
Waktu bergulir kian cepat. Kini sudah tiba waktu jam makan siang. Pekerjaan Jiana kali ini lumayan banyak. Ia bahkan sampai lupa dengan Raka. Jiana terlalu fokus dengan pekerjaannya.
Jiana merenggangkan tubuhnya. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Pekerjaannya belum selesai, namun ia harus ke ruangan Raka sekarang. Tadi pagi Raka masih marah padanya. Tak mudah untuk mengembalikan suasana hati Raka seperti biasanya.
"Lanjut sedikit lagi deh, sambil menunggu kantor sepi," gumam Jiana. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Ji, kamu tidak ingin makan siang?" ucap Sarah dengan takut.
"Tidak, kamu duluan saja. Aku mau makan siang sama suamiku," jawab Jiana ketus tanpa menatap Sarah yang berdiri di dekat kursinya.
"Ya sudah, aku ke kantin duluan ya. Jika perlu sesuatu kamu bisa minta tolong padaku," ucap Sarah. Ia melangkah keluar ruangan dan menuju kantin.
"Aku sebenarnya tidak tega bersikap seperti ini padanya. Namun aku harus menghukum Sarah agar dia tidak sembarangan mengajakku bertemu dengan pria lain. Maaf Sarah, aku tidak bermaksud menjauhimu," gumam Jiana sambil menatap Sarah hingga keluar dari ruangan. Ia melanjutkan pekerjaannya lagi.
Sandra diam-diam menuju ruangan Raka. Ia membawakan bekal makan siang untuk Raka. Meskipun Raka sudah memperingatinya berkali-kali bahkan sampai memarahinya, Sandra tetap kekeh untuk mendekati Raka.
"Siang pak Raka," sapa Sandra yang sudah berada di ruangan Raka.
Raka menatap Sandra dengan malas. Ia tidak ingin wanita ini di sini saat ini.
"Siapa yang mengizinkanmu ke sini? Keluar!" ucap Raka datar.
"Saya tidak akan keluar sebelum pak Raka makan siang dengan bekal yang sudah saya siapkan," jawab Sandra santai.
"Kau berani sekali!" ucap Raka sambil mengernyitkan dahinya.
Sandra mendekat ke arah Raka yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya. Dan tanpa Sandra sadari, ia tersandung sepatunya sendiri hingga terhuyung jatuh ke pelukan Raka.
Klek
Jiana membuka pintu ruangan Raka. Ia terkejut melihat Raka dan Sandra yang terlihat mesra tersebut. Jiana mengepalkan tangannya.
Sandra tersenyum puas saat Jiana melihat mereka sedang berdekatan begitu mesra. Namun tidak dengan Raka. Ia begitu terkejut dan segera mendorong Sandra menjauh darinya.
__ADS_1
"Maaf pak, saya mengganggu waktu Anda," ucap Jiana. Ia menutup kembali pintu ruangan Raka.
Entah kenapa dadanya terasa sesak saat melihat Raka dan Sandra begitu dekat. Ia kembali ke ruangannya untuk mengambil tasnya. Jiana menuju lift dan keluar dari kantor.
Raka langsung berlari keluar. Namun Jiana sudah tidak ada di sana. Ia menuju ruangan Jiana namun juga tidak ada.
"Ke mana dia?" gumam Raka. Ia menelepon Jiana. Namun Jiana tidak menjawab telepon darinya.
"Sial!" umpat Raka.
Jiana naik taksi dan menuju rumah kedua orang tuanya. Sebenarnya tadi ia ingin berbaikan dengan Raka. Namun yang ia lihat justru sebaliknya.
"Apakah mereka sering bermesraan saat sedang berduaan di dalam sana?" batin Jiana kesal.
Jiana sampai di depan rumah kedua orang tuanya. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke rumah orang tuanya sendirian setelah menikah dengan Raka. Ia sempat ragu untuk masuk ke dalam. Namun hanya tempat ini yang terpikirkan dalam benak Jiana.
Jiana melangkah masuk ke dalam rumah. Seperti sebelumnya, rumahnya nampak sepi karena tidak ada pembantu. Mamanya juga sibuk dengan pekerjaan rumah. Jiana menuju ke ruang tengah dan berbaring di sofa. Ia memejamkan matanya.
