
Raka menaruh tangannya di depan dadanya. Ia menatap Jiana menanti jawaban darinya. Ia tahu, bahwa istrinya sudah mulai jatuh cinta padanya.
"Kenapa diam saja? Apa itu benar? Kamu cemburu sayang?" tanya Raka kembali. Ia tersenyum tipis.
"Apaan sih, gak jelas banget," balas Jiana. Ia memalingkan wajahnya.
Jiana beranjak dari depan Raka. Namun Raka menarik Jiana dan memeluknya dari belakang. Raka tersenyum saat mendengar detak jantung Jiana yang kian berdebar. Dirinya juga sama, ada rasa debar-debar di dalam dadanya.
Raka mengusap pelan lengan Jiana. Ia menyusuri lengan Jiana hingga sampai ke jemarinya. Raka menggenggam tangan Jiana. Sedangkan Jiana hanya memejamkan matanya.
"Apa kamu masih ingin bungkam jika kamu mencintaiku sayang?" ujar Raka. Jiana seketika membuka matanya. Ia melirik Raka yang menyandarkan kepalanya di bahu Jiana.
"A-aku... Aku tidak..." ucap Jiana terbata.
"Ssstt..." sela Raka. Ia tersenyum tipis.
"Jangan membohongi dirimu sendiri sayang. Selama ini aku selalu menanti momen ini. Saat kamu mengungkapkan rasa cintamu itu," ujar Raka pelan. Ia semakin mendekap istrinya dengan erat.
"Aku malu untuk mengatakannya. Bagaimana ini?" gumam Jiana.
"Raka, a-aku... Aku..." Jiana menghela napasnya panjang. Menetralisir hatinya yang sudah bergejolak.
Perlahan Raka membalikkan tubuh Jiana. Kini Raka dan Jiana saling berhadapan. Raka melingkarkan tangannya di pinggang Jiana dan menariknya hingga mereka saling berdekatan. Raka menempelkan keningnya di kening istrinya. Ia tersenyum tipis.
Jiana menatap Raka dengan lekat. Lidahnya seakan kaku untuk mengatakan bahwa ia mencintai Raka. Jiana memeluk Raka. Ia memejamkan matanya untuk menikmati suasana romantis mereka.
"I love you Raka," ucap Jiana lirih. Raka tersenyum tipis mendengar ungkapan Jiana.
"Apa sayang? Aku tidak mendengarnya," ujar Raka.
"Ih, nyebelin banget sih," ucap Jiana merasa malu. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Raka. Raka tertawa lepas. Ia mengeratkan pelukannya dan menciun puncak kepala Jiana.
"I love you too sayangku," bisik Raka yang sukses membuat pipi Jiana merona.
"Momen romantis seperti ini sayangkan kalau dilewatkan begitu saja," ucap Raka. Jiana mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya?" tanya Jiana.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Raka justru langsung mencium Jiana. Ia mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Jiana menerimanya dengan senang hati. Raka mendorong pelan Jiana ke atas kasurnya.
"Kamu tidak akan menolak lagi kan?" ucap Raka. Ia menatap Jiana dengan lekat. Jiana menggelengkan kepalanya pelan. Merasa disetujui oleh Jiana, Raka langsung memulai aksinya. Siang itu, Jiana menerima setiap perlakuan Raka tanpa rasa terpaksa sedikitpun.
***
Sorenya, Jiana terbangun lebih dulu. Ia menatap Raka yang masih terlelap dalam tidurnya. Jiana perlahan menyibakkan rambut yang sebagian menutupi wajah Raka. Jiana mengecup sekilas kening suaminya itu. Lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Jiana turun ke bawah untuk menemui mamanya. Jiana menuju ke dapur, karena mamanya sedang menyiapkan menu makan malam untuk mereka.
"Mama," sapa Jiana. Ia memeluk Desi dari belakang.
"Ya? Apa kamu sudah bicara baik-baik sama suami kamu sayang?" tanya Desi.
"Sudah kok, kami juga sudah berbaikan," jawab Jiana senang.
"Jian bantuin ya Ma," tawar Jiana.
"Tidak usah, kamu duduk saja di sana," ujar Desi. Jiana mengangguk dan duduk sambil menunggu mamanya menyiapkan makan malam.
"Maaf Ma, Raka ketiduran," ucap Raka saat sampai di meja makan. Ia duduk di samping Jiana. Desi tersenyum.
"Tidak masalah. Yang terpenting masalah kalian bisa terselesaikan. Kalian jangan sering bertengkar, kakak juga, jangan emosian. Harus dibicarakan baik-baik, oke?" Nasehat Desi. Raka dan Jiana saling memandang dan tersenyum tipis.
