Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 67


__ADS_3

Tengah malam, Jiana terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sesuatu memeluk dirinya. Jiana mengernyitkan dahinya kala melihat Raka yang tidur dengan bersandar pada ranjang dan posisi setengah duduk. Tangan satunya ia gunakan untuk menopang kepalanya. Dengan perlahan, Jiana memindahkan tangan Raka darinya. Rasa pusingnya sudah berkurang dari sebelumnya. Meskipun demamnya belum turun juga.


"Mas, bangun," ucap Jiana pelan. Raka mengerjap mendengar Jiana membangunkannya. Ia menatap Jiana lalu tersenyum tipis.


"Bagaimana kondisimu sayang?" tanya Raka.


"Sudah membaik kok. Mas istirahat saja kalau capek. Dari tadi siang belum istirahat kan?" ucap Jiana. Raka tersenyum tipis. Jiana menggeser tubuhnya agar Raka bisa berbaring di sampingnya. Mereka saling berhadapan dan saling memeluk satu sama lain.


"Mas sudah makan?" tanya Jiana. Raka menggeleng pelan. Ia tak punya selera untuk makan, padahal tadi sore ia sempat membeli makanan.


"Kenapa?" tanya Jiana bingung.


"Tidak apa-apa. Ayo istirahatlah," jawab Raka. Ia mengecup kening istrinya dengan lembut lalu memeluknya dan memejamkan matanya. Jiana menatap suaminya dengan lekat. Tak lama kemudian ia ikut memejamkan matanya.


***


Pagi hari menyapa mereka yang masih terlelap dalam tidurnya. Jiana merasa badannya semakin dingin dan ia bertambah pusing. Ia kembali menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya. Ia lupa jika saat ini berada di villa bersama suaminya untuk liburan.


Raka mulai membuka matanya. Ia menatap Jiana dan tersenyum tipis. Lalu ia mengusap lembut kening Jiana dan mengecupnya sekilas. Ia beranjak untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia sengaja tidak membangunkan istrinya agar lebih banyak istirahat.


Selesai membersihkan diri, Raka duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sambil menunggu Jiana bangun, ia sekalian mengecek pekerjaan yang ia serahkan kepada asistennya itu. Waktu menunjukkan pukul 07.10 pagi. Jiana belum juga membuka matanya. Raka merasa lapar karena semalam ia tidak makan. Ia keluar kamarnya untuk menemui pak Rio. Raka menyuruh pak Rio untuk membelikan sarapan untuknya dan istrinya.


Jiana menggeliat kecil dan perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar itu dan tersadar jika itu bukan kamarnya yang biasa ia tempati. Jiana langsung duduk dan bersandar pada ranjang. Ia mencari keberadaan Raka di kamarnya, tetapi tidak menemukannya. Jiana perlahan turun dari ranjangnya dan ingin ke kamar mandi.


Bruukk

__ADS_1


Jiana terjatuh saat ingin berjalan menuju kamar mandi. Apa yang ia lihat seolah berputar dan membuatnya pusing. Jiana memegangi kepalanya dan kembali bangkit. Ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.


Ceklek


Raka masuk ke kamarnya dan terkejut melihat Jiana yang berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Dengan sigap ia memapah istrinya hingga ke dalam kamar mandi.


"Kenapa tidak memanggilku? Kamu masih sakit seperti ini, bagaimana jika terjadi sesuatu?" ujar Raka dengan panik. Kekhawatiran itu menyelimuti wajahnya dan nampak jelas.


"Aku pikir aku bisa sendiri, lagipula kamu tadi tidak di kamar, aku tidak mau merepotkanmu sayang," jawab Jiana. Raka menghela napasnya sejenak. Lalu ia membantu istrinya.


Setelah selesai, Raka menggendong Jiana menuju ranjang kembali. Ia merebahkan tubuh istrinya dengan pelan. Lalu ia duduk di tepi ranjang.


"Kita pulang saja ya. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," ucap Raka. Meskipun liburan ini sangat ia nanti, tetapi kondisi Jiana tidak memungkinkan untuk itu.


