
Jiana menggeliat kecil. Dirinya tertidur bersama Raka di kamarnya. Jiana melirik jam yang ada di nakas. Pukul 12.30, ternyata cukup lama ia tertidur.
Tunggu dulu!
Tubuh Jiana setelah berada di atas tubuh Raka. Kepalanya yang ia sandarkan di dada Raka dan tangannya yang memeluk tubuh kekar itu. Ini memalukan. Bagaimana mungkin tanpa sadar Jiana memeluknya erat seperti itu.
"Untung Raka masih tertidur. Jika tidak, dia pasti akan mengejekku habis-habisan, huh," batin Jiana merasa lega.
Ia beringsut untuk duduk dengan pelan. Jangan sampai Raka terbangun. Ia mengusap wajahnya sedikit kasar. Jiana pelan-pelan turun dari kasurnya. Baru satu kaki berhasil menapaki lantai, Raka menariknya sehingga Jiana terjatuh dalam pelukan Raka.
"Mau ke mana?" tanya Raka yang masih memejamkan mata. Jiana berusaha melepas tangan Raka yang melingkar di perutnya. Namun usahanya gagal.
Tok tok tok
Suara pintu kamarnya diketuk. Pasti itu mamanya yang ingin membangunkan mereka. Jiana sedikit memukul lengan Raka agar segera terlepas dari tubuhnya.
"Raka, lepasin dulu. Aku mau buka pintunya," bisik Jiana.
Raka melepas pelukannya dan kini beralih meremas payudara Jiana.
"Aaaahh." Tanpa sadar Jiana mendesah.
Jiana segera membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Tangan Raka tidak tinggal diam. Ia semakin meremas dengan kuat.
__ADS_1
"Jiana? Apa kalian sudah bangun?" tanya Desi dari balik pintu.
"I-iya Ma. Se-sebentar lagi, ah" jawab Jiana sambil menahan dirinya agar tidak bersuara dengan keras.
"Ayo makan dulu sayang. Mama tunggu di bawah ya," ujar Desi kemudian berlalu dari sana.
Jiana menghela napasnya lega. Untung saja mamanya segera pergi dari sana. Kalau tidak, apa yang akan didengar mamanya bukanlah sesuatu yang baik.
"Lepasin!" ujar Jiana sambil memukul lengan Raka.
"Bagaimana sayang? Nikmat kan?" bisik Raka sambil melepas tangannya. Saat ini Jiana merasa geram dengan Raka. Namun ia mencoba menahannya.
"Gak usah banyak tanya, mama sudah menunggu kita di bawah," ujar Jiana dan turun dari kasurnya. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar.
"Ayo sini. Makan dulu sayang," ajak Desi yang sudah menunggu mereka dari tadi.
"Iya Ma," jawab Raka dan Jiana bersamaan.
Mereka mulai makan. Jiana juga mengambilkan untuk Raka. Ia bersikap semanis mungkin dihadapan mamanya.
Selesai makan, Jiana membantu mamanya untuk mencuci piring yang kotor. Sedangkan Raka menuju ruang keluarga untuk menyalakan tv.
"Bagaimana kehidupan rumah tangga kamu? Apa kamu mengalami kesulitan?" tanya Desi yang saat ini sedang mencuci piring dibantu oleh Jiana.
__ADS_1
"Ti-tidak ada Ma. Semua baik-baik saja kok," jawab Jiana sedikit gugup. Jangan sampai mamanya tahu apa yang sudah ia lakukan sebagai seorang istri. Bahkan Jiana tidak memberikan hak Raka sebagai suami saat malam pertama pernikahan mereka. Jika mamanya tahu hal ini, pasti akan marah besar padanya.
"Lalu, kapan kalian akan berencana memiliki anak?" tanya Desi dengan santai.
Uhukk... Uhukk
Pertanyaan sederhana yang sulit bagi Jiana untuk menjawabnya. Bahkan saat ini ia tidak memikirkan tentang anak sama sekali. Dan Raka juga belum membahasnya lagi setelah waktu itu.
"Jiana kan masih harus menyelesaikan skripsi dulu Ma. Tidak perlu terburu-buru," jawab Jiana.
Selesai mencuci piring, mereka menuju ruang keluarga yang sudah ada Raka di sana. Tak banyak yang mereka lakukan. Mengobrol santai sambil menunggu Alex pulang.
Sore pukul 16.15, Alex pulang dari kerja. Jiana dan Raka sedang berada di halaman belakang untuk bersantai di sana.
"Mau pulang kapan?" tanya Raka kepada Jiana. Jiana sedang menyandarkan kepalanya di bahu Raka.
"Terserah!" jawab Jiana santai.
"Yang jelas jawabnya kalau ditanya itu," ujar Raka sambil mencubit hidung Jiana.
"Terserah kamu Raka. Pulang sekarang juga nggak apa-apa," jawab Jiana jutek.
Raka hanya terdiam. Sedangkan Jiana asik bermain dengan ponselnya. Tak banyak yang mereka bicarakan. Raka hanya memperhatikan Jiana yang sesekali tertawa. Entah apa yang membuatnya tertawa.
__ADS_1