"Jiana sendiri Ma," jawab Jiana. Desi menghampiri Jiana yang masih berbaring di sofa. Ia duduk di tepi sofa.
"Tumben? Apakah kamu sedang bertengkar dengan suamimu?" tanya Desi pelan.
"Tidak, Jiana hanya lelah dan ingin istirahat di sini," jawab Jiana. Ia bangkit dan memposisikan dirinya untuk duduk.
"Ma, Jiana ke kamar dulu ya," ucap Jiana. Ia melangkah menuju kamarnya.
Jiana langsung mengunci kamarnya begitu ia sampai di dalam. Jiana segera merebahkan dirinya di kasurnya.
"Sialan Raka! Kenapa juga aku harus marah coba? Apa aku cemburu melihat mereka dekat? Raka juga, katanya tidak suka, tapi diembat juga kan," batin Jiana kesal. Ia mencengkram bantalnya dengan kuat. Memukul-mukul bantalnya dengan tangannya. Apa yang ia lihat hari ini berhasil membuat suasana hatinya berantakan.
Karena merasa ada yang aneh dengan Jiana. Desi bergegas menghubungi Raka untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya takut jika putrinya bertengkar dengan Raka.
Raka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Semua yang dilihat Jiana adalah salah paham. Raka izin untuk menemui Jiana. Ia rasa, ia harus menjelaskan sesuatu pada Jiana. Tanpa pikir panjang, Raka bergegas ke rumah orang tua Jiana.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Raka sudah sampai di kediaman Alex. Raka bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui istri dan mertuanya.
"Ma, di mana Jiana?" tanya Raka yang sudah berada di ruang tengah.
"Di kamarnya. Dia juga mengunci pintunya," jawab Desi.
"Raka coba untuk bicara dengan Jiana sebentar ya Ma," ucap Raka. Desi mengangguk.
Raka menuju kamar Jiana. Ia mengetuk pintu kamar Jiana.
"Ma, Jiana tidak mau diganggu dulu!" ucap Jiana dari dalam kamarnya. Namun Raka terus mengetuk pintunya sehingga membuat Jiana membuka pintu kamarnya.
"Sayang, dengarkan aku sebentar," ucap Raka.
"Mau apa lagi? Mau menjelaskan soal perselingkuhan kamu dengan Sandra?" ucap Jiana kesal. Ia masuk kembali ke kamarnya dan ingin menutup pintunya. Namun Raka menghalaunya dan kini mereka berada di dalam kamar. Raka mengunci pintu kamar tersebut.
"Bukan seperti itu sayang, kamu salah paham. Tadi Sandra memang ke ruangan untuk memberikan bekal makan siang, tapi aku menolaknya. Aku juga tidak tahu kalau dia akan melakukan hal tadi. Aku begitu terkejut juga saat Sandra tiba-tiba terjatuh ke pelukanku sayang. Tapi kamu harus percaya, aku tidak punya maksud apapun," ucap Raka berusaha menenangkan Jiana agar tidak salah paham padanya.
"Oh begitu? Jadi tadi hanya salah paham? Kamu enak banget ngomongnya? Kalaupun kamu bohong, aku juga tidak akan tahu kan?" ujar Jiana. Ia tersenyum sinis.
"Aku tidak berbohong sayang, kamu harus percaya sama aku," ucap Raka kembali.
"Terserah kamu! Aku tidak mau bicara sama kamu lagi!" ucap Jiana. Ia mendorong Raka keluar dari kamarnya.
Namun Raka justru menarik Jiana dan mendekapnya. Kini tatapan mereka saling beradu.
"Apa aku bisa mengartikan jika kamu sedang cemburu sayang?" ucap Raka. Ia tersenyum tipis.
"Cemburu? Tidak akan! Untuk apa aku cemburu!" sangkal Jiana. Ia memalingkan wajahnya.
"Oh ya? Lalu kenapa marah-marah kalau tidak cemburu?" bisik Raka di dekat telinga Jiana.
Seketika jantung Jiana berdetak lebih kencang. Ia tidak ingin mengakuinya sekarang jika ia cemburu melihat Raka bersama wanita lain.
__ADS_1