"Papa belum pulang Ma?" tanya Raka.
"Papamu hari ini lembur di kantor. Jadi pulang larut. Kalian makanlah dulu," ujar Desi. Mereka lalu makan bersama.
Selesai makan, Jiana membantu mamanya mencuci piring. Sedangkan Raka menuju ruang tengah bersama Desi.
"Istrimu belum isi juga?" tanya Desi tiba-tiba.
Raka menatap Desi sekilas. Ia menundukkan wajahnya. Selama ini belum ada tanda-tanda istrinya hamil. Padahal ia juga ingin segera memiliki seorang bayi.
"Belum Ma, doakan semoga bisa cepet isi," ucap Raka.
"Iya sayang. Jangan biarkan istrimu terlalu lelah juga. Oh iya, sudah pernah periksa ke dokter?" ujar Desi. Raka menggeleng pelan.
__ADS_1
"Besok atau lusa Raka coba ajak Jiana cek ke dokter Ma," ucap Raka. Desi mengangguk paham.
Pernikahan mereka sudah berjalan enam bulan. Wajar saja jika orang tua mereka menanyakan soal kehamilan Jiana.
"Sayang, hari ini mau menginap di sini atau pulang?" tanya Jiana yang berjalan menuju ruang tengah. Lalu ia duduk di samping Raka dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Terserah kamu saja. Kalau mau menginap juga tidak apa-apa," ucap Raka.
"Memangnya besok kamu nggak kerja?" tanya Jiana.
"Kerja, tapi berangkat siang," jawab Raka. Jiana mengangguk paham.
"Sayang, aku tinggal untuk cek email sebentar tidak apa-apakan?" tanya Raka.
"Oh, nggak apa-apa kok," balas Jiana. Ia menyalakan televisinya. Raka beranjak menuju kamar untuk membuka laptop dan mengecek beberapa pekerjaan yang sempat ia tinggalkan tadi.
Desi beralih duduk di samping Jiana. Sudah lama rasanya tidak menghabiskan waktu berdua dengan putrinya.
"Sayang, jadi kapan kamu mau planning untuk punya momongan?" tanya Desi.
Bukannya ia mendesak Jiana dan Raka untuk segera memiliki momongan, namun dengan adanya seorang anak di antara mereka akan lebih mengikat Jiana dengan Raka. Apalagi pernikahan mereka yang awalnya dengan paksaan. Desi hanya takut jika putrinya tidak bisa menerima Raka sebagai suaminya.
"Haih, hubungan kami saja baru diperbaiki, ini mama sudah tanya-tanya soal momongan. Kalau saja mama sampai tahu bagaimana kehidupan kami setelah menikah, akankah mama akan marah padaku? Aku sih tidak ingin buru-buru memiliki anak. Kuliah saja belum lulus," gumam Jiana dalam hatinya. Ia selalu bingung jika terus ditanya soal momongan. Ia tidak ingin tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jiana hanya ingin semua mengalir begitu saja. Ia yakin, jika sudah saatnya pasti akan memenuhi apa yang mereka minta. Namun untuk saat ini Jiana tidak ingin terbebani dengan itu.
"Kami juga lagi berusaha Ma. Kalau sudah waktunya pasti akan kami kabari. Untuk saat ini mama sabar dulu saja ya," jawab Jiana lembut. Ia juga tidak ingin menyakiti hati mamanya.
"Kalian sudah pernah melakukan hubungan suami istri kan?" tanya Desi tiba-tiba dan sontak mengagetkan Jiana.
"Hah? Apa sih Ma, tiba-tiba nanya begitu," jawab Jiana malu.
"Ya mama hanya khawatir sama hubungan kalian sayang. Apalagi kalian menikah karena dijodohkan. Terutama kamu, jangan bilang jika kamu belum pernah melayani suami kamu?" tanya Desi menyelidik. Ia menatap Jiana dengan lekat. Membuat Jiana kesusahan menelan salivanya sendiri.
"Aduh, mama ini apa-apaan sih. Malu lah kalau aku cerita sama mama soal begituan, ada-ada saja," batin Jiana merasa malu.
"Oh iya lupa, tadi sepertinya Raka memanggil Jiana deh Ma. Jiana ke kamar dulu ya, daah Ma," ucap Jiana. Ia segera berlari menuju kamarnya.
"Eh, kok kabur sih," gumam Desi. Ia tertawa kecil melihat sikap Jiana yang malu-malu.
__ADS_1