Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 48


__ADS_3

Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya kini hari sudah semakin sore. Sarah pamit untuk pulang.


"Aku pulang dulu ya. Jangan lama-lama memendam cintamu pada pak Raka," ucap Sarah. Jiana hanya tersenyum lebar.


Mereka saling peluk sebelum Sarah benar-benar pulang. Setelah Sarah pergi dari rumahnya, Jiana menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Semakin hari ia semakin terlatih untuk memasak dan mengurus rumah.


Sekitar dua jam Jiana berada di dapur. Akhirnya, menu yang ia masak hari ini selesai juga. Jiana bergegas ke kamarnya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Jiana menunggu Raka di ruang tengah. Sambil menonton acara tv sore itu.


Suara mobil memasuki rumahnya. Jiana berlari keluar untuk menyambut Raka. Melihat Raka yang keluar dari mobil, Jiana langsung mengembangkan senyumnya.


"Tumben," ucap Raka. Baru kali ini Raka pulang, Jiana menyambutnya seperti ini.


"Kenapa? Nggak mau? Ya sudah, aku masuk lagi," ujar Jiana. Ia berbalik dan ingin melangkah ke dalam rumah.


"Eh, eh, jangan dong," ucap Raka sambil menahan tangan Jiana. Jiana tersenyum tipis.


Mereka berjalan menuju kamar dengan tangan Raka merangkul bahu Jiana. Sesekali ia mengecup puncak kepala Jiana.


"Sudah makan?" tanya Raka. Ia melepas sepatunya dan berganti sandal. Jiana membantu melepas jas dan dasi Raka.


"Belum. Tapi aku sudah masak kok," balas Jiana. Raka memeluk Jiana dan mencium bibir Jiana sekilas. Ia memperhatikan wajah istrinya itu.


"Kita pekerjakan pembantu saja ya. Aku kasihan sama kamu kalau harus capek-capek ngurus pekerjaan rumah tangga," ujar Raka lembut. Ia membelai rambut Jiana.


"Kan kamu sendiri yang menyuruhku. Katanya agar aku jadi istri yang baik yang bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri. Lagipula aku juga sudah terbiasa kok dengan pekerjaan ini. Aku senang melakukannya," jawab Jiana santai.


"Tapi sayang, aku tidak tega melihatmu seperti itu. Itukan dulu aku menyuruhmu karena ada alasannya. Siapa suruh kamu begitu manja," ujar Raka. Ia mencubit hidung Jiana dengan gemas.


"Ish, sakit tahu," rintih Jiana. Raka langsung mengecup hidung Jiana dengan lembut.


"Nggak sakit lagi kan?" goda Raka. Pipi Jiana memerah. Ia memalingkan wajahnya karena malu.


"Sudah sana mandi... Aku tunggu di meja makan," ucap Jiana. Ia mendorong Raka agar segera menuju kamar mandi.


Sebelum sampai di pintu, Raka berbalik dan menghadap Jiana.


"Mandiin," rengek Raka.

__ADS_1


"Mandi sendiri, jangan manja!" jawab Jiana. Ia mendorong Raka lagi hingga masuk ke kamar mandi.


Jiana menuju meja makan. Ia menunggu Raka di sana. Sebenarnya, Jiana sudah mulai bisa menerima Raka sebagai suaminya. Ia ingin mengungkapkan rasa sukanya terhadap Raka namun Jiana malu.


"Gimana ya caranya menyatakan perasaanku terhadap Raka? Kalau aku tiba-tiba menyatakannya, yang ada aku ditertawakan habis-habisan," batin Jiana bingung. Jiana melamun sambil menopang dagunya dengan tangannya.


Cup


Raka mengecup pipi Jiana sekilas. Ia duduk di samping Jiana dan memperhatikan Jiana yang sedang melamun.


"Mikirin apa sih?" tanya Raka. Ia menatap lembut ke arah Jiana.


"Mikirin kamu," jawab Jiana asal. Ia mengambilkan makanan untuk Raka dan untuknya sendiri.


"Oh iya?" ucap Raka tak percaya.


"Habis ini kita..." ucap Raka menggantung.


"Nggak!" sahut Jiana dengan cepat. Raka tertawa kecil melihat reaksi Jiana.


Akhirnya mereka makan dengan tenang. Tanpa ada pembahasan apapun. Hingga makanan yang mereka makan habis tanpa sisa.


