
Keesokan harinya...
Saat ini mereka sedang berada di ruang makan untuk sarapan bersama. Momen kebersamaan yang selalu ada hampir setiap pagi. Pagi ini juga, Raka akan mengajak Jiana untuk berkunjung ke salah satu panti asuhan yang telah ia datangi kemarin.
Selesai sarapan, mereka langsung bersiap. Setelah berpamitan dengan bi Lastri, mereka langsung bergegas ke tempat tujuan. Di sepanjang perjalanan, Jiana hanya menatap luar jendela dengan bingung. Pasalnya, suaminya tak memberitahunya ke mana akan mengajaknya kali ini. Sesekali ia melirik suaminya yang tengah fokus dengan kemudinya.
"Mas, kita mau ke mana sih? Sepertinya bukan ke arah kantor deh," ujar Jiana karena sudah penasaran sedari tadi. Raka tersenyum sekilas sembari menatap istrinya. Ia kembali fokus pada kemudinya. Merasa diabaikan, Jiana lalu menyandarkan dirinya di lengan Raka. Ia bergelayut manja sambil sesekali menatap wajah suaminya.
"Mas," panggil Jiana dengan lembut.
"Hmm.."
"Kamu mau bawa aku ke mana sih?" tanya Jiana untuk kedua kalinya. Raka menatap istrinya lalu mengecup keningnya dengan lembut. Lalu beralih lagi fokus dengan kemudinya. Merasa terabaikan lagi, Jiana hanya memanyunkan bibirnya dan menatap dengan kesal suaminya itu. Ia kembali membenahi posisi duduknya dan lebih memilih menatap ke arah luar jendela. Melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan seperti itu, membuat Raka menahan tawanya. Sungguh lucu dan menggemaskan dimatanya.
Hingga pada akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi mulai memasuki halaman yang begitu asing bagi Jiana. Ia semakin penasaran setelah melihat sebuah tulisan panti "Griya Indah" yang telah mereka lewati tadi.
"Sayang, kita sudah sampai," ujar Raka. Ia melepas sabuk pengamannya lalu menatap istrinya.
__ADS_1
"Mas, bukankah ini..." Ucap Jiana sambil menatap suaminya. Raka mengangguk sebelum kalimat yang diucapkan istrinya terselesaikan.
"Ayo, aku akan mengenalkanmu pada mereka semua," ujar Raka. Mereka turun dari mobil dan langsung berjalan menuju ruangan bu Irin.
"Bu, ini istri saya Jiana. Sayang, ini bu Irin, pengasuh panti asuhan ini," ucap Raka mengenalkan mereka berdua. Bu Irin dan Jiana saling berjabat tangan dan tersenyum ramah. Mereka bertiga mengobrol sejenak sebelum menuju ke tempat anak-anak.
Beberapa saat kemudian, bu Irin membawa Raka dan Jiana untuk bertemu dengan anak asuhnya. Untuk saat ini, tak banyak anak yang ia asuh. Karena banyak dari mereka yang sudah diadopsi oleh orang tua angkat yang lebih bisa menjamin kehidupan dan masa depan mereka.
"Anak-anak, ayo sini kenalkan. Ini pak Raka dan bu Jiana," ujar bu Irin kepada anak-anak asuhnya. Mereka langsung berhamburan mendekat dan secara bergantian bersalaman dengan Raka dan Jiana.
"Aku mau banget mas," balas Jiana lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa sangat bahagia hanya dengan melihat dan bermain bersama mereka. Dan tentunya ini sedikit mengobati luka batinnya akibat tekanan akan sulitnya memiliki seorang anak.
Melihat istrinya yang begitu bahagia, Raka merasa lega. Sudah sekian lama, ia hampir lupa bagaimana Jiana bisa sebahagia ini. Ia merangkul bahu istrinya dan mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya senyuman bahagia itu kembali pada istriku. Jiana, aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu," batin Raka.
"Kalau begitu, aku tinggal dulu ya. Bu Irin, saya titip istri saya," ucap Raka. Ia juga tidak bisa lama-lama berada di sana karena harus bekerja. Setelah itu, Raka menuju ke kantornya untuk bekerja sedangkan Jiana menghabiskan waktunya bersama anak-anak yang ada di panti tersebut.
__ADS_1
Jiana begitu antusias membantu bu Irin mengurus mereka. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Begitu lama kebahagiaan itu telah hilang dalam dirinya. Kini, berkat mereka, senyum Jiana seolah kembali lagi. Bu Irin pun turut bahagia. Pasalnya, anak-anak asuhnya juga senang dengan kehadiran Jiana di sana.
Mulai dari bermain, membantu belajar, dan lainnya pun Jiana turut serta di dalamnya. Kehadiran mereka telah membuat dunia Jiana kembali cerah.
***
Waktu pun seakan bergulir begitu cepat. Setelah membantu bu Irin menyiapkan makan siang untuk anak-anak, kini Jiana ikut membantu mengambilkan makanan untuk mereka.
"Nona, jangan lupa makan juga," ujar bu Irin mendekati Jiana. Jiana tersenyum lebar sambil menatap bu Irin.
"Panggil Jiana saja bu. Oh iya, terima kasih sudah mengizinkan saya di sini bu," ucap Jiana. Bu Irin mengangguk pelan.
"Justru saya yang senang. Anak-anak jadi tambah semangat untuk belajar. Jujur, saya juga jarang menemani mereka bermain ataupun belajar. Karena saya juga sibuk dengan urusan lain," tutur bu Irin sambil menatap anak-anak asuhnya yang sedang makan dengan lahapnya.
"Sebenarnya saya juga sangat ingin memiliki buah hati secepatnya bu. Tetapi, Tuhan belum mengizinkan kami untuk memilikinya. Saya beruntung, suami saya sangat pengertian. Namun, sebagai seorang istri, ini adalah tekanan untuk saya. Saya merasa belum sempurna menjadi seorang istri untuknya," ucap Jiana lalu tersenyum getir kala ia membayangkan betapa menyedihkannya dirinya. Bu Irin yang seolah paham dengan kesedihan Jiana hanya bisa menghibur sebisanya.
"Sabar adalah kunci dari segala masalah. Ibu yakin, suatu saat nanti kalian pasti akan bisa mendapatkan kebahagiaan itu," tutur bu Irin lalu tersenyum. Ia meraih tangan Jiana dan mengusapnya. Seolah memberikan dukungan agar ia tetap sabar dan tak putus asa.
__ADS_1