
Setelah kepergian Sandra, Jiana kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tak peduli dengan umpatan Sandra. Karena memang Sandra tidak tahu keadaan yang sebenarnya.
Waktu semakin cepat berlalu, ini hampir jam makan siang. Tinggal sedikit lagi ia selesai mengerjakan pekerjaannya. Jiana merenggangkan otot-ototnya sejenak. Ia meraih minuman yang ada di mejanya dan meminumnya.
Tanpa sengaja, Jiana melihat Sandra yang baru keluar dari ruangan Raka. Sandra terlihat bahagia entah apa yang membuatnya seperti itu. Jiana mengernyitkan dahinya. Ia terus memerhatikan Sandra yang berjalan menuju meja kerja.
"Apa yang ia lakukan barusan?" batin Jiana penasaran.
Jiana mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Raka. Ia bertanya tentang apa yang dilakukan Sandra dengan suaminya di dalam ruangan itu. Namun Raka hanya membalas 'kepo banget sih' dan tentu saja membuat Jiana kesal seketika.
"Apaan sih, ditanya baik-baik juga," gerutu Jiana. Ia meletakkan ponselnya sedikit kasar.
Sandra melirik Jiana. Meskipun ia tidak tahu ada hubungan apa antara Jiana dan Raka, Sandra merasa hubungan mereka tidak biasa. Setelah tanpa sengaja ia melihat bahwa Jiana keluar dari mobil Raka tadi pagi, Sandra semakin tidak suka pada Jiana.
"Mungkin saja kan karena pak Raka kasihan sama kamu terus dia memberimu tumpangan hingga sampai di kantor. Iya, pasti seperti itu," gumam Sandra yang masih memerhatikan Jiana.
__ADS_1
Waktu makan siang tiba. Para karyawan berhambur keluar untuk mencari makan. Tetapi tidak dengan Jiana. Ia justru menundukkan kepalanya di atas meja.
"Kenapa nggak makan siang?" tanya Sandra yang sudah berdiri di dekat meja Jiana. Jiana mendongak dengan malas.
"Bukan urusan kamu!" jawab Jiana kesal. Sandra menggertakkan giginya. Kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan Jiana.
"Dasar cewek songong!" umpat Sandra yang berjalan sendirian menuju kantin.
Setelah dipastikan sudah sepi, Jiana buru-buru menuju ke ruangan Raka. Jiana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung masuk begitu saja.
Raka yang mendapati Jiana masuk ke ruangannya tersenyum lebar. Ia menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri Jiana. Tanpa basa-basi, Raka menarik Jiana hingga tubuh mereka saling berdekatan.
"Apa hubungan kamu sama Sandra?" tanya Jiana.
Raka tertawa kecil. Tak disangka Jiana masih mempertanyakan hal itu. Terlihat jelas raut wajahnya yang kesal. Dan itu sungguh menggemaskan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa sayang. Kenapa? Apa kamu cemburu?" tanya Raka dan menarik hidung Jiana. Jiana meringis kesakitan dan memegangi hidungnya.
"Tidak! Siapa yang cemburu?" ujar Jiana salah tingkah. Raka tersenyum tipis.
"Lalu, kenapa kamu marah? Kalau aku kan jelas, aku cemburu karena tidak suka melihatmu berdekatan dengan pria lain. Terus dengan keadaanmu sekarang ini, apakah bisa dikatakan sama? Kamu tidak suka melihatku dengan wanita lain dan kamu cemburu karena itu?" ucap Raka.
Jiana berjalan menuju sofa. Ia duduk di sana. Jiana semakin terlihat kesal.
"Sudahlah, lupakan saja," ucap Jiana sambil memalingkan wajahnya.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Raka ceritakan tentang dirinya dan Sandra. Kenapa Sandra setiap hari ke ruangannya dan masih banyak lagi. Tetapi ia urungkan saat melihat Jiana kesal seperti ini. Ia tidak ingin menambah masalah sehingga hubungan mereka merenggang lagi. Susah payah ia membangun kedekatan ini. Raka akui memang tidak ada hal yang terjadi antara dirinya dan Sandra.
Raka berlutut di depan Jiana. Ia memandangi wajah Jiana dan mengusap pipinya.
"Jangan marah dong..." ucap Raka.
__ADS_1
"Nggak marah," ucap Jiana lirih. Raka bangun dan langsung mengecup kening Jiana.
"Sebentar lagi Farrel datang membawakan makanan. Kita makan di sini saja ya. Aku hanya ingin lebih lama berduaan sama kamu," ucap Raka lembut. Jiana mengangguk dan tersenyum tipis.