
"Sayang, aku pulang," ujar Raka sedikit mengeraskan suaranya. Ia berjalan menuju dapur tempat istrinya berada. Sesampainya di sana, Raka langsung memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya dengan mesra.
"Mas, ada bi Lastri. Malu ah," ujar Jiana sambil melepas pelukan suaminya. Sedangkan bi Lastri hanya tersenyum dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Raka memanyunkan bibirnya sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Jiana.
"Mama di mana?" tanya Raka.
"Baru saja pulang," balas Jiana. Raka berjalan menuju ruang makan dan duduk di sana. Jiana menuangkan segelas air putih untuk suaminya dan Raka langsung meneguknya.
"Itu apa?" tanya Raka sambil mengarahkan pandangannya pada sebuah kantung berisi kurma muda.
"Kurma muda mas, mama yang bawain," jawab Jiana sambil menarik kursi di samping suaminya dan duduk di sana. Raka mengernyitkan dahinya. Ia mengambil satu buah dan memakannya.
"Kok asem sih," protes Raka. Jiana tertawa kecil melihat ekspresi suaminya itu.
"Tapi enak kan?" ujar Jiana. Raka mengangguk pelan.
Bi Lastri mulai menyajikan makan malam untuk mereka.
"Terima kasih ya bi," ucap Jiana. Bi Lastri mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaan yang lain.
"Aku makan dulu ya, mandinya nanti aja, sudah lapar," ujar Raka memelas menatap istrinya.
__ADS_1
"Iya mas, ini aku ambilkan buat kamu," balas Jiana. Mereka mulai menyantap makan malamnya.
***
Pukul 18.30, Niha baru sampai di rumahnya. Ia terlihat letih setelah seharian bekerja. Niha langsung menuju kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya. Ia langsung berbaring di ranjangnya dengan nyaman.
"Andai waktu itu aku tidak pergi setelah lulus kuliah, pasti yang Raka nikahi sekarang adalah aku," gumam Niha sambil memejamkan matanya dan memeluk gulingnya.
"Memangnya apa bagusnya sih si Jiana itu. Masih okean aku ke mana-mana lah," batin Niha. Ia belum bisa menepis rasa sukanya terhadap laki-laki yang selama kuliah dulu dekat dengannya. Dan ia masih bersikeras ingin mendapatkan Raka.
Tiba-tiba saja bu Anjani, ibu dari Niha datang masuk ke kamarnya. Ia semakin gelisah dengan tingkah putri semata wayangnya itu. Terlebih lagi, semenjak tiba di Indonesia, putrinya selalu murung dan tak bahagia sama sekali.
"Niha tidak lapar," balas Niha jutek.
"Ada apa? Apakah ada masalah sayang?" tanya bu Anjani. Tak lama kemudian, Niha beralih duduk dan bersandar pada ranjangnya. Tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Dan itu membuat bu Anjani panik. Ia menarik dan mendekap putri kesayangannya itu.
"Kenapa?" tanya bu Anjani dengan lembut.
"Mami ingat kan dengan Raka?" tanya Niha. Ia beralih menatap ibunya. Bu Anjani mengangguk pelan.
"Ma, Niha begitu mencintai Raka. Apa sih yang kurang dari Niha? Kenapa Raka lebih mencintai istrinya itu?" ujar Niha dengan sedih. Bu Anjani mengusap pelan lengan Niha. Lalu menyelipkan rambut Niha ke belakang telinganya.
__ADS_1
"Sayang, tidak salah kalau kamu mencintai Raka. Tetapi, sekarang keadaannya berbeda. Adakalanya apa yang kita inginkan itu bukan yang terbaik buat kita. Jika Raka sudah memilih kebahagiaannya, kamu juga harus dong. Ingat sayang, mami tidak pernah mengajari Niha untuk merusak rumah tangga orang. Niha paham kan?" tutur bu Anjani dengan lembut. Ia tidak ingin Niha salah langkah. Selama ini mereka hanya hidup berdua, ayahnya tak pernah bertanggung jawab atas kehidupan mereka berdua. Bu Anjani hanya ingin Niha bahagia dan tak menderita seperti dirinya.
Niha hanya tersenyum mendengar nasehat dari ibunya. Entah mengapa hatinya kini menjadi sedikit lebih tenang. Ia memeluk ibunya dengan erat.
"Sudah, jangan menangis lagi. Makanlah dulu lalu istirahatlah," ujar bu Anjani sambil mengusap puncak kepala putrinya. Lalu ia bergegas keluar agar Niha bisa istirahat.
***
Selesai membersihkan diri, Raka menuju ke tempat tidur yang sudah ada istrinya di sana. Ia mencium puncak kepala istrinya dengan lembut dan membelai rambutnya.
"Lagi apa sih kok fokus banget sama ponselnya," ujar Raka sambil menatap layar ponsel Jiana. Jiana tersenyum lebar dan meletakkan ponselnya di nakas.
"Tadi Sarah memberi kabar bahwa dirinya tengah hamil mas. Aku senang banget, pingin deh ketemu Sarah," ucap Jiana dengan senang. Raka langsung memeluk dan membelai rambut istrinya. Berulang kali ia menciumi puncak kepala istrinya.
"Sabar ya," bisik Raka. Jiana mengangguk dan membalas pelukan tersebut. Jiana melepas pelukan itu dan menatap dalam suaminya.
"Terima kasih ya mas," ucap Jiana lalu mencuri ciuman pipi suaminya. Dengan cepat ia berbaring membelakangi Raka.
"Hmm... Awas ya kamu," ucap Raka lalu memeluk Jiana dari belakang. Ia menciumi tengkuk Jiana hingga Jiana menggeliat kegelian. Raka menyudahinya dan membalikkan tubuh istrinya agar menghadap padanya. Raka mencium bibir Jiana sekilas. Mereka saling melempar senyum dan menatap satu sama lain.
"Selamat istirahat sayang," bisik Raka. Ia mencium kening Jiana lalu mendekapnya. Lalu mereka mulai memejamkan mata.
__ADS_1