Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 33


__ADS_3

Paginya, Jiana bangun namun dirinya malas untuk beranjak dari kasurnya. Ia menggeliat dan melihat ke sampingnya. Raka sudah tidak ada di tempat tidur.


Klek


Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Raka yang baru saja mandi. Ia hanya menggunakan handuk yang melilit setengah badannya. Karena panik, Jiana memilih pura-pura tidur kembali.


"Masih nggak mau bangun? Aku tahu kamu sudah bangun kok," ujar Raka sambil membuka almari dan mencari bajunya.


Jiana mengintip Raka dari balik selimutnya. Kemudian Jiana duduk dan bersandar di ranjang.


"Mau ke kantor?" tanya Jiana. Raka menoleh sekilas dan mengangguk. Ia mulai memakai pakaiannya.


"Raka, kalau mau ganti baju di kamar mandi sana!" ujar Jiana yang tak sengaja melihat Raka dengan percaya dirinya memakai baju di depan istrinya. Jiana memalingkan wajahnya dan pipinya memerah.


Raka hanya acuh sambil terkekeh. Bahkan ia telanjang bulat tanpa mengenakan sehelai kainpun yang menutupinya.


"Kenapa? Nggak boleh ganti baju di sini?" ucap Raka melirik ke arah Jiana yang masih menyembunyikan wajahnya.


"Dasar nggak tahu malu!" gerutu Jiana dari balik selimutnya.

__ADS_1


Setelah selesai, Raka mendekati Jiana. Ia duduk di tepi ranjang.


"Mandi sana! Jangan jorok!" ujar Raka sambil menarik selimutnya.


"Bodo amat!" jawab Jiana lalu menjulurkan lidahnya.


"Jangan jorok sayang. Buruan mandi habis itu sarapan. Aku tunggu di bawah," ucap Raka sambil berdiri dan membenarkan jasnya sejenak.


Ia meninggalkan Jiana di kamar. Raka menuju meja makan. Ia sudah memesan makanan via online tadi pagi. Ia tahu jika Jiana akan terlambat untuk bangun pagi. Raka harus benar-benar bersabar dengan sikap Jiana.


Beberapa menit kemudian, Jiana sudah siap dengan dandanan khasnya. Ia menuruni tangga sambil tangannya menenteng tas ranselnya. Ia sudah rapi dengan balutan baju yang lumayan menarik perhatian. Raka hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Istrinya ini memang bandel. Berapa kalipun diberi tahu, Jiana tetap saja memakai pakaian yang lumayan seksi menurutnya.


"Mau ke kampus sebentar," jawab Jiana. Ia menarik kursi dan duduk di sana. Jiana meletakkan tas dan ponselnya di atas meja.


"Mau sekalian sama aku saja?" tanya Raka yang mulai menyendok makanannya.


"Nggak usah. Aku naik taksi saja," jawab Jiana santai.


"Ya sudah terserah. Pulang jam berapa?" tanya Raka kembali.

__ADS_1


Jiana menghentikan makannya. Ia meneguk air putih sedikit.


"Kepo banget sih. Seperti biasanya. Kenapa? Takut aku jalan sama cowok lain?" ujar Jiana asal dan kembali memakan makanannya.


"Ya nggak gitu. Siapa tahu nanti aku mau jemput gitu. Sekalian kita jalan-jalan ke mana gitu," jawab Raka. Ia sudah selesai makan. mengelap bibirnya dengan tissu kemudian meneguk air putih yang ada di gelas hingga habis.


Jiana berpikir sejenak. Ia memutar-mutar bola matanya.


"Boleh sih. Tapi yakin kamu ada waktu buat nemenin aku jalan?" tanya Jiana pelan.


Raka mengacak rambut Jiana dengan gemas. Dirinya juga tertawa kecil.


"Apapun untuk kamu asal aku bisa akan aku lakukan. Asal bukan minta cerai saja," jawab Raka santai. Jiana memanyunkan bibirnya. Menatap Raka dengan tatapan kesal. Raka tersenyum tipis dan meraih tengkuk Jiana. Ia mencium kening Jiana.


"Ya sudah, aku berangkat dulu. Kamu juga hati-hati. Ingat, jangan dekat-dekat dengan cowok lain. Kalau ada apa-apa jangan lupa telepon," ucap Raka panjang lebar.


"Iya-iya, punya suami satu bawel banget sih," gerutu Jiana dan dirinya membereskan bekas makannya tadi sebelum berangkat ke kampus.


Jiana berangkat ke kampus dengan taksi. Ia tidak ingin ada gosip yang tidak-tidak. Karena pernikahannya dengan Raka saja tertutup. Ia harus merahasiakannya dulu sampai ia benar-benar yakin bahwa dirinya menerima Raka sepenuhnya menjadi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2