Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 64


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu. Sudah satu minggu lebih Jiana dan Raka tinggal di rumah itu. Tak banyak hal yang Jiana lakukan juga. Ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama suaminya. Untuk saat ini mereka tak akan memikirkan perihal anak dulu. Jiana lebih fokus mengurus Raka semaksimalnya.


Lusa adalah hari wisuda untuk Jiana. Setelah menyelesaikan skripsinya dengan baik dan meraih IPK tertinggi pada tingkatnya, Jiana dinyatakan lulus bahkan banyak perusahaan yang menawarkan dirinya untuk bekerja di sana.


Saat ini, Jiana dan Raka sedang berada di dalam kamarnya. Raka merebahkan dirinya sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Jiana membuka laptopnya untuk sekedar melihat-lihat perusahaan mana yang cocok dengannya.


"Mas, aku boleh bekerja?" tanya Jiana pada suaminya. Ya, semenjak hari itu saat Jiana ditegur oleh ibunya, Jiana tak lagi memanggil suaminya dengan sebutan Raka.


Raka yang fokus dengan ponselnya langsung menatap Jiana dengan lekat. Ia langsung terduduk di samping istrinya. Jiana hanya tersenyum canggung.


"Ya kalau tidak boleh tidak apa-apa kok," ucap Jiana sebelum Raka memarahinya nanti. Jiana tersenyum lebar sambil menatap Raka.


"Aku tidak ingin membebanimu sayang. Mengurus rumah saja itu sudah sangat melelahkan," ucap Raka dengan lembut sambil menyelipkan rambut Jiana di belakang telinganya. Jiana hanya tersenyum.


"Tapi nyatanya waktu itu aku bisa menghandle semuanya kan?" ucap Jiana lagi. Ia meringis sambil menatap suaminya.


"Biar aku saja yang bekerja. Aku tahu, kamu belum pernah bekerja keras selama ini kan? Aku hanya takut istriku yang manja ini akan kelelahan nantinya," balas Raka dengan santai. Ia meraih laptop Jiana dan melihat perusahaan mana saja yang menawari istrinya untuk bekerja. Ternyata, bukan hanya perusahaan besar saja yang menawari Jiana pekerjaan, bahkan perusahaan yang belum cukup terkenal pun juga tidak ingin kehilangan kesempatan ini.

__ADS_1


"Menarik, tapi sayangnya aku mengecewakan harapan mereka," ucap Raka. ia tertawa kecil. Lalu Jiana meraih laptopnya dan menyimpannya di atas nakasnya.


"Mas, aku kangen sama suasana di rumah kita," ucap Jiana yang sedang berada dalam dekapan suaminya.


"Sudah mulai bosan di rumah mama?" tanya Raka. Jiana menggeleng pelan.


"Lalu?"


"Kangen ingin berduaan di rumah aja, hehe," ucap Jiana. Ia meringis ke arah suaminya. Raka tertawa kecil. Istrinya ini sudah pandai untuk menggodanya.


"Kenapa tidak honymoon saja sekalian?" tawar Raka sambil menaik turunkan alisnya. Jiana berpikir sejenak. Ide itu boleh juga, namun ia tidak ingin membebani Raka dengan segala pekerjaannya.


Malam semakin larut. Mereka berdua asik mengobrol dengan berbagai macam topik. Bahkan tawa mereka sempat terdengar hingga luar kamarnya. Hingga Jiana tertidur di dalam pelukan suaminya. Ia merasa nyaman dan damai. Raka mengusap pelan punggung Jiana dan merebahkannya di samping Raka. Raka menyelimuti istrinya. Ia tidur sambil memeluk Jiana.


***


Keesokan paginya, Jiana dan Raka izin untuk kembali ke rumah seharian. Memang sudah lama mereka tidak mengunjungi rumahnya sendiri. Suasana hati Jiana juga semakin membaik. Sebelum pergi, Raka sempat menghubungi bi Lastri agar cuti satu hari ini saja. Ia ingin menikmati momen berdua dengan istrinya.

__ADS_1


"Akhirnya mas...." ucap Jiana sambil berlari memasuki rumahnya. Ia sudah rindu dengan suasana rumah ini. Jiana merebahkan tubuhnya di sofa. Ia memposisikan dirinya telentang di atas sofa.


Raka yang baru masuk langsung menghampiri Jiana dan sedikit menindihnya. Ia memandangi istrinya yang terlihat senang itu. Raka tersenyum tipis sambil membelai lembut pipi Jiana.


"Mas, gaun untuk acara wisuda besok bagaimana?" tanya Jiana. Ia menatap wajah suaminya yang tepat di depan wajahnya.


"Kamu tenang saja. Farrel sudah mengurus semuanya," ucap Raka. Jiana menghela napasnya lega. Ia mengalungkan tangannya ke leher Raka. Jiana mencium bibir Raka sekilas dan mendorongnya. Ia segera duduk dan menyalakan TV.


Raka mengira itu akan berlanjut sampai adegan di atas ranjang. Namun Jiana justru fokus dengan TV nya saat ini.


"Apanya yang ingin berduaan. Ini mah ingin menonton TV tanpa ada gangguan dari mamanya kan?" batin Raka sedikit kesal.


"Sayang," ucap Raka sambil mendusel ke leher Jiana. Ia mengecup leher Jiana sekilas dan menggigitnya kecil membuat Jiana menggeliat menahan gelinya.


Raka beralih menuju telinga Jiana dan mengecupnya dengan lembut. Sangat terasa hembusan napas Raka di telinga Jiana. Lagi-lagi membuat Jiana menggeliat karena geli. Namun Jiana masih fokus dengan TV nya. Raka tak kehabisan akal. Ia langsung meraih dagu istrinya dan mengecup bibirnya. Raka ********** dengan perlahan dan semakin menuntut. Jiana membalas ciuman itu. Tangan Raka meraih remote yang ada di tangan Jiana dan mematikan TV nya. Ciuman itu masih berlanjut dan semakin memanas.


Raka berdiri dan langsung menggendong Jiana masuk ke dalam kamarnya. Jiana menurut begitu saja, bahkan ia terlihat senang. Raka merebahkan Jiana perlahan dan kini ia sudah berada di atas tubuh istrinya.

__ADS_1


"Anggap saja ini honeymoon kita sayang," bisik Raka. Jiana tersenyum tipis mendengarnya. Tanpa aba-aba, Raka langsung menerkam istrinya dan kembali menyatukan cinta mereka. Kali ini mereka benar-benar berharap jika suatu saat nanti akan segera tumbuh di dalam rahim Jiana.


__ADS_2