
Dua hari berlalu..
Raka melihat perkembangan istrinya yang semakin membaik menurutnya, tetapi tidak bagi Jiana. Ia sebisa mungkin menyembunyikan rasa sakit dibagian perut bawahnya yang kapan saja akan datang menyerangnya. Belum lagi saat punggungnya juga terasa nyeri yang sangat hebat, membuatnya hampir tak kuat menahannya. Tindakannya memang cukup berbahaya baginya sendiri. Namun Jiana telah bertekad untuk tetap mempertahankan bayi tersebut.
Jiana selalu meminta Raka agar tidak menghubungi dokter Faye, selaku dokter pribadinya. Seribu cara ia gunakan agar Raka menurutinya. Meskipun Raka tidak tega dan ingin selalu tahu perkembangan kesehatan istrinya, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Setiap kali ia akan menghubungi dokter Faye, Jiana akan mengancamnya dengan segala macam cara yang ada. Dan anehnya, itu tak membuat Raka menaruh curiga padanya, kenapa istrinya bersikap demikian.
Hari ini, Raka mulai kembali bekerja ke kantornya. Sebenarnya ia tidak tega untuk meninggalkan istrinya, namun ia juga tidak bisa terlalu lama menyerahkan tugasnya pada asistennya.
Raka telah bersiap untuk pergi ke kantor. Jiana berada di dapurnya bersama dengan bi Lastri. Ia membantu bi Lastri menyiapkan sarapannya. Meskipun Raka dan bi Lastri telah melarangnya, tetapi Jiana tetap kekeh untuk membantu. Ia merasa jenuh jika hanya berdiam di atas kasurnya saja.
Sesaat, Jiana terlihat pucat dan seperti sedang menahan rasa sakit yang begitu hebat. Ia memegangi perutnya sambil sedikit menunduk. Tangan satunya ia gunakan untuk bersandar pada meja dapur agar tidak terjatuh.
"Nyonya, ada apa? Apakah sakit lagi?" tanya bi Lastri khawatir. Hanya bi Lastri yang tahu bagaimana keadaan Jiana yang sebenarnya. Ia juga tidak berdaya pada posisinya. Jiana tidak ingin suaminya mengetahui apa yang ia sembunyikan.
Bi Lastri menuntun Jiana agar duduk di kursi makan. Ia mengambilkan Jiana segelas air putih. Jiana meneguknya sedikit sambil berusaha menahan rasa sakit tersebut.
"Nyonya, kenapa Anda menyiksa diri Anda sendiri? Jika seperti ini, tuan pasti akan marah besar. Nyonya, apa tidak sebaiknya Anda menceritakan hal ini pada tuan?" ucap bi Lastri. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia sangat khawatir dengan keadaan Jiana namun tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Hanya sedikit nasehat yang bisa ia ucapkan.
"Tidak bi, aku tidak mau mereka mengambil anakku," ucap Jiana melemah. Bahkan ia sudah menitikkan air matanya.
Raka menuruti tangga menuju ke meja makan. Mendengar suara langkah kaki suaminya, Jiana langsung mengusap air matanya dan berusaha menampilkan wajah seceria mungkin. Ini baru lewat dua hari. Masih ada hari yang panjang yang akan ia lewati. Namun ia tidak yakin, apakah mampu melewati hari yang menyakitkan itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa jika aku tinggal ke kantor?" tanya Raka saat sudah sampai di ruang makan. Jiana berdiri tepat di depan Raka. Ia tersenyum lalu sedikit membenahi posisi dasi suaminya.
"Kenapa? Aku tidak apa-apa kok. Kamu juga harus kembali bekerjakan? Aku janji, kalau ada apa-apa pasti akan menghubungimu," balas Jiana dengan lembut. Seperti biasa, Jiana menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Nanti siang dokter Faye akan datang ke sini. Kamu tidak bisa menolak lagi sayang. Aku hanya ingin memastikan kesehatanmu apakah sudah membaik," ucap Raka disela makan mereka. Jiana terdiam sejenak. Jiana mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
Selesai sarapan, Raka pamit untuk ke kantor. Ia juga berpesan kepada bi Lastri agar menjaga Jiana. Setelah kepergian suaminya, Jiana kembali duduk di kursinya. Tatapannya kosong. Ia tidak tahu harus apa jika dokter Faye sampai memeriksanya nanti.
