Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 61


__ADS_3

Keesokan harinya, Desi berniat untuk menemui Mira. Ia ingin membicarakan masalah putrinya yang didesak olehnya agar segera memiliki keturunan. Desi tidak terima jika Mira menekan Jiana dalam hal itu. Desi juga tidak habis pikir, Mira yang begitu penyayang bisa berbuat demikian.


Setelah sarapan pagi, Desi berniat untuk ke rumah Mira tanpa memberitahukan kepada Jiana dan Raka. Ia tidak ingin membuat menantu dan anaknya khawatir padanya.


Desi keluar dari kamarnya sambil menenteng tasnya. Ia sudah bersiap untuk pergi. Desi menghampiri Jiana yang masih di dapur untuk mencuci piring yang kotor.


"Sayang, mama pergi arisan dulu ya," pamit Desi. Jiana mengernyitkan dahinya.


"Tumben mama ikut arisan? Sejak kapan?" tanya Jiana. Karena selama ini ia jarang melihat mamanya pergi keluar untuk arisan.


"Sebenarnya hanya ingin bertemu teman lama mama. Dan kebetulan dia lagi mengadakan arisan di rumahnya," ucap Desi. Jiana mengangguk paham. Desi keluar rumah dan segera masuk ke mobil. Ia diantar oleh pak Rio hingga ke rumah Mira.


Setelah selesai mencuci piring, Jiana langsung bergegas ke kamarnya. Raka baru selesai mandi dan kini tengah bersiap untuk pergi ke kantor. Jiana mengambil dasi dan langsung mengikatnya pada leher Raka. Ia membantu suaminya bersiap ke kantor. Raka tersenyum manis menatap istrinya.


"Hari ini ada jadwal ke kampuskah?" tanya Raka. Jiana mengambil jas Raka yang ada di sofa dan membantu memakaiannya.


"Tidak, aku hari ini di rumah," jawab Jiana. Raka mengangguk. Mereka keluar kamar menuju teras rumah. Raka pamit untuk berangkat bekerja. Tak lupa Jiana mencium punggung tangan suaminya. Sebaliknya, Raka mencium kening dan pipi Jiana dengan mesra. Setelah memastikan Raka berangkat ke kantor, Jiana masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia membantu mamanya untuk membersihkan rumah.


Di tempat lain, Desi sudah sampai di depan rumah Mira. Tanpa ragu ia menuju ke depan pintu dan memencet bel yang ada di sana. Ia bahkan berkali-kali memencet bel rumah tersebut. Mira membuka pintunya dan terkejut dengan kedatangan Desi ke rumahnya.


"Mbak Desi, apa kabar?" tanya Mira senang. Ia mempersilakan Desi masuk ke dalam rumahnya. Desi duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Mira menuju ke dapur untuk menyiapkan minuman dingin untuknya dan Desi.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, aku ke sini mau menanyakan sesuatu ke kamu," ucap Desi. Mira mengangguk.


"Kenapa kamu memaksa Jiana untuk segera memiliki keturunan? Mereka masih muda, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita sebagai orang tua harusnya jangan ikut campur pada urusan rumah tangga mereka," tutur Desi. Ia tidak akan terima jika putrinya disakiti oleh siapapun.


Mira menghela napasnya pelan. Ia sebenarnya juga tidak ingin melakukan hal ini. Namun setiap kali ia bertemu dengan teman-temannya, Mira merasa iri pada mereka yang sudah memiliki cucu.


"Aku tidak bermaksud seperti itu mbak. Aku minta maaf akan hal ini. Mungkin tanpa sadar aku sudah menyakiti Jiana," ujar Mira menyesal.


"Jangan pernah kamu mengulanginya lagi Mira, beban mereka sudah banyak. Bukan cuma kamu yang menantikan kehadiran bayi itu, tetapi mereka juga. Kamu jangan egois," ucap Desi. Mira hanya menunduk malu. Ia menyesal telah mengatakan hal sejahat itu.


Setelah memperingatkan Mira, Desi pamit untuk kembali pulang. Ia hanya ingin memastikan jika Mira tidak akan berulah lagi dan ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Biarkan waktu yang menjawab segalanya.


