
Pagi ini berbeda dari biasanya yang hanya sarapan berdua saja. Maura, gadis kecil itu telah menjadi bagian dari mereka. Kasih sayang yang Jiana berikan terhadap Maura layaknya seorang ibu kepada anaknya. Tentu saja, itu membuat Raka ikut bahagia. Setidaknya, Jiana tak lagi stres memikirkan tentang kehamilannya.
Bi Lastri hanya bisa menatap mereka dari dapur. Menyaksikan sendiri majikannya yang nampak begitu bahagia. Tawa yang sudah lama tak terdengar di rumah ini, kini hadir kembali berkat gadis kecil yang imut itu.
"Semoga saja mereka selalu diberikan kebahagiaan seperti ini. Apalagi nyonya," gumam bi Lastri.
"Maura, makannya pelan-pelan dong sayang," ucap Jiana sambil mengusap bibir serta pipi Maura. Ia tersenyum melihat tingkah lucu Maura.
"Iya tante..." jawab Maura lalu kembali memakan makanannya. Raka memilih diam dan menikmati makanannya.
"Sayang, nanti biar aku saja yang mengurus terkait mengadopsi Maura," ujar Raka. Jiana mengangguk pelan sambil tersenyum. Setelah selesai sarapan, Raka pamit untuk bekerja. Sebelum itu, Raka juga sudah menghubungi bu Irin perihal niatnya untuk mengadopsi Maura. Tentu saja hal ini disambut dengan tangan terbuka oleh bu Irin.
"Maura mau tidak tinggal di sini bersama Om dan tante?" tanya Jiana dengan lembut. Anak itu terlihat sedang berpikir entah apa yang ia pikirkan.
"Tapi, teman-teman Maura gimana?" tanya Maura dengan muram.
"Maura tetap bisa bertemu mereka kok. Hanya saja, Maura tinggal di sini bersama Om dan tante," ujar Jiana. Jiana membelai rambut Maura dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Maura mau kan?" tanya Jiana lagi.
"Mau tante," jawab Maura. Ia tersenyum lebar sambil menatap Jiana.
__ADS_1
***
Setelah selesai dengan urusannya di kantor, Raka bergegas untuk menemui bu Irin. Ia tidak ingin menunda terlalu lama.
"Farrel, apakah berkasnya sudah siap?" tanya Raka sambil berjalan menuju lobi.
"Sudah tuan muda. Saya sudah menyiapkan semuanya," ucap Farrel. Raka mengangguk dan mereka bergegas menuju panti asuhan.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah sampai di panti tersebut. Dengan langkah yakin, Raka berjalan menuju ruangan bu Irin.
"Pak, silakan masuk," sambut bu Irin. Raka dan Farrel memasuki ruangan lalu duduk di tempat yang telah disediakan. Mereka berbincang-bincang mengenai keinginan Raka yang ingin mengadopsi Maura.
Hampir satu jam Raka berada di sana. Setelah selesai mengurus prosedur, Raka ingin secepatnya mengabari istrinya. Belum ada keluarga dari mereka yang mengetahui niat mereka ini. Tetapi, Raka yakin jika kedua orang tuanya akan mendukung keputusannya kali ini.
"Saya yang seharusnya berterima kasih pak. Kalian adalah orang yang baik. Saya yakin jika kalian bisa menjaga dan merawat Maura," balas bu Irin. Mereka saling berbalas senyum.
"Kalau begitu, kami pamit dulu bu," ucap Raka.
"Hati-hati di jalan pak," ucap bu Irin. Raka mengangguk dan mereka segera pergi dari sana.
"Farrel, langsung pulang ke rumah saja," perintah Raka.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, Anda masih ada pertemuan penting dari klien setelah jam makan siang. Kita sudah menunda dua kali pertemuan ini. Saya hanya takut mereka tidak puas dengan kinerja kita," ujar Farrel. Raka hampir lupa jika Farrel tidak mengingatkannya. Keinginannya untuk pulang sesegera mungkin harus tertunda. Raka menghela napasnya sejenak.
"Baiklah, kita kembali ke kantor saja," ucap Raka. Farrel hanya tersenyum tipis.
***
Di tempat lain, Jiana sedang bermain dengan Maura. Kasih sayang yang Jiana berikan untuk Maura tak ada kurangnya. Ia memperlakukan Maura layaknya anak kandungnya.
"Nyonya, makan siangnya sudah siap," ucap bi Lastri.
"Iya bi, terima kasih," jawab Jiana. Bi Lastri mengangguk lalu kembali lagi ke dapur.
"Maura, mainnya nanti lagi ya. Kita makan siang dulu," ucap Jiana. Ia menggendong Maura menuju ruang makan.
Maura begitu senang dan penurut. Jiana mengambilkan makanan untuk Maura dan untuknya. Namun, sebelum ia memasukkan makanannya ke mulutnya, ia teringat dengan suaminya. Ia menatap layar ponselnya yang ada di meja. Tak ada notif pesan dari suaminya. Lalu Jiana berinisiatif menghubungi suaminya. Usahanya gagal, beberapa kali ia mencoba namun tak ada jawaban dari suaminya. Hingga suara seseorang mengagetkan Jiana saat tengah mencoba menghubungi suaminya.
"Jiana, mama datang," ucap mama Mira. Jiana langsung menatap ke arah sumber suara.
Sesampainya di ruang makan, Jiana menyambut mama mertuanya itu. Tak lupa ia juga mengenalkan Maura padanya.
"Jiana, apa maksudnya ini?" tanya mama Mira dengan bingung dan terlihat tidak senang. Ia menatap Jiana dan Maura secara bergantian.
__ADS_1
"Mmm.. itu, nanti Jiana jelaskan pada mama. Kita makan siang dulu yuk Ma," ucap Jiana.
"Baiklah," balas mama Mira. Ia duduk di dekat Maura. Namun sama sekali tidak mempedulikan gadis kecil itu.