Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 51


__ADS_3

Jiana memasuki rumahnya dengan gontai. Ia pergi menuju kamarnya tanpa melihat Raka yang sedang duduk di ruang tengah.


"Dari mana?" tanya Raka yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Habis bertemu Sarah," balas Jiana malas. Ia terus melangkah.


"Jadi laki-laki tadi namanya Sarah?" ucap Raka. Ia berucap tanpa menatap Jiana. Jiana terdiam kaku di tempatnya. Dirinya seketika menghentikan langkahnya. Jiana terkejut saat Raka mengetahui siapa yang ia temui. Namun ia juga tidak salah, Sarah yang meninggalkan mereka berdua tadi di kafe.


"Bukan, hanya teman kampus. Tadi juga ada Sarah kok," jawab Jiana. Raka berdiri dan melangkah menuju tempat Jiana. Ia menatap Jiana dengan lekat.


"Apa dia pacar gelapmu?" tanya Raka.


"Bukan! Sudah aku bilang dia hanya teman kampus," jawab Jiana. Ia kembali melangkahkan kakinya. Namun Raka menarik tangan Jiana dan kini mendorong Jiana hingga ke pagar tangga.


"Sepertinya aku terlalu memanjakanmu beberapa hari ini sayang," bisik Raka penuh penekanan. Jiana tahu jika Raka sedang marah padanya. Namun Jiana malas beradu mulut dengan Raka yang sedang cemburu seperti itu.


"Aku tidak melakukan apapun Raka, dia hanya datang untuk meminta maaf padaku saja. Kamu jangan berpikiran terlalu jauh," ucap Jiana agar Raka mengerti posisinya.


"Apa perlu aku ingatkan bahwa sekarang kamu adalah istri dari Raka Sanjaya? Jika kamu lupa, maka akan aku ingatkan padamu!" ucap Raka penuh penekanan. Ia menarik Jiana menuju kamar.


"Raka, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" ujar Jiana sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Raka. Karena Raka menggenggamnya dengan kuat dan menarik tangan Jiana dengan kasar.


"Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu berkali-kali? Jangan mencoba berdekatan dengan pria lain Jiana!" ucap Raka. Ia mendorong Jiana hingga jatuh di atas kasur dan ia segera menindih Jiana.


Raka mencium bibir Jiana dengan kasar. Tangannya mengoyak pakaian yang Jiana kenakan. Ia terus menciumi bibir Jiana dan menggigitnya dengan rakus. Raka melepas ciumannya sejenak. Ia menatap Jiana dengan tajam.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Rama. Tadi hanya pertemuan tidak sengaja, Sarah yang membawanya," ujar Jiana.


"Benarkah?" ucap Raka sambil tersenyum sinis. Ia bangkit dan menarik pakaian Jiana dengan kasar. Sehingga tubuh Jiana hanya tinggal berbalut pakaian dalamnya.


"Sakit sekali, Raka menciumku dengan sangat kasar," batin Jiana sambil mengusap bibirnya.


Raka kembali memulai aksinya. Ia bahkan mencium bibir, leher, dan dada Jiana dengan kasar. Jiana sampai mengeluarkan air matanya menahan sakitnya.


"Raka, kita bicarakan ini secara baik-baik. Ini sakit," rintih Jiana menahan perihnya.

__ADS_1


Raka hanya menyeringai. Ia menatap lekat Jiana yang sedang kesakitan akibat ulahnya.


"Kalau aku tidak mau?" ucap Raka. Ia kembali menyusuri setiap lekuk tubuh Jiana.


Kini, yang dilakukan Raka sedikit lembut. Jiana menggeliat saat merasakan sensasi yang tersirat di tubuhnya. Napasnya terengah dan kini tubuhnya mulai memanas. Bahkan ia tak punya tenaga lagi untuk menolak dan menghentikan Raka. Dirinya hanyut dalam permainan suaminya itu.


Raka sudah berhasil menyatukan miliknya dengan istrinya. Ia mulai bergerak pelan sambil terus menatap tajam ke arah istrinya.


"Ingatlah baik-baik! Kamu adalah milikku! Jangan harap kamu akan pergi dariku. Dan jangan ulangi lagi untuk bertemu dengan lekaki tadi!" ucap Raka.


"A-aku tidak pernah punya pikiran seperti itu Raka," ucap Jiana dan sesekali menggigit bibir bagian bawahnya.


