
Sudah lewat satu minggu semenjak pengungkapan cinta dari Jiana. Kini mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua. Jiana juga semakin terbuka dan semakin bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah jatuh cinta dengan Raka, suaminya.
Raka berniat untuk mempublikasikan hubungannya dengan Jiana. Ia ingin seluruh karyawannya tahu bahwa dirinya sudah menikah dan Jiana adalah istri sahnya. Tentu saja Jiana tak lagi mempermasalahkan hal itu. Semakin semua orang tahu, semakin cepat pula Sandra berhenti mengejar Raka. Karena jujur saja, setiap Sandra berusaha mendekati suaminya secara terang-terangan membuat Jiana cemburu dan tak suka.
Hari ini seperti biasanya, Jiana bekerja di kantor bersama Raka. Ia lebih semangat dari biasanya. Dan masalahnya dengan Sarah juga sudah terselesaikan dengan baik. Bagaimanapun juga, Sarah satu-satunya sahabat yang ia punya saat ini.
"Ji, nanti kamu makan siang sama pak Raka lagi?" tanya Sarah disela kerjanya. Jiana hanya mengangguk. Pandangannya masih fokus dengan pekerjaannya.
"Maaf ya Sar," ucap Jiana. Sarah tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Daripada pak Raka diembat oleh Sandra lagi," bisik Sarah. Jiana tertawa kecil. Sarah juga tahu jika Sandra sedang mengejar Raka.
Mereka kembali fokus dengan aktivitasnya. Tak banyak pekerjaan yang Jiana selesaikan hari ini.
Pukul 11.30 Jiana sudah selesai dengan laporan yang ia kerjakan pagi ini. Ia merenggangkan otot tubuhnya. Jiana mengambil air minum yang ia bawa lalu meneguknya.
"Ke ruangan Raka sebentar deh, lagipula pekerjaanku sudah selesai," gumam Jiana. Ia membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya dan tak lupa mematikan komputernya.
Jiana pamit kepada Sarah untuk ke ruangan Raka. Setelah itu, Jiana berjalan menuju ruangan suaminya itu. Langkahnya terhenti saat melihat Sandra juga bergegas ke ruangan Raka. Jiana mendengus kesal. Ia tak menyangka jika Sandra akan terus mengejar Raka.
"Mau apa lagi sih dia. Dasar tidak punya malu! Sudah ditolak masih saja mengejar," gumam Jiana kesal. Ia mengikuti Sandra dari belakang. Jiana berjalan pelan agar Sandra tidak menyadari kehadirannya.
Setelah Sandra masuk, Jiana langsung menuju ke arah pintu. Ia berdiri di depan pintu ruangan itu. Ia berniat ingin mendengar apa saja yang Sandra dan Raka lakukan di dalam sana. Namun ia tak bisa mendengar apapun. Karena rasa penasarannya, Jiana langsung membuka pintu ruangan tersebut. Sandra terkejut dengan kedatangan Jiana.
"Kamu? Ngapain ke sini?" tanya Sandra. Ia mengernyitkan dahinya. Namun Jiana hanya tersenyum sinis dan berjalan menghampiri Raka yang sedang duduk di kursi kerjanya. Jiana langsung duduk di pangkuan Raka dengan mesra. Membuat Sandra dan Raka terkejut. Namun Raka juga senang dengan apa yang dilakukan Jiana itu.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu tidak memberitahunya bahwa kita sudah menikah," ucap Jiana dengan manja. Ia memainkan dasi suaminya. Lagi-lagi itu membuat Sandra terkejut bukan main. Raka menatap Jiana dan mengecup kening Jiana. Ia tersenyum tipis.
"Kenapa? Apa kamu cemburu jika Sandra setiap hari datang ke sini?" tanya Raka terkekeh. Jiana pura-pura kesal. Ia memanyunkan bibirnya.
"Tentu saja aku kesal! Bagaimana bisa suamiku berduaan dengan wanita lain di sini!" ucap Jiana.
Sandra mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal dengan drama yang ada di depannya ini. Saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tak percaya jika Jiana adalah istri Raka, orang yang ia cintai.
"Kalian berdua sudah menikah?" tanya Sandra yang masih terpaku di depan meja kerja Raka. Jiana mengangguk.
