
Jiana masih menatap Raka dengan lekat. Ia menanti jawaban dari Raka. Matanya tak berkedip sekalipun. Sampai Raka memajukan wajahnya saja Jiana tak menyadari.
Cup
Satu kecupan manis tepat di bibir Jiana. Jiana melongo dan segera mendorong Raka dari hadapannya.
"Raka?" panggil Jiana ingin mengetahui jawabannya. Raka tersenyum tipis dan mendekat ke arah Jiana.
"Kan sudah pernah aku bilang sayang, kalau kamu butuh pembantu kamu harus melayaniku dulu," seringai Raka ke arah Jiana.
"Nggak mau! Jangan harap mendapatkan itu dariku ya!" suara Jiana agak meninggi.
"Ka-kalau hanya peluk dan cium aku mau. Tapi kalau itu, aku belum bisa Rak," ucap Jiana lagi. Ia menunduk sambil meremas jemarinya.
Raka menatap Jiana dalam diam. Jika saja ia ingin nekad, saat ini juga Jiana sudah habis dimakannya. Tidak perlu memohon dengan cara seperti ini. Bagaimanapun juga Raka berhak atas diri Jiana. Namun Raka lebih menghormati keputusan Jiana. Ia ingin melakukannya jika Jiana benar-benar mau menerimanya menjadi suaminya seutuhnya.
"Oke, kalau begitu aku mau kamu cium aku," jawaban yang terlontar dari mulut Raka.
__ADS_1
Jiana mendongak, ia berpikir sesaat sebelum memutuskan untuk menyetujuinya.
"Ayolah Jiana, hanya satu ciuman saja kan? pikirkan bagaimana sehari-harimu tanpa ada pembantu," gumam Jiana yang masih ragu untuk mengiyakan syarat dari Raka.
Jiana mendekatkan tubuhnya agar lebih mudah untuk mencium Raka. Berulang kali Jiana menghela napasnya panjang. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan dalam hatinya. Raka menatap Jiana dengan lekat dan tersenyum tipis.
Cup
Satu kecupan dipipi Raka berhasil mendarat. Ia segera menjauhkan dirinya sedikit. Raka mengernyitkan dahinya.
"Bukan yang dipipi sayang yang aku mau," ucap Raka dan merengkuh Jiana ke dalam dekapannya.
Satu kecupan dibibir Raka. Namun saat Jiana ingin menyudahi, Raka menahan tengkuk Jiana dan melumatnya dengan pelan. Jiana memberontak dengan memukul-mukul pelan lengan Raka. Namun Raka tak melepaskan tautan mereka. Bahkan semakin dalam dan semakin bergairah.
Lambat laun, Jiana mengikuti irama yang diberikan oleh Raka. Tangannya perlahan mengalungkan ke leher Raka. Mendapat respon positif, Raka mendorong pelan tubuh Jiana dan menindihnya.
Tangan Jiana ia kunci di atas kepala Jiana. Raka terus menciumi bibir yang setiap hari hanya bisa ia pandang ini.
__ADS_1
Uhh
Jiana menggeliat kecil. Dirinya benar-benar terbuai oleh perlakuan lembut yang diberikan oleh Raka. Perlahan namun pasti, satu persatu tangan Raka membuka pakaian yang melekat pada tubuh Jiana hingga Jiana telanjang bulat.
Raka melepas ciumannya dan membuka pakaiannya sendiri dengan kasar. Raka menyusuri setiap lekuk tubuh Jiana dengan bibirnya. Tangannya tak tinggal diam. Meremas benda sigtal yang membuatnya begitu tergoda.
Tersadar atas apa yang akan dilakukan Raka padanya, Jiana buru-buru mendorong dada Raka agar menjauh dari tubunnya. Namun tubuh Raka sama sekali tak bergerak menjauh dan justru di bawah sana berusaha untuk menyusup ke dalam.
"Raka, hen-hentikan," ujar Jiana sambil menahan sedikit rasa sakit. Ia menggigit bibir bagian bawahnya. Tangannya masih dikunci di atas kepalanya.
"Apa sayang," bisik Raka dengan mesra. Ia menggigit kecil telinga Jiana yang membuat Jiana sedikit geli. Raka masih berusaha memasukkan miliknya dengan hati-hati.
Selain pasrah tidak ada hal lagi yang bisa ia lakukan. Keputusannya menyetujui syarat Raka adalah kesalahan fatal baginya. Meskipun ia menyadari bahwa itu akan terjadi juga. Namun ia juga tidak menyangka akan terjadi secepat ini.
"Aaahhh..." suara yang lolos dari bibir kecil Jiana. Milik Raka berhasil menyusup ke dalam. Raka berhenti sejenak. Mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Raka cepat hentikan!" Jiana masih berusaha menghentikan Raka meskipun ia tahu itu percuma.
__ADS_1
Raka justru mencium kembali bibir Jiana dan kini sambil memainkan miliknya. Sore itu menjadi saksi penyatuan mereka.