Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 95


__ADS_3

Raka mengusap-usap perut Jiana dengan lembut. Setelah melakukan aktivitas yang melelahkan, Jiana tertidur dalam dekapan suaminya. Sedangkan Raka masih memandangi istrinya yang terlelah sejak setengah jam yang lalu.


Raka mencubit hidung Jiana dengan gemas. Membelai pipi dan mengecup kening Jiana.


"I love you sayang," bisik Raka. Lalu ia menyelimuti istrinya dan bergegas menuju kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, kini Raka keluar kamar untuk menghampiri Maura yang sedang makan siang sambil ditemani bi Lastri. Raka tersenyum melihat putrinya yang begitu menggemaskan itu sedang makan siang.


"Bi, biar saya yang menemani Maura makan," ucap Raka. Bi Lastri lantas berdiri dan mengangguk.


"Baik tuan," balas bi Lastri lalu meninggalkan mereka di ruang makan.


Raka duduk di samping Maura. Ia mengusap puncak kepala Maura dengan lembut. Putrinya kini semakin besar. Ia bersyukur mempunyai Maura dalam kehidupan ini. Gadis kecil itu telah mewarnai kehidupan rumah tangganya dengan Jiana. Bahkan rasa sayangnya kepada Maura selayaknya sebagai anak kandungnya sendiri.


"Makannya pelan-pelan sayang," ujar Raka sambil mengelap sudut bibir Maura dengan jemarinya. Maura tersenyum lebar sambil menatap Raka.


"Maaf papa," ucap Maura.


"Maura senang gak, sebentar lagi bakal punya adik baru?" tanya Raka sambil memperhatikan putrinya yang sedang melahap makanan. Maura mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


"Mau adik perempuan atau laki-laki?" tanya Raka lagi. Maura berpikir sejenak.


"Perempuan," jawab Maura. Lalu melahap makanannya kembali.


"Kenapa?"


"Karena bisa diajak main boneka," jawab Maura polos. Raka tertawa kecil. Ia mencium puncak kepala Maura sekilas.


"Ih papa... Maura masih makan, jangan cium-cium," ucap Maura lalu mengerucutkan bibirnya. Membuat Raka semakin gemas karenanya.


"Oke, papa nggak akan ganggu lagi," tutur Raka. Ia mengacak rambut Maura dengan gemasnya.


***


Tak hanya sekali terdengar gelak tawa dari keduanya. Maura dan Raka yang asik bersenda gurau di sana. Jiana yang beberapa menit lalu sudah bangun dari tidurnya, kini langkahnya terhenti di salah satu anak tangga dan sedang memperhatikan mereka berdua. Ia tersenyum melihat anak dan suaminya sedang bercanda seperti itu.


Raka memang mengurangi kegiatannya di kantor semenjak satu bulan yang lalu. Lebih banyak ia serahkan kepada asistennya pekerjaan di kantornya. Bukan berarti ia tidak bekerja lagi. Raka hanya ingin mengutamakan anak dan istrinya untuk saat ini. Apalagi Jiana yang sedang mengandung, sangat butuh perhatian dan ia ingin banyak menghabiskan waktu bersama istrinya.


"Asik banget sih kalian berdua, hmm..." ucap Jiana yang kini sudah sampai di samping mereka. Jiana duduk di samping Maura. Kini, Maura berada di tengah mereka.

__ADS_1


"Ya dong, memangnya bunda yang tiduran terus," canda Raka. Jiana mengernyitkan dahinya dan menatap Raka.


"Maksudnya gimana nih?" tanya Jiana sambil menatap tajam ke arah suaminya. Raka tertawa kecil.


"Nggak ada maksud sayang. Bagaimana? Nyenyak tidurnya?" ujar Raka melembut. Ia membelai pipi Jiana. Jiana mengangguk pelan.


"Bunda, dedeknya kapan keluarnya?" tanya Maura sambil menatap Jiana dengan polos. Jiana menciumi kening dan pipi Maura.


"Sebentar lagi sayang. Do'akan dedek dan bunda sehat terus ya," jawab Jiana. Maura mengangguk dengan cepat. Ia mengusap perut Jiana dan terlihat bahwa Maura begitu menantikan kehadiran adiknya itu. Raka dan Jiana saling memandang dan tersenyum.


"Bunda, nanti dedeknya Maura ajak main boneka boleh?" tanya Maura.


"Boleh dong sayang..." jawab Jiana. Ia mencubit dengan gemas pipi Maura.


"Mas, aku ingin minum susu," ucap Jiana.


"Bentar, mas buatkan untuk kamu ya," jawabnya. Raka menuju ke dapur untuk membuatkan Jiana susu. Jiana tersenyum manis melihat suaminya begitu perhatiannya padanya.


Beberapa menit kemudian, Raka kembali dengan membawa segelas susu dan tak lupa makanan untuk Jiana. Ia menaruhnya di meja agar Jiana segera memakannya.

__ADS_1


"Makasih sayang," ucap Jiana senang. Ia mulai melahap makanan tersebut.


Maura merasa mengantuk. Beberapa kali ia sudah menguap. Dengan sigap Raka meraih tubuh mungil Maura dan mendekapnya. Agar Maura segera tidur siang. Raka membelai-belai rambut Maura. Sedangkan Jiana masih melahap makanannya.


__ADS_2