Selepas kepergian Desi, Niha datang berkunjung ke rumah orang tua Raka. Ia ingin mendekati kembali orang tua Raka terlebih dahulu.


"Niha? Astaga, kapan kamu pulang ke Indonesia?" ucap Mira tak percaya. Mira pernah menjadikan Niha sebagai kandidat sebagai calon istri Raka. Namun Raka menolak dan memilih untuk menunggu Jiana. Niha memang sering ke rumah orang tua Raka saat dulu mereka masih kuliah. Bahkan sudah akrab dan sering belanja bersama jika ada waktu luang.


Mira memeluk Niha. Mereka duduk dan mengobrol di ruang tamu. Niha sangat yakin jika kali ini dirinya bisa mendapatkan kepercayaan Mira kembali dan mendukungnya untuk bersatu dengan Raka.


"Tante, kenapa tante tidak mengabariku saat Raka menikah?" tanya Niha sedih.


"Maaf ya, tante tidak mengabarimu. Acaranya diadakan tertutup. Tamu undangan juga terbatas hanya beberapa teman dan sahabat saja," ujar Mira.

__ADS_1


"Kamu sudah bertemu dengan Raka?" tanya Mira.


"Iya, tapi istrinya tidak suka terhadapku. Dia bahkan mengusirku dengan kasar tante," balas Niha sedih. Mira juga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Putranya sudah menikah dan ia juga sudah berjanji untuk tidak mengganggu rumah tangga putranya.


Niha menceritakan keluh kesahnya saat berada di luar negeri. Ia bahkan menceritakannya sedramatis mungkin agar Mira kasihan padanya. Namun respon Mira hanya biasa saja. Mira hanya menganggap Niha sebagai sahabat Raka dulu, ia tidak punya keinginan untuk menjadikan Niha sebagai menantunya lagi. Karena putranya sudah memilih Jiana sebagai pendamping hidupnya.


Tanpa malu, Niha menceritakan perihal perasaan yang dimilikinya untuk Raka pada Mira. Niha berharap Mira mau membantunya untuk mendekati Raka kembali.


"Tante tidak bisa membantumu lagi. Raka sudah menentukan pilihannya dan dia bahagia bersama istrinya," ucap Mira.


"Iya, andaikan waktu itu aku tidak pergi ke luar negeri begitu saja, mungkin aku ada kesempatan untuk bersama Raka," ucap Niha. Ia meneteskan air matanya seolah bersedih dengan keputusannya dulu. Mira memeluk Niha dan mengusap punggungnya.


Di rumah, Jiana selesai membereskan rumah. Ia duduk di sofa ruang keluarga. Tidak ada pekerjaan lagi untuknya. Skripsinya juga tinggal sedikit lagi selesai.


"Masakin buat Raka deh untuk makan siang nanti. Sudah lama aku tidak menyiapkan makan siang untuknya," batin Jiana. Ia mengambil ponselnya dan melihat-lihat referensi menu makanan untuk nanti siang. Setelah dapat, Jiana menuju ke dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia. Ternyata hanya tinggal beberapa saja. Jiana langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya. Jiana bergegas untuk ke supermarket dengan mengendarai taksi online.


Sesampainya di sana, Jiana langsung memilih bahan makanan yang akan ia beli. Jiana sibuk memilih berbagai macam sayuran dan buah-buahan. Ia berganti dari satu tempat ke tempat yang lain sambil mendorong trolinya yang berisi berbagai bahan makanan yang sudah ia pilih.


Jiana terhenti pada salah satu produk susu untuk persiapan ibu hamil. Jiana mengambil satu susu tersebut dan membacanya terlebih dahulu. Kata-kata mertuanya selalu terngiang dalam benaknya.


"Coba satu dulu deh, siapa tahu cocok," batin Jiana. Ia mengambil satu susu dengan rasa coklat. Ia menaruhnya ke dalam troli.

__ADS_1


"Waahh, kebetulan kita bertemu di sini," ucap seorang wanita yang berdiri di samping Jiana. Jiana langsung menatap wanita itu dengan kesal.


__ADS_2