Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 68


__ADS_3

Dokter Melly menyuruh perawat untuk mempersiapkan kamar rawat Jiana. Karena kondisi Jiana yang seperti itu, tidak memungkinkan untuknya berobat jalan. Dokter menyarankan agar Jiana dirawat dua atau tiga hari di rumah sakit ini.


Setelah mendapatkan kamar rawat, dokter Melly menyuruh Raka untuk ikut ke ruangannya. Ada beberapa hal yang harus dokter Melly sampaikan padanya. Jantung Raka terpacu cepat. Ia takut dengan apa yang akan disampaikan oleh dokter nanti. Pasalnya, ia dan istrinya sudah lama menantikan kehadiran seorang bayi.


"Silakan duduk pak," ucap dokter Melly dengan ramah. Raka mengangguk dan duduk di kursi yang telah disediakan. Ia menghela napasnya berkali-kali mencoba menenangkan dirinya.


"Begini pak, dari hasil USG tadi, ibu Jiana mengalami ektopik atau hamil di luar kandungan. Itu sangat berbahaya bagi keselamatan bu Jiana sendiri jika tidak segera ditangani," tutur dokter Melly.


"Apa? Apakah ada cara untuk menyelamatkan mereka dok?" tanya Raka. Baru saja ia berbahagia dengan kabar yang menggembirakan ini, tapi itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, kehamilan istrinya kali ini tidak baik-baik saja.


"Tidak ada cara lain selain menggugurkan kandungannya pak. Lebih cepat lebih baik, jika tidak segera dilakukan maka akan mengancam nyawa bu Jiana sendiri," tutur dokter Melly lagi.


Raka tertegun mendengar penjelasan dari dokter Melly. Ia belum siap kehilangan calon bayinya. Namun, jika tidak segera ditindak justru nyawa istrinya yang akan menjadi taruhannya. Raka mengusap wajahnya dengan kasar. Saat ini ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Tapi dokter, bisakah bertahan lebih lama lagi? Setidaknya sampai usia kandungannya tujuh bulan?" ucap Raka. Ia sangat berharap jika ada cara untuk menyelamatkan keduanya. Dokter Melly tersenyum tipis. Ia sangat tahu apa yang dirasakan oleh Raka saat ini.


"Itu akan sangat beresiko pak," ucap dokter Melly.


Tubuh Raka seolah lemas. Ia bingung dengan keputusan yang sulit ini. Tetapi, ia juga tidak bisa membahayakan nyawa istrinya sendiri. Raka berulang kali menghembuskan napasnya dengan kasar. Tangannya mengepal tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia terdiam cukup lama. Berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahukan kabar ini pada istrinya.

__ADS_1


"Saya mohon Anda segera mengambil keputusan pak. Lebih cepat lebih baik," ucap dokter Melly. Raka menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Bisakah menunggu dua atau tiga hari dulu dok? Saya belum siap memberitahukan hal ini pada istri saya. Saya akan berkonsultasi dengan dokter yang ada di Jakarta saat kita pulang nanti," ujar Raka.


"Baiklah pak, saya tidak akan memberitahu bu Jiana terkait hal ini. Tetapi, jika Anda tidak segera melakukan tindakan, itu akan membahayakan nyawa istri Anda sendiri," balas dokter Melly. Raka mengangguk paham. Lalu ia pamit untuk kembali ke ruang perawatan istrinya.


Sepanjang perjalanannya, ia terlihat linglung. Raka harus merelakan calon anaknya untuk digugurkan demi kebaikan istrinya. Meskipun itu berat, tetapi ia harus melakukannya. Raka juga tidak ingin istrinya sampai kehilangan nyawanya. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam ruangam istrinya. Ia berusaha menampilkan senyumnya di depan istrinya. Ia belum sanggup memberitahukan hal ini pada Jiana.


"Mas, kenapa lama sekali? Apa kata dokter? Apa bayi kita baik-baik saja?" tanya Jiana. Raka hanya tersenyum tipis sambil terus melangkah mendekati ranjang. Lalu ia duduk di samping istrinya. Ia mengecup kening istrinya cukup lama.