"Bukankah kamu selalu penasaran apa hubunganku dengan Raka?" tanya Jiana. Ia berdiri dan berjalan menghampiri Sandra.
Sandra menatap kesal pada Jiana. Ia tak menyangka jika Jiana benar-benar istri dari CEO nya. Ia pikir jika kabar Raka sudah menikah itu hanyalah kabar palsu saja.
"Awas ya, aku akan buat perhitungan sama kamu!" ucap Sandra lalu ia pergi keluar ruangan dengan kesal.
"Kamu jahil juga ya," ujar Raka terkekeh.
"Kenapa? Kamu suka diganggu sama dia?" tanya Jiana sedikit kesal. Raka langsung menarik Jiana dan memeluknya. Ia mencubit kedua pipi Jiana dengan gemas.
"Kalau dia melakukan sesuatu yang menyakitimu nanti bagaimana, hem?" ucap Raka.
"Aduh, sakit Raka! Biarkan saja. Ada suamiku yang melindungiku," balas Jiana. Ia langsung memeluk Raka dengan erat. Raka mengusap rambut Jiana dan mencium puncak kepala istrinya itu.
Mereka beralih duduk di sofa sambil menunggu jam makan siang tiba. Raka menyandarkan kepalanya ke bahu Jiana. Jiana menepuk lengan Raka dengan lembut.
__ADS_1
"Makan siang di mana?" tanya Raka. Ia melirik Jiana sekilas.
"Kita makan di kafe depan kantor yuk," ajak Jiana. Raka mengangguk pelan.
Mereka langsung menuju kafe yang terletak di seberang jalan depan kantornya. Makanan di kafe itu memang terkenal lezat. Jiana dan Raka berjalan beriringan. Membuat karyawan yang melihat mereka bertanya-tanya tentang hubungan mereka.
Sampai di kafe tersebut, mereka memesan beberapa makanan dan minuman. Setelah pesanan mereka datang, Jiana langsung melahap makanan tersebut.
Memang tak begitu ramai suasana kafe ini. Itulah yang membuat Raka dan Jiana nyaman berada di kafe ini. Mereka bisa lebih menikmati momen berduaan di kafe itu.
"Raka? Kamu Raka kan?" ucap seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri meja makan mereka. Jiana mengernyitkan dahinya. Penampilan wanita itu cukup seksi dengan rambut pirangnya yang terurai begitu saja.
Raka menatap wanita yang memanggilnya itu. Ia merasa terkejut dengan kedatangan wanita itu. Raka sontak berdiri. Wanita itu langsung memeluk Raka tanpa mempedulikan Jiana yang sedang memperhatikan mereka dengan lekat. Raka tak berusaha melepas pelukan tersebut. Ia justru membalas pelukan wanita itu.
"Kamu apa kabar Raka? Ya ampun lama tidak bertemu, kamu sudah banyak perubahan ya," ujar wanita tersebut. Raka melepas pelukan itu. Ia tersenyum tipis.
"Kamu juga banyak berubah," balas Raka.
Jiana menatap tak percaya dengan adegan yang ada di depannya itu. Baru saja hubungannya membaik kini ada lagi masalah yang menimpa rumah tangganya.
"Baru saja tadi Sandra, sekarang muncul lagi wanita lain. Tapi, kenapa Raka akrab sekali dengan wanita itu? Menyebalkan!!" batin Jiana kesal. Tanpa mereka berdua sadari, Jiana pergi meninggalkan mereka.
"Niha, kenalkan ini istriku," ucap Raka. Ia menoleh untuk memperkenalkan Jiana. Namun Jiana sudah tidak ada di kursinya. Raka menatap sekitar namun Jiana sudah tak ada di kafe tersebut.
"Kamu sudah menikah? Aku pikir dia sekretaris kamu," ucap Niha merasa kecewa. Namun ia berusaha menampilkan senyumnya.
__ADS_1
"Ah, iya. Aku sudah menikah. Kapan-kapan lagi kita mengobrol ya. Aku pamit duluan," ucap Raka tergesa. Ia takut Jiana salah paham padanya. Niha tersenyum tipis melihat kepergian Raka.
"Aku pikir pertemuan kita adalah takdir Raka. Tapi ternyata kamu sudah menikah ya," batin Niha.