Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 72


__ADS_3

Selepas kepergian dokter Faye, Jiana semakin gelisah. Jika sampai suaminya tahu bahwa ia sudah menyembunyikan hal sebesar ini darinya, pasti suaminya akan marah besar.


"Apa yang telah aku lakukan? Apakah ini sudah benar? Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana," gumam Jiana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bi Lastri mengetuk pintu kamarnya. Ia mengabarkan bahwa Mira, mertuanya datang berkunjung. Jiana buru-buru mengusap sisa air matanya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan mertuanya. Jiana membuka pintu kamarnya dan segera menuju ruang tamu tempat mertuanya berada. Ada rasa takut dalam hatinya.


"Mama," sapa Jiana saat ia sudah berada di ruang tamu. Mira langsung menatap Jiana dan tersenyum manis. Jiana duduk di samping mama mertuanya itu.


"Bagaimana keadaanmu sayang? Maaf, mama baru bisa menjengukmu sekarang," ujar Mira.


"Tidak apa-apa kok Ma, Jiana baik-baik saja," balas Jiana.


Tiba-tiba Mira memeluk Jiana. Tak lama setelah itu, terdengar isakan tangis dari Mira. Jiana mengernyitkan dahinya karena merasa bingung dengan sikap mertuanya.


"Maafkan mama sayang... Ini semua salah mama. Mama tidak akan lagi memaksamu untuk segera memiliki anak. Maafkan mama sayang," ucap Mira. Jiana benar-benar terkejut. Mertuanya dengan terang-terangan meminta maaf padanya bahkan sampai menangis.


"Jiana yang salah Ma, mama tidak perlu meminta maaf," ucap Jiana canggung. Mira melepas pelukannya dan tersenyum tipis. Ia beruntung memiliki menantu sebaik Jiana. Ia sungguh menyesal telah berbuat kurang baik pada Jiana sebelumnya.


***


"Ada apa memanggilku ke sini?" tanya Raka saat sudah sampai di ruangan dokter Faye. Setelah mendapat telepon dari dokter Faye, Raka segera menemuinya. Dokter Faye hanya tersenyum tipis. Namun tatapannya begitu tajam menatap Raka yang sedang duduk di depannya.

__ADS_1


Plak!


Dokter Faye memukul lengan Raka dengan buku yang sedang ia pegang. Meskipun tidak sakit namun membuat Raka terkejut.


"Kau ini bagaimana menjaga istrimu?" tanya dokter Faye sedikit kesal. Raka mengerutkan dahinya. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan dokter pribadinya itu.


"Untung saja hari ini aku datang ke rumahmu. Jika tidak, mungkin masalahnya akan bertambah besar!" ujar dokter Faye.


"Istrimu sama sekali tidak meminum resep yang aku berikan padanya!" ucap dokter Faye lalu menghela napasnya pelan.


"Bagaimana bisa? Aku melihatnya sendiri dua hari lalu dia meminum obat itu," ujar Raka. Ia sendiri memberikan obat tersebut dan menyaksikan istrinya meminum obat itu. Dia terkejut ketika mengetahui bahwa Jiana sama sekali tidak meminum obat tersebut.


"Jiana, kenapa kamu tidak mau mendengarku? Meskipun aku juga akan sedih kehilangan bayi kita, tapi ini demi kebaikanmu. Kenapa kamu tidak mau mengerti ini?" batin Raka. Ia menghela napasnya sejenak lalu mengusap wajahnya.


"Aku tahu, aku akan berbicara padanya," ucap Raka. Ia berdiri dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


***


Sorenya, Raka pulang dari kantor. Jiana sudah menyambutnya di ruang tengah dengan senyuman manisnya yang merekah. Seakan beban dalam hidupnya menghilang entah ke mana. Ia langsung memeluk suaminya dengan erat. Raka hanya terdiam dan menaruh tasnya di sofa.


"Ada apa?" tanya Raka dengan lembut.

__ADS_1


"Tadi mama kamu ke sini," ucap Jiana.


"Mama? Apa yang mama perbuat hari ini? Apa dia mendesakmu lagi?" tanya Raka panik. Ia tidak ingin istrinya mendapat tekanan seperti itu lagi. Jiana menggeleng pelan. Ia hanya tersenyum lebar sambil menatap suaminya.


"Mama tadi ke sini untuk minta maaf sama aku. Mama juga bilang tidak akan mendesakku untuk segera memiliki momongan. Aku lega mas mendengarnya. Apalagi dengan keadaanku yang seperti ini," ucap Jiana sambil menunduk. Raka meraih tubuh istrinya dan mendekapnya. Ia mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Jadi, bisakah kamu nurut sama mas dan dokter Faye? Kita bisa memiliki bayi nanti sayang. Untuk sekarang, yang terpenting adalah keselamatanmu," ujar Raka. Jiana terdiam. Ia takut suaminya marah padanya terkait tindakan yang ia lakukan sebelumnya.


"Iya mas, maafkan aku karena aku sudah egois. Aku... Aku mau menjalani operasi itu," ucap Jiana. Raka bernapas lega. Ia menuntun istrinya untuk duduk di sofa. Sedangkan Raka berjongkok di depan istrinya sambil memandanginya. Tanpa disadari, Raka meneteskan air matanya.


"Mas, kenapa?" tanya Jiana khawatir.


"Tidak apa-apa," balas Raka. Ia merebahkan kepalanya pada paha istrinya. Sebenarnya ini juga berat untuknya. Namun, ia harus tetap tegar dan ikhlas menerima kenyataan pahit ini.


"Biarkan aku seperti ini sebentr saja," ucap Raka. Jiana mengangguk dan tersenyum tipis. Ia mengusap rambut suaminya dengan pelan dan lembut. Cukup lama mereka dalam posisi tersebut. Bi Lastri juga tidak berani mengganggu mereka.


Raka beralih duduk di samping istrinya. Ia mengecup kening dan pipi istrinya sekilas lalu beranjak menuju kamarnya.


"Aku akan mandi dulu, kamu tunggu di situ saja sayang," ucap Raka sambil berjalan menaiki tangga.


Jiana hanya menatap suaminya sampai menghilang dari pandangannya. Selepas itu, ia terdiam merenung. Pembicaraannya dengan dokter Faye dan mama mertuanya tadi siang yang mengubah keputusannya. Meskipun ia sangat ingin mempertahankan bayinya, namun itu tidak bisa ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2