Hari semakin malam. Kini Jiana dan Raka sudah berada di kamar. Mereka berbaring di ranjang dengan Raka menyandarkan kepalanya di pangkuan Jiana.


Jiana mengusap pelan rambut Raka dan sedikit memainkannya. Sedangkan Raka fokus dengan ponselnya.


"Raka," ucap Jiana. Raka mendongak menatap Jiana.


"Kalau misalnya Sarah bekerja di kantor kamu gimana? Boleh gak?" tanya Jiana hati-hati. Raka menghentikan aktivitasnya. Ia menaruh ponselnya.


"Sarah teman kamu itu?" tanya Raka memastikan.


"Iya," ucap Jiana.


"Boleh. Memangnya kapan?" tanya Raka.


"Kalau bekerja satu devisi denganku boleh gak? Selama liburan ini saja," tanya Jiana kembali.

__ADS_1


Raka bangkit dan kini duduk sambil berhadapan dengan Jiana. Ia mengecup bibir Jiana dengan gemas.


"Tergantung kamu sayang," ucap Raka. Jiana mengernyitkan dahinya. Lalu Raka memajukan wajahnya ke dekat telinga kanan Jiana.


"Tergantung bagaimana kamu menyenangkan suamimu malam ini, sayang," bisik Raka pelan. Jiana menelan salivanya dengan kasar. Tangannya mencengkram seprei kasurnya.


Raka tersenyum kala melihat reaksi Jiana. Ia menggigit kecil daun telinga Jiana. Jiana meronta karena merasa geli.


Raka mendekatkan keningnya dengan Jiana. Raka mengecup bibir Jiana sekilas. Pandangan mereka saling beradu.


"Ayo," bisik Raka. Jiana menunduk karena malu. Raka langsung menyerang Jiana. Ia menghujani ciuman ke leher Jiana dan menyapu setiap inchi tubuh istrinya. Mereka kembali menyatukan cinta yang kini kian membara.


***


Keesokan paginya, Raka bangun terlebih dahulu. Ia tersenyum tipis kala melihat Jiana yang sedang berada dalam pelukannya. Raka maupun Jiana sama-sama tanpa busana. Hanya selimut yang menjadi penutup tubuhnya.


Raka menyentuh pipi Jiana dengan telunjuknya. Ia menusuk-nusuk pipi Jiana dengan gemas. Namun Jiana masih enggan untuk membuka matanya.


Raka mengambil ponselnya yang berada di nakas sampingnya. Ia menghubungi Farrel.


"Bagaimana? Apa sudah beres?" tanya Raka kepada Farrel dari balik teleponnya.


"Sudah tuan, sebentar lagi orangnya menuju rumah Anda," jawab Farrel dengan sopan.


"Baiklah," jawab Raka. Ia mematikan sambungan teleponnya. Ia kembali menatap Jiana yang masih tertidur pulas.


Raka perlahan bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dan bersiap untuk bekerja. Setelah selesai, Raka duduk di tepi ranjang untuk membangunkan Jiana.


"Sayang, bangun yuk," ucap Raka. Jiana menggeliat kecil. Ia mengucek matanya dan perlahan membuka matanya. Raka tersenyum manis dengan penampilannya yang sudah rapi.


"Kok nggak bangunin aku tadi? Aku kan harus masak untuk kamu," ucap Jiana malas. Ia masih mengumpulkan niatnya untuk bangun.


"Tidak perlu. Sekarang buruan mandi dan aku tunggu di bawah," ucap Raka. Ia mengecup kening Jiana sekilas. Raka bergegas keluar kamarnya.


Jiana dengan malas menuju kamar mandi tanpa memakai sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Karena di kamarnya hanya ada dirinya seorang.


Sekitar 30 menit, Jiana sudah siap. Entah apa yang dilakukan Raka di lantai bawah. Jiana berjalan pelan menghampiri Raka. Saat berjalan menuju ruang tengah, ia melihat sesosok ibu-ibu yang umurnya tidak terlalu tua berdiri di samping sofa. Ibu itu menunduk sambil tangannya membawa sebuah tas ysng lumayan besar.

__ADS_1


"Sayang, perkenalkan ini bi Lastri. Mulai hari ini beliau yang akan bertanggung jawab mengurus rumah dan memasak," ucap Raka.


Jiana menatap Raka bingung. Bukankah ia tadi malam sudah mengatakan tidak perlu mempekerjakan pembantu? Tapi pagi ini Raka membawanya ke sini untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.


__ADS_2