Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 58


__ADS_3

Tanpa terasa waktu sudah mulai malam. Jiana berada di ruang tengah bersama Raka, tetapi ia fokus dengan mengerjakan skripsinya. Sedangkan Raka dari tadi asik nonton acara pertandingan bola di tv. Meskipun berisik, Jiana masih bisa fokus dengan tugasnya. Lebih cepat terselesaikan maka bebannya akan lebih cepat berkurang.


Raka melirik Jiana sekilas. Melihat Jiana yang terlalu fokus membuatnya ingin menggodanya. Raka mendekatkan tubuhnya dan menatap Jiana. Jiana tersenyum tanpa melihat Raka balik. Ia fokus mengetik dan melihat buku yang ada di pangkuannya.


"Sayang," panggil Raka. Ia masih menatap Jiana dengan lekat.


"Jangan ganggu dulu. Kalau perlu apa-apa ambil sendiri," ucap Jiana yang memandangi laptop dan bukunya secara bergantian. Tangannya masih fokus mengetik.


Cup


Raka mencium pipi Jiana sekilas. Lalu ia tersenyum lebar. Jiana menghentikan aktivitasnya. Ia langsung menatap Raka.


"Raka, jangan ganggu dulu," keluh Jiana.


"Katanya kalau butuh apa-apa suruh ambil sendiri tadi. Mana? Bohong!" ucap Raka. Jiana menatap Raka bingung.


"Siapa yang bohong sih?" tanya Jiana.


"Kamu, kan aku hanya mengambil apa yang aku butuh. Aku butuh menciummu," jawab Raka. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Jiana. Jiana memutar bola matanya dengan malas.


Raka merangkul Jiana dari samping sambil menciumi puncak kepalanya. Ia ikut melihat hasil pekerjaan Jiana tadi.


"Menarik," ucap Raka. Jiana menatap Raka dan tersenyum tipis.


"Bantuin ya," ujar Jiana. Raka berpikir sejenak. Ia menatap Jiana dengan tatapan penuh arti.


"Bisa diatur," balas Raka. Ia menaik turunkan kedua alisnya.


Jiana menyudahi pekerjaannya. Ia menutup laptop dan bukunya. Ia menaruhnya di atas meja. Kini Jiana berhadapan dengan Raka. Ia menopang dagunya dengan tangannya.

__ADS_1


"Yuk," ajak Jiana. Raka mengernyitkan dahinya.


"Ke mana?" tanya Raka.


"Katanya mau program hamil," ucap Jiana. Raka tersenyum tipis. Ia mengacak rambut Jiana dengan gemas.


"Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan begitu gemasnya," batin Raka merasa gemas.


Jiana terus menatap Raka. Ia menunggu jawaban dari Raka. Membuat Raka ingin menggoda Jiana lagi.


"Aku hari ini lagi tidak ingin sayang. Besok saja ya, aku capek," balas Raka. Seketika raut wajah Jiana berubah murung. Entah kenapa saat Raka mengatakan itu, membuat hatinya sedih dan sakit.


"Oh, ya sudah aku ke kamar duluan untuk istirahat. Kamu jangan terlalu begadang," ucap Jiana. Ia mengambil laptop dan bukunya. Jiana segera menuju ke kamarnya. Saat sampai di depan pintu, tiba-tiba ia menangis. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan berusaha menjadi istri yang pengertian dan perhatian. Namun saat mendengar bahwa Raka menolak ajakannya membuat dadanya sesak.


"Kenapa rasanya sedih banget sih," batin Jiana. Ia langsung masuk ke kamarnya dan meletakkan laptop serta bukunya di atas nakas. Jiana langsung berbaring di kasurnya dan menyelimuti tubuhnya hingga sampai leher. Jiana termenung dalam diamnya.


Saat suara pintu terbuka, Jiana langsung memiringkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya karena malu untuk bertemu dengan Raka sekarang. Raka menutup pintunya dan perlahan melangkah menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi istrinya. Ia tahu Jiana hanya berpura-pura tertidur. Raka ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk Jiana dari belakang. Namun tak ada reaksi apapun. Jiana tidak menolak atau menerima pelukan tersebut.


