Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 44


__ADS_3

Tanpa terasa kini sudah waktunya pulang kerja. Jiana mulai merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Tak lupa Jiana memasukkan coklat dan bunganya ke dalam tasnya. Ia melihat ponselnya sebentar. Lalu mengirimkan pesan kepada Raka agar menunggunya di halte yang tak jauh dari kantor.


Jiana langsung keluar ruangannya dan berjalan menuju lift. Saat mengantri, tiba-tiba Sandra sudah berdiri di sampingnya.


"Ngapain tadi pak Raka ke ruangan kamu?" tanya Sandra penasaran. Jiana dengan malas memutar bola matanya. Lagi-lagi Sandra selalu mengusik ketenangannya.


"Apa setiap yang dilakukan pak Raka harus lapor kepadamu? Tidak kan? Aku ingatkan padamu! Jangan suka mencampuri urusan orang lain," ucap Jiana dan ia segera masuk ke lift meninggalkan Sandra yang berdiri di depan pintu lift itu.


Sandra berdecak kesal. Bagaimana ia tidak ikut campur, orang yang ia sukai justru dekat dengan orang lain.


"Awas ya kamu. Sekarang boleh sombong, tapi sebentar lagi aku akan membuatmu dipecat dari kantor ini!" gumam Sandra. Setelah menunggu beberapa menit, ia masuk ke lift.


Jiana berjalan dengan gontai. Dirinya sudah lelah bekerja seharian, kini ditambah lagi dengan ocehan Sandra yang sama sekali tidak penting itu membuatnya semakin lelah.


Jiana berjalan menuju halte yang ia janjikan tadi. Langkahnya santai dan tidak terburu-buru. Ia juga sesekali memerhatikan sekitarnya.

__ADS_1


Sampai di halte, Jiana segera duduk dan menunggu Raka yang belum keluar dari kantor. Jiana melihat ke arah jalanan yang begitu ramai sore itu.


Tanpa terduga, Sandra diam-diam mengikuti Jiana. Ia ingin tahu siapa yang Jiana tunggu di halte itu. Ia bersembunyi dibalik semak-semak agar tidak ketahuan oleh Jiana.


Tak lama, mobil Raka sudah sampai di depannya. Jiana buru-buru masuk ke dalam dan Farrel segera melajukan mobilnya lagi.


"Kenapa suruh jemput di sini?" tanya Raka saat Jiana menghela napasnya berulang kali karena lelah.


"Karyawan kamu tuh, selalu saja kepo dengan hubungan kita," jawab Jiana malas.


"Ya. Kenapa sih, nggak kamu pecat saja. Karyawan genit seperti dia masih saja dipertahankan," ucap Jiana semakin kesal. Raka tertawa kecil. Ia merangkul Jiana dan mencium puncak kepala Jiana.


"Nggak bisa semudah itu memecat Sandra sayang. Perusahaan ini masih butuh dia. Lagipula aku juga tidak akan tergoda olehnya. Kamu bisa tenang," jawab Raka dengan lembut.


Cih. Dasar!

__ADS_1


Jiana hanya diam dan tak membahas Sandra lagi. Farrel yang menjadi sopir melajukan mobilnya menuju rumah Mira, ibu Raka.


Kini mobil mereka sudah memasuki halaman rumah ibunya. Farrel membantu membukakam pintu untuk Jiana dan Raka. Mereka mulai masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum Ma..." ucap Jiana senang. Mama Mira menyambut mereka dengan senang pula.


"Wa'alaikumsalam.. Eh, sini masuk sayang," ucap Mira dan dirinya tersenyum lebar. Jiana dan Raka mencium tangan Mira bergantian.


Mereka duduk di sofa ruang tamu. Pelayan rumah Mira tak lupa menyajikan mereka minuman dan makanan ringan.


Jiana dan Mira saling mengobrol. Sedangkan Raka hanya menjadi pendengar setia antara istri dan mamanya.


"Kalian harus sering-sering mengunjungi mama ya," ucap Mira sedikit sedih.


"Insya Allah Ma," jawab Jiana dan Raka bersamaan.

__ADS_1


Setelah cukup mengistirahatkan dirinya, Jiana mengikuti Mira ke dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Sekalian juga Jiana belajar memasak agar ilmu tentang memasaknya bertambah.


__ADS_2