
"Mau ke rumah mama?" tanya Raka setelah selesai makan.
"Hah?" ujar Jiana terkejut.
"Mau atau tidak?" tanya Raka kembali.
"Bukannya kamu harus ke kantor ya?" tanya Jiana menyelidik.
"Kan aku sudah bilang tadi. Aku mau nemenin istriku yang lagi ngambek ini," jawab Raka dan menyengir ke arah Jiana. Jiana mengerucutkan bibirnya.
"Jadi bagaimana? Mau atau tidak sayang?" tanya Raka sekali lagi.
"Mau," jawab Jiana cepat dan tersenyum lebar.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu ya, tungguin," ujar Jiana. Dirinya sedikit berlari menuju kamar.
Raka menghela napasnya sejenak. Setidaknya ia lega karena mood Jiana sudah lebih baik.
__ADS_1
Sambil menunggu Jiana siap, ia menghubungi asistennya, Farrel untuk mengosongkan jadwalnya hari ini. Kalau tidak memungkinkan, ia menyuruh Farrel untuk menggantikannya sementara. Raka tidak akan tenang meninggalkan Jiana dalam keadaan marah seperti tadi. Bisa-bisa hubungannya dengan Jiana rusak gara-gara dirinya.
Jiana menuruni tangga dengan senang. Sudah lama semenjak menikah, Jiana belum berkunjung ke rumah orang tuanya. Bahkan ia sampai lupa kalau ia masih punya orang tua. Itu karena sibuknya dirinya di rumah maupun di kampua. Apalagi sebentar lagi dirinya akan ujian akhir semester.
"Raka, ayo aku sudah siap," ujar Jiana senang.
Raka sudah menunggu Jiana di depan sedari tadi. Ia juga telah siap dengan setelan baju santainya dibalut dengan jaket warna hitam. Jiana berjalan menuju mobil dan ingin membuka pintunya. Namun Raka menahannya dan menariknya agak menjauh.
"Ada apa?" tanya Jiana bingung.
"Hari ini kita nggak naik itu sayang," jawab Raka santai.
"Nggak. Kita pakai motor itu," jawab Raka sambil mengarahkan dagunya ke motor tersebut.
Jiana sedikit terkejut. Ia menatap motor tersebut dan beralih menatap Raka. Seriusan Raka mau mengajak Jiana naik motor?
"Naik motor?" tanya Jiana. Ia tersenyum sinis ke arah Raka.
__ADS_1
"Masa iya kita naik motor sih Raka? Aku nggak mau ya. Kalau kamu mau naik itu naik saja sendiri! Biar aku yang nyetir mobil sendiri," ujar Jiana dan berbalik. Dirinya ingin mengambil kunci mobil dan tidak ingin naik motor dengan Raka.
Raka menahan Jiana dengan memeluknya dari belakang. Begitu terasa dilehernya hembusan napas Raka yang teratur.
Deg
Deg
Deg
"Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini saat Raka memelukku?" gumam Jiana yang merasa gugup.
"Mau ke rumah mama naik motor atau nggak sama sekali. Itu artinya kita bisa punya waktu berduaan di rumah sayang," bisik Raka lembut dan mengecup telinga Jiana. Tubuh Jiana gemetar menahan sensasi yang menerpa dirinya. Perasaan yang sulit ia jelaskan.
"I-iya sudah kita ke rumah mama naik motor saja. Aku nggak apa-apa kok," jawab Jiana dan mendorong pelan tubuh Raka. Ia tersenyum kaku.
Raka tertawa kecil saat Jiana tidak melihatnya. Kegugupan Jiana sungguh menggemaskan dimatanya. Bahkan dirinya hampir tidak bisa menahan diri jika Jiana tidak segera mendorongnya tadi.
__ADS_1
"Pegangan sayang... Nanti jatuh," ujar Raka sambil mengarahkan tangan Jiana agar melingkar diperutnya.
Namun buru-buru Jiana tepis dan ia memilih memegang jok motornya. Raka menyeringai. Dengan cepat ia menarik gas motornya sehingga Jiana jatuh memeluknya. Jiana yang baru pertama kali naik motor begitu ketakutan. Ia memeluk erat Raka dan menyandarkan dagunya di bahu Raka. Raka tersenyum dan mulai menjalankan motornya.