
"Mengadopsi anak?" tanya Jiana sambil menatap mamanya. Ia mengernyitkan dahinya. Menatap mamanya dengan bingung. Bu Desi tersenyum manis sambil membelai rambut putrinya.
"Yah, kenapa tidak?" ujar bu Desi.
"Tapi, aku tidak punya pengalaman mengurus anak-anak. Sebenarnya aku juga takut jika tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kami nanti," gumam Jiana.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Kamu sabar saja sayang, pasti suatu saat nanti Tuhan akan memberikan kepercayaan kepada kalian lagi," ujar bu Desi mencoba menenangkan putrinya. Jiana mengangguk tipis.
***
Sore harinya, Jiana selesai mandi dan kini ia sedang berada di balkon kamarnya. Menghirup udara segar dari teras kamarnya itu. Sudah lama sekali ia tidak menempati kamar yang dulunya menjadi tempat ternyamannya saat di rumah. Tak ada yang berubah sedikitpun. Setiap sudut dan tatanan dari kamar tersebut tetap sama seperti waktu dulu.
Jiana memejamkan matanya sambil menghirup udara dengan tenangnya. Melupakan sejenak masalah dalam dirinya. Pikirannya terfokus pada perkataan mamanya siang tadi. Akankah ia mengadopsi anak seperti saran dari mamanya? Atau ia akan bersabar menunggu kebahagiaan itu datang suatu saat nanti. Namun, untuk saat ini ia masih ragu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Perkataan tersebut membuat Jiana terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba Raka memeluknya dari belakang dan mengucapkannya dengan lembut di telinga Jiana.
"Mas, kapan kamu pulang?" tanya Jiana yang mengabaikan pertanyaan suaminya. Ia sedikit menoleh ke arah suaminya. Raka hanya tersenyum.
"Aku sudah di kamarmu selama 30 menit, tapi kamu bahkan tidak menyadari kehadiranku," ujar Raka.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi aku tidak mendengar suara pintu terbuka," ucap Jiana sambil mengernyitkan dahinya.
"Makanya, jangan melamun saja," ujar Raka. Ia membalikkan tubuh istrinya agar menghadap padanya. Jiana hanya menampilkan senyuman termanisnya. Bahkan saat ini Raka baru saja selesai mandi. Dan itu menandakan bahwa Raka sudah berada di kamar Jiana sejak 30 menit yang lalu. Raka membawa Jiana masuk ke dalam kamar.
"Mas, kamu sudah makan?" tanya Jiana. Raka hanya menggeleng pelan.
"Mau pulang jam berapa?" tanya Raka.
"Bagaimana kalau setelah makan malam nanti?" ujar Jiana dan dijawab anggukan saja oleh Raka.
Mereka keluar kamar lalu menuju ke ruang tengah. Di sana ada Alex, papa Jiana yang kebetulan sedang bersantai sambil menikmati kopinya. Jiana memilih untuk membantu mamanya menyiapkan makan malam.
***
"Ma, Pa, setelah ini kami mau pulang," ujar Jiana saat selesai makan.
"Tidak menginap saja?" tanya pak Alex sambil menatap putrinya.
"Lain kali saja Pa," tolak Jiana. Pak Alex hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, Raka dan Jiana pamit untuk pulang. Seperti biasanya, bu Desi selalu membawakan beberapa makanan untuk mereka bawa pulang. Sebenarnya Jiana sudah pernah mengatakan jika tidak perlu repot menyiapkan makanan seperti itu, namun bu Desi tetap kekeh dan tetap memasakkan makanan kesukaan putrinya itu untuk dibawa pulang.
"Kalian hati-hati di jalan ya. Sering-seringlah ke sini sayang," ucap bu Desi. Jiana dan Raka mengangguk sambil tersenyum tipis. Mereka bergegas untuk pulang setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Kasihan mereka Pa. Semoga putri kita dan suaminya bisa melewati masa-masa sulit ini," ucap bu Desi setelah Jiana dan Raka benar-benar pergi dari sana. Pak Alex mengusap bahu istrinya dengan lembut.
"Iya Ma, papa juga berharap mereka selalu bahagia," ucap pak Alex. Kemudian mereka kembali masuk ke dalam rumah dan tak lupa menutup pintunya.
Sesampainya di rumah, Jiana segera menuju ke dapur untuk menghangatkan kembali makanan yang telah ia bawa tadi. Ia melakukannya sendiri karena tidak ingin merepotkan bi Lastri. Setelah selesai, ia menyusul suaminya ke kamar.
Jiana langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Sedangkan Raka masih berada di kamar mandi. Jiana ingin sekali membicarakan soal adopsi anak, namun ia tidak yakin jika Raka akan menyetujuinya. Jiana melamun sambil menatap langit-langit kamarnya.
Cup
Raka tiba-tiba mengecup pipi Jiana sekilas. Membuat Jiana terkejut dan langsung menatap Raka yang berbaring di sampingnya.
"Apa sih yang kamu pikirkan? Dari tadi banyak melamun loh," ucap Raka. Jiana hanya menggeleng pelan. Raka menarik Jiana agar masuk ke dalam dekapannya. Ia mengusap lembut rambut Jiana.
"Ada apa?" tanya Raka kesekian kalinya. Namun Jiana tetap saja bungkam dan tak menjawab pertanyaan Raka.
__ADS_1
"Aku hanya lelah saja mas. Aku mau istirahat," jawab Jiana. Raka mengecup kening Jiana cukup lama. Ia juga tidak bisa memaksa istrinya untuk bercerita tentang apa yang membuat dia gelisah seperti itu.
"Apa yang sebenarnya Jiana pikirkan? Apa telah terjadi sesuatu saat di rumah orang tuanya tadi?" gumam Raka sambil tangannya mengusap-usap rambut istrinya. Jiana memejamkan matanya dan mulai terbawa mimpi.