
Satu tahun kemudian...
đź’›Jianađź’›
Satu tahun sudah kini semua berlalu. Beranjak dua tahun usia pernikahanku, aku bersyukur suamiku masih setia menemani diriku ini. Meski banyak kekuranganku sebagai seorang istri disisinya. Maura, putriku yang menggemaskan itu kini mulai memasuki masa sekolah. Aku begitu menyayanginya, pun begitu juga dengan suamiku. Raka Sanjaya, lelaki yang dulu sempat aku tolak dan ternyata pilihan orang tuaku adalah yang tepat untukku.
Dia yang selalu sabar menghadapi sikapku yang terkadang kekanakan. Yah, semua itu kulakukan karena ingin membuatnya jera terhadapku. Namun aku salah. Justru aku sendiri yang masuk perangkap cintanya. Aku suka perlakuannya kepadaku selama ini. Dia perhatian dan penyayang. Tak goyah jika ada wanita lain yang berusaha menggodanya.
Lambat laun, mertuaku juga mulai menerima Maura. Walaupun awalnya mengekang keras usaha kami untuk menjadikannya putri angkat kami. Sikap polos dan menggemaskannya lah yang membuat mama mertuaku luluh dan kini menyayangi Maura.
Aku masih tak hentinya berharap. Semoga benih cinta kami tumbuh di rahimku suatu saat nanti. Dulu aku sempat stres dan down dengan kenyataan ini. Tetapi, suamiku selalu menguatkanku agar aku lebih ikhlas menjalani semua ini.
Hari ini, aku dan suamiku mengajak Maura ke rumah mama. Sudah lama kami tidak berkunjung ke sana. Itu karena suamiku yang sibuk akhir-akhir ini dan kami belum punya kesempatan mengunjungi mereka. Mau bagaimana lagi, suamiku tidak mengizinkanku dan Maura pergi tanpa dirinya.
"Mas, sudah siap?" tanyaku pada suamiku sambil membenahi kemeja yang sedang ia pakai saat ini. Suamiku mengecup keningku pelan. Lalu ia tersenyum dengan manis, dan itu sukses membuatku tersipu malu.
"Sudah, ayo berangkat," balasnya. Kami berjalan keluar kamar dan menghampiri Maura yang sudah siap di ruang tengah. Putriku itu merekahkan senyumnya menyambut kedatangan kami. Suamiku menggendong Maura hingga ke mobil.
Setelah beberapa menit perjalanan menuju rumah orang tuaku, kini akhirnya kami sampai di sana. Aku segera menggendong Maura dan masuk ke dalam rumah. Kami disambut hangat oleh mama dan papa. Maura berhambur ke pelukan mereka dan papaku segera membawanya untuk bermain bersama.
"Sudah lama kalian tidak berkunjung ke sini. Bagaimana kabar kalian?" tanya mamaku saat kami duduk di ruang tamu.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja Ma. Bagaimana kabar mama dan papa?" jawab mas Raka.
__ADS_1
"Kami baik kok," balas mamaku lalu tersenyum kecil. Ia beranjak ke dapur untuk membuatkan kami minuman.
Aku bersandar ke bahu suamiku. Entah mengapa, rasanya lelah sekali. Beberapa hari ini juga, aku merasa badanku tak sehat. Sering pusing dan biasanya mual. Aku tak memberitahu suamiku karena takut ia khawatir.
"Kenapa sayang?" tanyanya dan tergurat kekhawatiran pada wajahnya itu.
"Hanya lelah mas," jawabku malas.
"Kamu sih, mas kan sudah bilang agar Maura diasuh bi Lastri saja. Tapi kamu nggak nurut sama mas," ucapnya dan kubalas dengan senyum kecil diwajahku.
"Istirahatlah dulu, biar Maura mama yang jaga," kata mama sambil memberikan teh hangat untuk kami. Aku dan mas Raka mengangguk pelan. Kami menyesap teh hangat itu dan menikmati aroma khas dari teh tersebut. Setelah itu kami pamit untuk ke kamar.
Mungkin karena aku terlalu lelah dan waktunya juga pas untuk tidur siang. Kami sampai di rumah mama sekitar pukul 11.25, dan kini kami sedang berbaring di kamar menghilangkan penat yang mendera.
"Mas,"
"Hmm,"
"Kamu mandi gih, kamu bau," ucapku dengan kesal. Aku sedikit mendorong tubuhnya. Raut wajah suamiku berubah bingung. Berulang kali ia mencium aromanya sendiri dan menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa sih? Aku nggak bau kok," balasnya.
"Bauuu... Kamu bau mas, mandi sana cepetan!" rengekku padanya. Seperti anak kecil saja tingkahku ini. Suamiku semakin bingung dengan tingkahku. Namun pada akhirnya ia menuruti keinginanku juga.
__ADS_1
***
Pukul 14.00 aku bangun dari tidurku. Rupanya, cukup lama juga aku tidur siang ini. Aku merekahkan senyumku saat kulihat suamiku dengan pulas tidur di sampingku. Aku mengecup keningnya sekilas lalu meninggalkannya untuk melihat Maura.
"Ma, Maura di mana?" tanyaku pada mama karena aku tak melihat orang yang sedang kucari itu.
"Tidur di kamar mama. Tadi sempat merengek mencarimu, sampai akhirnya ia tertidur," jawab mama. Aku mengangguk pelan lalu membantu mama memasak.
Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Melihat makanan itu tersaji di meja makan membuatku tak nafsu untuk menyantapnya. Rasa mual itu kembali menghampiriku. Apakah aku..?? Tidak, aku menepis kemungkinan itu. Bukan tak ingin berharap, namun aku takut itu hanya asumsiku saja.
"Jiana, kamu kenapa sayang?" ucapan mamaku membuyarkan lamunanku.
"Jian baik-baik saja Ma. Jiana mandi dulu sekalian memanggil mas Raka ya Ma," ucapku lalu aku pergi meninggalkan mama.
Aku masih penasaran, tetapi aku juga takut. Ingin sekali mengecek, apakah benar aku sedang hamil. Namun, aku tidak sanggup lagi untuk kecewa. Aku benar-benar takut. Aku menatap diriku di cermin. Lamunanku melayang jauh membayangkan bahwa aku benar-benar hamil. Tanpa sadar, aku mengusap perutku berulang kali.
"Apakah dia sudah tumbuh di sini sayang?" Suara Raka dari belakang yang sedang memelukku. Aku tersenyum tipis sambil menatap pantulan kami dari cermin. Suamiku mencium pipiku dengan lembut. Aku mengusap lengannya.
"Aku tidak mau kecewa lagi mas. Sudah satu tahun lebih kita berusaha. Namun nyatanya," Suaraku bergetar. Aku bahkan tak mampu menahan kesedihan ini. Dadaku terasa sesak hingga saat ini terasa sulit untuk bernapas.
"Sudahlah. Sekarang kita sudah punya Maura kan? Jangan terlalu bersedih," bisik Raka yang seketika membuatku tenang. Ya Tuhan, terima kasih telah mengirim suami sebaik dia.
"Ih, aku nggak suka dengan bau kamu. Sana mandi dulu mas," usirku sambil mendorongnya menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Bau lagi? Kenapa kamu hari ini aneh sekali," gumamnya dan pergi menuju kamar mandi. Aku duduk di tepi ranjang sambil menunggunya selesai mandi.