
"Raka, kamu cari satu pembantu ya untuk bantu-bantu aku. Aku benar-benar tidak sanggup kalau setiap hari harus mengurus rumah sendirian." Eluh Jiana setelah mereka selesai sarapan. Tetap dalam posisi yang sama. Jiana masih duduk dipangkuan Raka.
"Tidak!" Tolak Raka dengan tegas.
"Ayolah, apa kamu tidak kasihan terhadapku?" Ujar Jiana dengan memelas. Berharap Raka mengabulkan permintaannya.
Jiana memasang mode seimut mungkin agar Raka menyetujui permintaannya.
"Gampang. Aku carikan satu pembantu tapi kamu harus melayaniku." Balas Raka dan mencuri satu ciuman di bibir Jiana.
"Nggak bisa!" Bantah Jiana dengan cepat.
"Yaudah. Nikmati saja tugasmu ini sayang." Seru Raka dan menyeringai ke arah Jiana.
Jiana sungguh kesal. Usulannya tidak disetujui oleh Raka. Bahkan Raka mengiyakan tetapi dengan satu syarat. Jiana bangkit dari pangkuan Raka dan mulai membawa piring yang kotor ke dapur. Raka terkekeh melihat Jiana yang sedang kesal karena ulahnya.
***
"Selamat pagi pak Raka..."
"Selamat pagi pak.."
Sapa setiap karyawan yang ia temui kala ia memasuki kantornya. Raka mengangguk dan tersenyum tipis.
"Farrel, kamu atur pertemuan hari ini. Kalau bisa jangan terlalu jauh untuk lokasi meetingnya. Nanti istriku akan datang membawakanku bekal makan siang." Ujar Raka saat mereka berjalan menuju ruangannya. Farrel mengangguk paham.
"Selamat pagi pak Raka." Ucap seorang wanita muda dengan penampilannya yang begitu seksi dan berhasil menghentikan langkah Raka. Raka mengerutkan keningnya karena baru pertama kali ini ia melihat wanita itu di kantornya.
"Dia adalah Sandra. Pegawai baru dari bidang keuangan. Dia yang menggantikan Frans di sini tuan." Ucap Farrel yang paham dengan ekspresi Raka.
"Oh." Balas Raka singkat dan segera berlalu dari sana. Raka sungguh tidak tertarik dengan pegawai barunya itu.
__ADS_1
"Tampan sih, tapi dingin banget sih sifatnya. Sepertinya pak Raka masih single. Coba dekatin aja." Batin Sandra sambil senyum-senyum sendiri menatap kepergian direkturnya itu.
Raka mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Ia mulai membuka laptop di depannya.
Tok tok tok
"Masuk" Ucap Raka.
Sandra mulai memasuki ruangan Raka. Ia membawa nampan yang berisi secangkir kopi. Ia berjalan mendekat ke arah Raka dan menaruh kopinya di meja.
"Semoga pak Raka suka." Ucap Sandra dengan genitnya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Ujar Raka dengan dingin.
Sandra membeku, betapa dinginnya orang yang ada di sebelahnya saat ini.
"Sa-saya sendiri yang berinisiatif pak." Ucap Sandra dengan gugup.
"Ba-baik pak. Maaf." Sandra begitu ketakutan. Ia segera melangkah dari tempatnya.
"Tunggu!" Suara Raka menghentikan Sandra.
"Bawa kopi ini keluar juga. Saya tidak suka." Ucap Raka dengan datar.
Sandra mengepalkan tangannya. Ia berbalik dan segera mengambil kembali cangkir kopi tersebut. Ia buru-buru keluar.
"Galak banget sih." Gumam Sandra dengan kesal.
Ia segera menuju tempatnya dan menulis laporannya. Memulai kerjanya.
Waktu bergulir begitu cepat. Raka baru selesai meeting bersama beberapa kliennya. Sesuai permintaan Raka, setiap hari meetingnya dilaksanakan di tempat yang tak jauh dari kantor.
__ADS_1
"Selamat siang nona Jiana. pasti Anda ingin menemui direktur kan?" Sambut Vanya yang menyambut kedatangan Jiana. Jiana mengangguk dan tersenyum tipis.
"Silakan." Ucap Vanya dan membukakan pintunya. Jiana masuk ke dalam.
"Aku taruh di sini ya. Aku buru-buru, hari ini ada kelas." Ucap Jiana yang dengan buru-buru menyiapkan makan siang untuk Raka.
Raka melangkah menghampiri Jiana. Ia memeluk Jiana dari belakang, menghirup aroma tubuh istrinya itu.
"Kenapa pakai pakaian seperti ini ke kampus?" Tanya Raka setelah mengecup tengkuk Jiana.
"Apa ada masalah?" Balas Jiana sambil melepas tangan Raka yang memeluk pinggangnya.
"Iya. Kenapa menggunakan pakaian yang begitu memperlihatkan lekuk tubuhmu? Aku tidak suka." Ujar Raka dan kini membalikkan tubuh Jiana agar menghadap ke arahnya.
Pasalnya, Jiana memakai rok hitam yang panjangnya hanya sampai di atas lututnya dan kemeja bunga-bunga berwarna merah muda yang menambah kesan cantiknya ia. Dengan rambutnya yang dikuncir satu agak tinggi.
"Memang seperti ini kan pakaianku setiap harinya." Balas Jiana.
"Nggak bisa! Kamu harus ganti!" Ucap Raka dengan tegas.
"Apasih. Aku sudah terlambat ini." Balas Jiana dan ia mendorong Raka agar sedikit menjauh darinya.
"Ya sudah, kalau tidak mau ganti gak usah ke kampus." Ucap Raka dengan dingin.
Jiana mendengus dengan kesal. Apa-apaan suaminya itu. Raka selalu saja membatasi dan melarang Jiana melakukan ini itu. Raka juga membatasi pertemanannya dengan laki-laki waktu di kampus. Bahkan ia tidak diperbolehkan satu kelompok dengan seorang pria waktu ada tugas di kampusnya. Tetapi jika itu menyangkut Raka, dengan gampangnya Raka menyuruh Jiana agar menuruti kemauannya.
"Iya sayang, aku akan ganti setelah ini. Aku pergi dulu, ini sudah terlambat." Ucap Jiana pasrah. Ia terpaksa mengiyakan kemauan Raka.
"Oke, aku akan suruh seseorang untuk mengawasimu. Siapa tahu kamu nanti membohongiku." Ucap Raka dan mengecup bibir Jiana sekilas.
"Terserah!" Kini Jiana sudah terbiasa dengan pengawasan dari orang suruhan Raka. Daripada ia berdebat tidak jelas di sini, itu akan menghabiskan waktunya dan ia akan terlambat masuk kelas.
__ADS_1