"Tidak ada apa-apa. Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sakit?" tanya Raka dengan lembut. Ia memainkan rambut istrinya.


"Bagaimana aku mengatakannya padamu sayang? Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya padamu," batin Raka sedih. Ia terus menciumi puncak kepala istrinya. Jiana mendongak dan menatap suaminya. Ia tersenyum dengan manisnya dan itu semakin membut Raka tak tega untuk memberitahu kabar itu.


Raka menyuruh Jiana untuk berbaring dan beristirahat. Ia ingin menghubungi keluarganya perihal kondisi Jiana saat ini. Namun, Jiana menahannya dan tidak ingin membuat keluarganya cemas. Jiana ingin memberikan kejutan kepada keluarganya saat pulang nanti. Raka hanya tersenyum dan lagi-lagi mengecup kening istrinya dengan lembut. Matanya sudah berkaca-kaca, tetapi ia tahan agar Jiana tidak melihatnya.


Raka menemui pak Rio untuk memberitahukan bahwa Jiana akan dirawat di rumah sakit ini selama dua atau tiga hari sebelum pulang ke Jakarta. Raka juga meminta agar pak Rio tidak memberitahukan hal ini dulu pada keluarganya.


***

__ADS_1


Dua hari berlalu, Jiana setiap pagi selalu mual dan muntah bahkan semakin sering. Ia juga merasa pusing dan badannya lemas. Raut wajahnya juga pucat. Dokter Melly selalu mengingatkan Raka agar segera mengambil tindakan. Namun, Raka tidak sanggup memberitahukan kebenaran ini. Melihat istrinya yang begitu menginginkan seorang anak, ia tidak sanggup menghancurkan mimpi itu. Saat ini, Raka duduk di kursi tunggu di depan ruangan istrinya. Seperti biasanya, setiap pagi Jiana menjalani pemeriksaan rutin. Raka menunggu di luar sambil menenangkan dirinya. Ia mengusap wajah dan rambutnya berulang kali dengan kasar. Ia juga menghembuskan napasnya dengan kasar.


Dokter Melly keluar dari ruangannya. Raka seketika berdiri dan ingin tahu bagaimana kondisi istrinya saat ini.


"Pak, usia kandungannya baru satu bulan dan itu akan berbahaya jika terus dibiarkan begitu saja. Apapun kenyataannya, Anda harus segera memberitahu istri Anda untuk segera mengambil tindakan," ucap dokter Melly. Raka menghela napasnya sejenak.


"Saya tahu dok, saya akan memberitahu istri saya secepatnya," balas Raka. Sepahit apapun itu, ia tetap harus memberitahu istrinya. Cepat atau lambat, janin itu harus digugurkan demi keselamatan istrinya.


Dokter Melly tersenyum dan menepuk bahu Raka seolah memberikan penguatan agar mampu menerima kenyataan ini. Raka mengangguk tipis dan masuk ke dalam ruang perawatan.


"Mas, kamu dari mana?" tanya Jiana yang sambil membenahi posisi duduknya di atas kasur.


"Habis mengurus administrasi. Sayang, bagaimana kalau kamu dipindahkan ke rumah sakit yang ada di Jakarta saja," ucap Raka saat ikut duduk di samping istrinya.


"Harus dirawat lagi? Apa tidak bisa di rumah saja?" ujar Jiana sambil memanyunkan bibirnya.


"Semua ini demi kebaikanmu sayang. Aku juga sudah berkonsultasi dengan dokter kemarin. Kita bisa kembali ke Jakarta siang ini," ujar Raka. Jiana mengangguk pelan. Raka merengkuh istrinya dan mendekapnya dengan erat. Jiana pun juga membalas pelukan tersebut. Raka melepas pelukannya dan menatap istrinya.


"Sudah makan?" tanya Raka. Jiana menggeleng pelan. Lalu Raka mengambil makanan yang sudah tersaji di meja kecil dekat ranjang itu. Lalu ia menyuapi istrinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2