"Tidak mau, kita sudah sampai di sini. Aku tidak apa-apa kok, kita tetap lanjut liburan saja," jawab Jiana. Raka membuang napasnya dengan kasar. Ia mencubit hidung istrinya dengan gemas.


"Tapi mas..."


"Menurutlah," ucap Raka pelan dan mengecup bibir Jiana sekilas. Jiana pasrah dengan keputusan suaminya. Baru satu hari dan ia gagal untuk berlibur.


Tak lama setelah itu, pak Rio datang dengan membawakan mereka sarapan. Jiana dan Raka turun menuju meja makan. Mereka sarapan bersama. Raka menyuruh pak Rio untuk bersiap-siap pulang. Kondisi Jiana belum membaik dan itu membuatnya khawatir.


Selesai sarapan, Jiana berganti baju dan bersiap untuk pulang. Raka menaruh barang-barangnya kembali ke dalam koper. Setelah itu mereka keluar kamar dan menuju ke mobil. Pak Rio sudah siap untuk mengemudikan mobilnya.


Saat ingin masuk ke dalam mobil, Jiana merasakan mual dan muntah yang tak tertahankan. Ia berlari menuju kamar mandi terdekat dan memuntahkan isinya. Raka segera menyusul Jiana ke kamar mandi.

__ADS_1


"Lihatlah, sepertinya bertambah parah," ucap Raka. Jiana terlihat pucat dan lemas. Raka menuntun Jiana untuk duduk di sofa ruang tengah.


"Aku tidak apa-apa mas," jawab Jiana pelan.


"Kita ke rumah sakit terdekat dulu saja. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu," ujar Raka. Ia menggendong Jiana ke mobil dan memberitahu pak Rio untuk segera ke rumah sakit terdekat. Jiana hanya pasrah dan patuh pada suaminya. Ia menyandarkan tubuhnya pada suaminya sambil memejamkan matanya. Pak Rio segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Kalau kamu bilang tidak enak badan sebelumnya, kita tidak akan pergi sayang. Kenapa kamu diam saja?" ucap Raka merasa bersalah karena merasa telah memaksa istrinya untuk pergi berlibur dengannya.


"Aku juga tidak tahu. Kemarin aku baik-baik saja. Mungkin lelah karena perjalanan jauh. Maaf mas, aku merepotkanmu dan menghancurkan liburan kita," ucap Jiana sedih. Raka tersenyum tipis.


"Jangan bilang seperti itu," ujar Raka.


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Raka membawa Jiana ke UGD. Lalu ia mengurus administrasi sebentar. Dokter segera memeriksa Jiana secara menyeluruh. Ia juga menginfus Jiana. Raka setia berdiri di samping istrinya.


"Sus, tolong siapkan alat USG ya," ucap dokter tersebut. Perawat itu mengangguk dan segera menyiapkan apa yang diminta dokter itu. Tak lama kemudian, alat USG sudah berada di samping ranjang Jiana. Dokter memeriksa bagian perut Jiana dengan teliti.


"Dok, sebenarnya istri saya sakit apa ya?" Raka yang penasaran akhirnya angkat bicara. Dokter tersebut hanya tersenyum sambil fokus pada layar USG itu.


"Begini pak, setelah saya periksa ternyata istri Anda sedang hamil," ucap dokter yang mereka ketahui bernama Melly dari name tag nya.


Raka dan Jiana terkejut mendengar kabar tersebut. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Mereka berdua saking terkejutnya seolah menjadi linglung.


"Dokter tidak bercandakan?" tanya Raka. Dokter Melly menggeleng pelan. Raka sampai menjatuhkan air matanya karena merasa terlalu senang. Tiba-tiba diberi kejutan begitu besar tentu saja membuat mereka senang sekaligus terharu. Jiana pun juga demikian.


"Tapi, ada masalah dalam kehamilannya pak," ujar dokter Melly lagi. Jiana dan Raka langsung menatap dokter itu.

__ADS_1


"Maksud dokter?" tanya Raka dan Jiana bersamaan. Baru saja mereka mendapat kabar bahagia itu. Rasanya mereka tak ingin mendengar kabar buruk yang kemungkinan terjadi nanti.


__ADS_2