tak lama kemudian, mobil Raka sudah terparkir di depan Jiana. Kali ini bukan Raka yang menyetirnya melainkan Farrel asisten Raka.
Jiana segera masuk ke mobil dan duduk di samping Raka. Farrel kembali melajukan mobilnya.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Raka.
"Lancar. Bagaimana denganmu?" tanya Jiana balik.
"Kacau," jawab Raka singkat.
"Hah? Maksudnya?" tanya Jiana terkejut.
"Iya kacau. Karena kamu tidak ke ruanganku seharian ini. Aku jadi merindukanmu dan pekerjaanku jadi kacau karena itu," balas Raka santai.
"Haizz.. Jangan bercanda Raka!" ucap Jiana. Tanpa ia sadari pipinya memerah.
__ADS_1
Raka mendekatkan dirinya. Ia merengkuh Jiana dan mengecup pipi Jiana sekilas. Raka tersenyum tipis lalu meraup bibir mungil milik istrinya itu.