Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 57


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Jiana sudah resign dari kerjanya. Ia sekarang lebih fokus dengan skripsinya. Menyelesaikan skripsi lebih cepat akan lebih baik baginya. Ia bisa lebih fokus mengurus rumah tangganya.


Saat ini Jiana sedang berada di perpustakaan kampusnya untuk mencari beberapa referensi penelitiannya. Jiana berdiri di dekat rak buku sambil membolak-balikkan lembaran buku tersebut. Setelah mendapatkan beberapa bahan tambahan, Jiana bergegas untuk kembali ke kelasnya sambil menunggu bimbingannya.


Sarah dan Jiana tidak satu bimbingan. Meskipun begitu, Sarah juga sering menemani Jiana di kampus atau sebaliknya. Jiana meletakkan buku yang ia pinjam di atas mejanya. Kemudian ia duduk di kursi sambil membaca buku tersebut.


"Ji, masih di kelas? Nggak bimbingan sama pak Ferdy?" tanya Arumi, teman satu kelas Jiana.


"Nanti kok pukul 10.00 bimbingannya," jawab Jiana. Arumi mengangguk. Ia duduk di depan Jiana sambil menghadap Jiana. Mereka mengobrol santai sambil menunggu waktu bimbingan tiba.


Waktu berlalu, Jiana menuju ruangan yang sudah ditentukan sebelumnya untuk bimbingan. Hari ini ada 10 mahasiswa yang bimbingan dengan pak Ferdy, termasuk Jiana. Setelah dirasa semua sudah berkumpul, pak Ferdy memulai bimbingannya. Jiana mencatat hal-hal yang penting di buku catatannya. Semua yang diarahkan oleh pak Ferdy dapat diterima Jiana dengan baik.


Hanya beberapa menit saja, mereka sudah selesai bimbingan. Judul yang ia ajukan untuk skripsinya nanti juga sudah di acc oleh pak Ferdy. Jiana senang karena pak Ferdy tidak mempersulit dirinya.


Jiana berjalan keluar ruangan. Ia berniat untuk pulang. Namun ia berpikir untuk memberi kejutan pada Raka dengan menghampirinya di kantor. Sebelum ke kantor, Jiana membeli beberapa makanan untuk makan siang nanti di kantor Raka.


Kini Jiana sudah sampai di kantor. Ia langsung menuju ke ruangan suaminya.


"Selamat siang nyonya, mau bertemu dengan pak Raka ya?" tanya Vanya sekretaris Raka. Jiana menoleh ke arah Vanya dan tersenyum tipis.


"Pak Rakanya sedang keluar nyonya," ucap Vanya lagi. Jiana mengeluarkan ponselnya dan menelepon Raka. Tetapi panggilan teleponnya ditolak oleh Raka.


"Kenapa tidak diangkat? Apa dia sedang meeting dengan klien?" tanya Jiana dalam hatinya. Ia masih berdiri mematung di depan ruangan Raka.


"Emm.. Kalau boleh tahu, pak Raka pergi ke mana ya? Kira-kira lama atau tidak?" tanya Jiana penasaran. Vanya kesulitan untuk menjawabnya. Karena Raka pergi dengan buru-buru dan tidak memberitahukan padanya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Farrel, asisten Raka.

__ADS_1


"Maaf nyonya, saya kurang tahu ke mana pak Raka pergi," jawab Vanya sedikit takut. Jiana hanya tersenyum dan pamit kepada Vanya. Ia berjalan sambil berpikir ke mana Raka pergi. Teleponnya juga tidak dijawab oleh Raka. Akhirnya Jiana memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia lebih baik menunggu Raka di rumah.


Sampainya di rumah, Jiana berjalan gontai sambil menenteng makanan yang sempat ia beli tadi. Jiana masuk ke dalam rumahnya dan nampak sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda adanya orang di rumah ini. Jiana langsung menaruh makanannya ke meja makan. Ia mencari keberadaan bi Lastri namun juga tidak ada.


"Ke mana bi Lastri?" tanya Jiana pelan. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jiana menuju ke kamarnya.


Duaarr


Jiana terkejut saat baru membuka pintu kamarnya. Ternyata Raka sudah berada di dalam kamarnya dengan membawa kue ulang tahun. Raka tersenyum tipis sambil menatap Jiana.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Raka. Jiana menutup mulutnya dengan tangannya. Ia bahkan lupa jika hari ini ulang tahunnya. Jiana menatap Raka seolah tak percaya jika Raka mengingat tanggal ulang tahunnya.