"Aku tahu kamu belum tidur sayang," bisik Raka. Jiana perlahan membuka matanya.


"Aku capek ingin istirahat," ujar Jiana.


"Tapi aku tidak ingin kamu tidur sekarang sayang," ucap Raka lagi. Ia mencoba membuat Jiana tidak sedih lagi.


"Terserah kamu, tapi aku mengantuk," ucap Jiana. Ia kembali meneteskan air matanya.


Jiana dan Raka saling terdiam dalam posisinya. Cukup lama suasana menjadi hening hingga terdengar suara isak tangis Jiana. Raka sedikit bangkit dari tidurnya dan memandang Jiana. Ia melihat Jiana menangis dan bahkan mencoba menahan tangisnya agar Raka tidak mengetahuinya.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Raka dengan lembut. Ia membalikkan tubuh Jiana dan kini Raka dan Jiana saling memandang.

__ADS_1


"Karena aku menolak tadi? Terus kamu sedih? Aku hanya bercanda sayang, aku tidak bersungguh-sungguh mengucapkan hal itu," ucap Raka sambil mengusap air mata Jiana.


"Aku tahu saat ini aku belum bisa memberikanmu keturunan. Tapi aku juga mau berusaha kok, tapi kamu sepertinya tidak bersungguh-sungguh untuk segera memiliki anak. Aku hanya sedih saja dengan diriku sendiri. Aku hanya kesal pada diriku sendiri," ucap Jiana sambil menangis. Ia mengira sikap Raka berubah dan mulai tak peduli padanya.


"Jangan pernah berkata seperti itu sayang, aku akan sabar menanti hari itu tiba. Aku sayang sama kamu. Aku tadi hanya bercanda saja, tumben juga kan kamu berinisiatif duluan," jelas Raka agar istrinya tidak salah paham terhadapnya. Jiana memalingkan wajahnya. Meskipun sedikit terobati karena penjelasan Raka, namun air matanya tidak kunjung berhenti. Pikirannya ke mana-mana.


Raka mengusap air mata Jiana. Lalu ia mengecup kening Jiana agar lebih tenang. Ia terus memandangi Jiana sambil tersenyum tipis.


"Jadi bagaimana?" tanya Raka lembut.


"Apanya?" balas Jiana singkat.


"Siap untuk program? Kalau setiap saat aku menginginkannya kamu harus siap loh," ujar Raka sambil mencolek hidung Jiana. Ia tersenyum lebar.


Jiana tidak menjawab dan langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Raka. Raka tertawa kecil lalu memeluk Jiana dari belakang. Ia mengusap rambut Jiana dengan lembut dan sesekali mencium harumnya rambut istrinya itu.


"Tidak jadikah penawaran tadi?" ucap Raka. Ia berusaha mengembalikan suasana hati Jiana agar tidak sedih lagi.


"Tidak ada! Aku tidak mood lagi," ucap Jiana dengan jutek. Raka tertawa kecil. Ia mencium rambut Jiana.


"Ya sudah kalau tidak mau, sekarang tidurlah. Besok kamu ada bimbingan pagi-pagi kan?" tutur Raka.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Jiana ketus.


"Aku tahu segalanya sayang," balas Raka. Jiana tak menjawab lagi. Ia sudah berhenti menangis. Perlahan, ia memejamkan matanya. Setelah lelah menangis, ia merasa mengantuk sekali. Raka masih setia memeluk dan membelai istrinya dengan lembut. Hati Jiana rapuh jika menyinggung tentang kehadiran buah hati. Raka tidak ingin membebani Jiana dengan terus memaksanya agar cepat hamil. Namun Raka ingin semuanya berjalan sesuai pada takdirnya. Jika sekarang mereka belum dipercaya untuk memiliki seorang anak, mungkin suatu saat mereka akan mengemban tanggung jawab itu.


Raka menatap Jiana untuk memastikan Jiana sudah tertidur atau belum. Setelah itu, ia membalikkan tubuh Jiana perlahan. Raka mengecup kening Jiana cukup lama.


"Aku sayang sama kamu," gumam Raka. Ia ikut tidur bersama istrinya.

__ADS_1


__ADS_2