"Ahh, sakit," gumam Jiana yang kembali merasakan sakit pada perutnya. Dan kini mulai bertambah rasa sakit itu.
"Nyonya, ayo istirahatlah. Biar bibi antar sampai ke kamar," ucap bi Lastri. Jiana bangun dan menuju ke kamarnya. Ia berbaring di kasurnya berharap nyerinya cepat menghilang. Bi Lastri dengan setia berada di samping Jiana. Ia terus mendampingi Jiana dan tak beralih dari posisinya. Ia takut jika terjadi sesuatu pada majikannya itu.
"Nyonya, kenapa Anda bersikeras untuk mempertahankan janin itu? Padahal Anda tahu itu akan membahayakan nyawa Anda sendiri. Semoga tuan segera mengetahui kenyataan ini," batin bi Lastri sambil menatap wajah Jiana dengan sedih.
Siangnya, seperti yang Raka katakan pagi tadi. Dokter Faye datang berkunjung ke rumah Jiana. Sebenarnya ia juga bingung, dua hari lalu Raka tidak memperbolehkannya untuk memeriksa istrinya. Padahal, itu harus tetap dalam pantauannya. Bermacam dugaan terlintas dalam benaknya. Namun, sebelum memastikan sendiri, ia tak berani menduga macam-macam.
Jiana yang baru bangun dari tidurnya mendadak terkejut dengan kedatangan dokter Faye. Ia segera duduk dan bersandar pada ranjang. Jiana terlihat panik, namun lain halnya dengan dokter Faye.
"Selamat siang. Bagaimana keadaanmu?" tanya dokter Faye dengan ramah.
"Ba-baik dok. Kenapa Anda ke sini?" tanya Jiana dengan panik.
__ADS_1
Dokter Faye menghela napasnya sejenak. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Jiana dengan lembut.
"Mau bagaimana lagi, katanya kamu tidak mau dibawa cek up ke rumah sakit? Apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya dokter Faye dengan ramah. Jiana menelan salivanya dengan kasar. Ia mencengkram seprei kasurnya.
Tangan dokter Faye menyentuh punggung tangan Jiana dengan lembut. Ia tahu bahwa Jiana sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi, ia tidak bisa menekan Jiana agar terbuka padanya.
"Jiana, boleh saya memeriksamu sebentar?" tanya dokter Faye. Lagi-lagi ia menampilkan senyum ramahnya.
"Sa-saya tidak apa-apa. Anda pulanglah," tolak Jiana sambil memalingkan wajahnya.
"Kenapa? Apakah ada alasannya, kenapa saya tidak boleh memeriksamu?" tanya dokter Faye.
Jiana menunduk. Tatapannya begitu sedih. Ia kembali meneteskan air matanya dan mengusap perutnya.
"Dok, biarkan saya membesarkan anak saya. Apakah dokter bisa menyembunyikan hal ini?" ucap Jiana.
Dokter Faye menatap Jiana dengan lekat. Begitu sayangkah ia pada janin itu sehingga ia tidak peduli dengan bahaya yang akan ia tanggung.
"Maaf, tapi saya tidak bisa melakukan itu Jiana. Kamu tahu sendiri ini akan sangat berbahaya. Kamu dan Raka masih muda, masih banyak waktu untuk hamil lagi. Apa kamu tidak kasihan pada suamimu jika sampai tahu hal ini?" ucap dokter Faye.
"Baiklah, saya periksa sebentar ya," ujar dokter Faye. Jiana mengangguk pelan. Ia berbaring dan dokter Faye mulai memeriksanya.
__ADS_1
"Sementara saya berikan ini dulu. Tenang saja, ini hanya vitamin. Besok saya akan ke sini dan membicarakan hal ini pada suamimu," ucap dokter Faye sambil meletakkan obat itu di atas nakas. Ia tersenyum sebelum beranjak pergi dari kamar itu.
"Raka harus tahu masalah ini secepatnya. Jika tidak, aku takut Jiana akan lebih nekad lagi," batin dokter Faye sambil menuruni tangga. Ia berpamitan pada bi Lastri untuk pulang.