"I-ini, kenapa bisa ada di rumah? Bukannya lagi meeting?" tanya Jiana. Ia berjalan mendekat ke arah Jiana.


"Siapa yang bilang? Aku sudah menunggumu di sini hampir tiga jam tapi kamu tidak kunjung pulang," ucap Raka.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Raka. Ia menyeka air mata Jiana.


"Aku hanya terharu, kamu kenapa bisa tahu tanggal ulang tahunku. Aku saja lupa," ucap Jiana. Raka tersenyum tipis dan kembali memeluk Jiana.


"Tentu saja aku ingat. Setiap tahunnya aku selalu merayakan ulang tahunmu, meski tidak ada kamu disisiku. Tetapi sekarang aku bisa merayakannya denganmu sayang," ucap Raka.


"Jadi, kado misterius yang aku terima setiap tahunnya itu dari kamu?" tanya Jiana. Memang setiap ulang tahun Jiana, Raka selalu mengirimkan kado untuk Jiana. Meski ia tidak pernah menyebutkan identitasnya dan hanya beberapa patah kata yang ia tulis di dalam kado tersebut.


Raka dan Jiana duduk di tepi ranjang. Setelah itu, Jiana meniup lilin dan meminta harapan. Harapannya hanya satu, ia ingin cepat hamil agar kegelisahan dalam hatinya bisa terobati. Meski Raka bisa sabar menunggu hingga saat itu tiba, tapi tidak dengan dirinya.

__ADS_1


Raka tiba-tiba mencium pipi Jiana. Membuat Jiana langsung membuka matanya.


"Berdoa apa sih, lama sekali, hmm?" tanya Raka penasaran. Jiana memutar bola matanya.


"Ada deh," balas Jiana. Ia tertawa kecil. Raka bahagia jika Jiana senang dengan kejutan kecil yang ia siapkan. Meski hanya sederhana, rasanya mereka begitu bahagia. Raka merangkul Jiana dan menciumi puncak kepala Jiana.


"Tetaplah bahagia seperti ini sayang," bisik Raka. Jiana mengangguk pelan.


Karena merasa lapar, mereka akhirnya memutuskan untuk makan. Jiana heran, karena bi Lastri belum kunjung kembali. Tidak biasanya bi Lastri keluar rumah begitu lama.


"Raka, aku dari tadi tidak melihat bi Lastri," ujar Jiana saat mereka menuruni tangga.


"Aku sengaja memberikan bi Lastri libur satu hari. Aku tidak ingin ada yang mengganggu kita hari ini," ucap Raka. Jiana menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Jiana bingung. Raka hanya tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya. Ia menatap Jiana dengan penuh arti. Jiana langsung memalingkan wajahnya dan berlari menuju meja makan. Ia tahu maksud dari suaminya itu.


Jiana menarik kursi dan duduk di sana. Ia menyiapkan makanannya dan untuk Raka. Namun Raka mengambil piringnya dan menjauhkannya dari jangkauan Jiana.


"Kita makan satu piring berdua," ucap Raka. Jiana tersenyum dan mengangguk tipis. Akhirnya mereka makan satu piring berdua. Raka menyuapi Jiana begitu juga sebaliknya.


"Sayang, kemarin Niha datang ke kantor. Dia..." ucap Raka menggantung.


"Apa? Kenapa kamu tidak cerita sama aku? Mau apa lagi dia?" sela Jiana dengan kesal.


"Dengarkan dulu. Dia ingin bekerja di kantor. Sebagai sahabat aku juga tidak bisa menolak. Tapi kalau kamu tidak setuju aku tidak akan menerima Niha bekerja di kantor," jelas Raka. Jiana berpikir sejenak. Pasti hari-hari Raka tidak akan baik jika Niha bekerja di kantornya. Begitu juga Jiana, ia tidak akan tenang karena ia sudah tidak bekerja lagi di sana. Ia tidak bisa mengawasi setiap tindakan Niha seperti ia mengawasi Sandra dulu.

__ADS_1


"Aku tidak suka dia bekerja satu kantor denganmu. Atau begini saja, aku akan merekomendasikannya ke perusahaan papa. Bagaimana?" usul Jiana.


"Terserah kamu," balas Raka. Ia mengusap rambut Jiana dengan lembut.


__ADS_2