
Pukul 14.30, Jiana terbangun dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, ia berdiri dengan menghadap ke arah cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ia bawa dari kamar mandi. Jiana menatap ke arah kasurnya untuk melihat Raka. Suaminya itu belum juga bangun dari tidurnya. Jiana menatap ke arah cermin kembali dan tersenyum tipis.
"Sayang, jam berapa sekarang?" Suara Raka mengagetkan Jiana.
"Jam tiga sayang. Mandilah, setelah ini aku akan ke dapur dan menyiapkan makanan untuk kita," jawab Jiana tetapi ia masih fokus menatap cerminnya. Raka duduk di tepi ranjang. Ia berdiri dan menghampiri Jiana tanpa menggunakan sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Raka langsung memeluk Jiana dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Jiana. Ia memejamkan matanya sambil menikmati aroma wangi istrinya itu.
"Mas, kebiasaan deh. Pakai bajunya dulu, malu tahu," gerutu Jiana. Ia menghentikan aktivitasnya. Raka tersenyum tipis.
"Hanya ada kamu saja, kenapa harus malu? Bukankah kamu juga sering melihatnya? Masih malu juga?" jawab Raka. Seketika pipi Jiana merah merona. Jiana mendorong Raka hingga masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa juga ia memberikan handuk yang ia pakai tadi pada Raka. Jiana tersenyum tipis melihat tingkah konyol suaminya. Meskipun hanya ada mereka berdua saja, Jiana tetap saja merasa malu.
Jiana keluar kamarnya dan langsung menuju ke dapur. Ia baru sadar jika bi Lastri tak ada di rumahnya. Jiana membuka kulkasnya untuk melihat bahan apa saja yang masih ada untuk ia masak sore ini. Ia segera menyiapkan bahan-bahannya untuk ia masak hari ini.
Selesai mandi, Raka langsung menuju ke ruang makan. Ia menarik kursi dan menunggu Jiana selesai memasak.
"Oh iya, kok aku tidak melihat bi Lastri? Ke mana mas?" tanya Jiana sambil fokus menyajikan makanan itu di atas meja.
"Aku suruh cuti hari ini. Biar tidak ada yang mengganggu kita," jawab Raka santai.
"Apa sih, mana ada seperti itu," ucap Jiana.
Setelah selesai memasak, mereka menikmati makanan itu dengan lahap. Apapun menu makanan yang istrinya sajikan untuknya, itu akan menjadi menu spesialnya.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari bahagia untuk Jiana. Setelah lulus ujian skripsi, akhirnya tiba waktunya untuk ia wisuda dan menyandang gelar sarjana. Jiana terlihat cantik dengan dibalut gaun kebaya berwarna peach yang sederhana namun tetap anggun. Dengan rambutnya yang sedikit digelung menambah cantiknya ia.
Pagi ini, Raka dan yang lainnya ikut menyaksikan hari bersejarah bagi Jiana setelah menempuh perkuliahan selama empat tahun ini. Mereka tak lagi sembunyi-sembunyi terkait dengan hubungannya. Bahkan teman-teman sekelas Jiana pun terkejut jika Jiana sudah menikah dengan pengusaha muda, Raka Sanjaya.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat. Ada juga yang meneteskan air matanya karena terharu. Putra dan putri mereka lulus tepat waktu adalah kebahagiaan tersendiri bagi orang tuanya. Selesai wisuda, banyak yang mengantri untuk foto bersama. Memberikan buket dan ucapan selamat bagi mereka para wisudawan. Tak terkecuali Jiana. Raka secara khusus membawa buket khusus yang sudah ia pesan sebelumnya dan memberikannya pada istrinya itu.
Setelah saling melepas rindu pada teman-temannya, Jiana menuju ke luar gedung untuk mencari keberadaan suami dan orang tuanya. Tanpa ia duga, Mira juga ikut menyaksikan kebahagiaan menantunya itu.
"Selamat ya sayang, sekarang kamu telah lulus," ucap Raka. Ia memeluk Jiana dengan posesif. Jiana membalas pelukan itu dan tersenyum haru.
"Sekarang kamu telah lulus sayang. Dan ingat, semua keputusan tentang hidupmu berada pada suamimu. Jika kelak Raka tidak mengizinkanmu bekerja, terimalah dengan lapang dada sayang," tutur Desi. Karena ia tahu bagaimana sikap keras kepala putrinya. Namun Jiana yang sekarang telah lebih dewasa dari sebelumnya. Ia lebih mengutamakan keluarganya daripada pekerjaannya.
Alex mengusap rambut Jiana dengan lembut. Putrinya yang begitu pemanja kini telah menjadi istri orang. Waktu berjalan begitu cepat. Alex menatap Jiana dengan haru. Setelah ini Jiana akan lebih fokus pada keluarga kecilnya.
"Papa bangga sama kamu nak," ucap Alex. Hanya itu yang keluar dari mulut Alex. Jiana memeluk ayahnya sejenak.
Setelah itu Jiana menatap Mira. Ada perasaan takut dalam hati Jiana. Terlebih lagi, terakhir kali mereka bertemu Mira begitu menekan Jiana untuk segera hamil. Mira tersenyum dan mendekati Jiana. Ia menangkup wajah Jiana.
"Maafkan mama sayang, Jiana mau kan memaafkan mama?" tanya Mira.
__ADS_1
"Iya, Jiana juga minta maaf Ma," ucap Jiana. Mereka saling berpelukan. Desi dan Raka menghela napas lega. Mereka tidak perlu khawatir lagi.
Selesai acara wisuda itu, mereka langsung menuju ke kediaman Alex. Karena Desi sudah memasak menu spesial hari ini untuk merayakan kelulusan Jiana.
"Setelah ini rencana kalian apa?" tanya Alex saat mereka sudah berkumpul di ruang makan. Jiana menatap Raka, ia belum tahu apa yang akan mereka rencanakan setelah ini. Raka tersenyum tipis.
"Kami akan bulan madu Pa. Selama ini Raka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, jadi Raka akan meluangkan waktu untuk bersama Jiana," ucap Raka serius. Jiana mengernyitkan dahinya.
"Bagus itu, rencananya mau bulan madu ke mana? Biar papa yang siapkan semuanya sebagai hadiah dari papa," ucap Alex. Raka menatap Jiana bingung. Ia belum tahu tujuan bulan madu mereka nanti. Terlebih lagi ia belum tahu ke mana istrinya itu ingin pergi.
"Mmm... Kalau itu Raka ikut Jiana saja inginnya mau ke mana," jawab Raka.
"Ya sudah. Kalau sudah tahu tempat tujuannya, nanti bilang ke papa ya. Biar papa urus semuanya," ujar Alex. Jiana dan Raka tersenyum lebar.
Lalu mereka melanjutkan untuk makan. Mira juga ikut dalam perjamuan makan itu. Mira merasa bersalah waktu itu telah mendesak Jiana. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu.
Sorenya Mira pamit untuk pulang. Ada beberapa hal yang harus ia urus. Sedangkan Raka dan Jiana masih betah tinggal di rumah Alex. Jiana masuk ke kamarnya. Ia ingin membersihkan diri dulu. Sedangkan Raka berbincang di ruang tengah bersama orang tua Jiana.
Selesai mandi, Jiana duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Ia jadi kepikiran ke mana ingin berbulan madu bersama suaminya. Meskipun itu sudah pernah mereka bahas, tapi Jiana belum ada keinginan untuk pergi ke suatu tempat.
Selesai menyisir rambut, Jiana memoles wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih segar. Lalu ia turun menuju ruang keluarga untuk bergabung bersama suami dan orang tuanya.
__ADS_1