"Lebih baik seperti itu! Malam ini terimalah hukumanmu sayang. Aku tidak akan melepasmu sekalipun kamu merintih kesakitan," bisik Raka. Ia mulai mempercepat pergerakannya.


"Raka!! Sialan kamu!!" teriak Jiana. Raka hanya tersenyum tipis.


***


Pagi harinya, Raka sudah bersiap untuk ke kantor. Saat ia sedang mengikat dasinya, ia melihat bekas merah sedikit kebiruan akibat ulahnya. Raka mendekati istrinya dan mengusap tanda merah itu.


"Isshh.." rintih Jiana. Ia perlahan membuka matanya.


"Kamu lihatkan akibatnya jika kamu berani bertemu dengan pria lain," ucap Raka. Jiana hanya diam. Badannya sakit semua dan ini karena kesalahan Sarah yang sudah mempertemukannya dengan Rama.


"Kamu mandilah jika ingin berangkat kerja. Kalau tidak, lanjutkan tidurmu saja," ucap Raka.


"Aku mau kerja. Kamu tunggu di bawah saja," ucap Jiana. Raka mengangguk dan melangkah menuju meja makan untuk sarapan.


Selesai bersih diri, Jiana menuruni tangga menuju meja makan dan sarapan bersama Raka.


"Raka, nanti ada meeting di luar gak?" tanya Jiana. Raka hanya menatap Jiana sekilas.


"Tidak ada, memangnya kenapa?" tanya Raka datar.


"Kenapa sih sikapnya aneh banget hari ini," batin Jiana.

__ADS_1


"Sudah selesai sarapankan? Ayo berangkat," ucap Raka. Ia meninggalkan Jiana di ruang makan. Ia bergegas menuju mobil.


"Hah? ninggalin gitu aja?" ucap Jiana.


"Bi, Jiana berangkat kerja dulu ya," ucap Jiana pamit pada bi Lastri.


"Iya nyonya, hati-hati di jalan," jawab bi Lastri ramah. Jiana mengangguk dan segera menghampiri Raka.


Saat ini mereka sudah dalam perjalanan. Raka yang biasanya bersikap hangat pada Jiana justru hari ini berbanding terbalik.


"Apa dia masih marah?" gumam Jiana sambil melirik Raka yang sedang fokus mengemudi.


"Sayang, kamu masih marah sama aku?" tanya Jiana lembut.


"Tidak!" jawab Raka singkat.


"Apa-apaan dia. Jelas-jelas masih marah. Ya sudah deh, nanti aku akan cari cara agar Raka tidak marah lagi. Semua ini gara-gara Sarah, hem," gumam Jiana.


Tanpa Jiana sadari, saat ini mereka sudah sampai di parkiran kantor. Raka segera turun dari mobil. Jiana yang sadar sudah sampai di kantor, ia segera keluar dari mobil.


"Sayang, nanti makan siang bersama ya," ucap Jiana.


"Iya, aku ke ruanganku duluan," ucap Raka. Jiana mengernyitkan dahinya sambil menatap kepergian Raka. Jiana mendengus kesal dan berjalan menuju ruangannya.


Ia sudah sampai di ruangannya. Namun pikirannya masih mengarah ke suaminya yang sedang marah padanya. Jiana merasa bingung bagaimana caranya agar Raka tidak marah lagi padanya. Ini pertama kalinya Raka semarah ini. Biasanya hanya satu malam saja.


"Pagi Ji," sapa Sarah.


Jiana menatap Sarah dengan lekat. Ia tiba-tiba menampar Sarah dengan cukup keras.


Plaaakk


"Ini untuk kamu yang sudah mempertemukanku dengan Rama. Kamu tahu kan kalau Raka sangat cemburuan? Kamu sengaja membuat pertikaian antara kami?" ucap Jiana meluapkan emosinya.


"Ji, aku minta maaf sama kamu," ucap Sarah merasa bersalah.

__ADS_1


"Sudahlah, aku nggak mau bicara sama kamu dulu," ucap Jiana. Ia kembali ke meja kerjanya. Suasana hatinya saat ini sedang tidak baik.


"Ji, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu jika pak Raka tahu pertemuanmu dengan kak Rama," ujar Sarah. Ia melangkah menuju meja kerjanya.


__ADS_2