
Pukul 16.30 Jiana baru pulang dari kampus. Sebenarnya hanya ada satu mata kuliah hari ini. Namun Jiana bosan jika pulang lebih awal. Akhirnya ia jalan-jalan terlebih dahulu dengan Sarah.
Klek
Jiana mulai memasuki rumah. Rumahnya tampak sepi. Jiana celingak-celinguk mencari keberadaan Raka. Mobilnya sudah terparkir di depan, namun di mana Raka.
Jiana tak ambil pusing. Ia segera masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih diri. Jiana mulai memasuki kamarnya.
"Aahh..." Pekik Jiana saat tangannya ditarik oleh seseorang. Tubuh Jiana dikunci oleh Raka.
"Aku sudah bilang padamu berkali-kali, jangan dekat-dekat dengan pria lain. Apa kamu tidak memahami perkataanku Jiana?" Ujar Raka penuh penekanan.
"Apa yang kamu maksud? Aku tidak ada hubungan apa-apa pada pria lain." Balas Jiana.
"Tadi waktu di kantin kampusmu! Apa yang akan kamu jelaskan dengan itu?" Kini tatapan Raka semakin memburu. Dirinya telah dikuasai api cemburu.
__ADS_1
"Jangan pernah punya pikiran untuk melarikan diri dariku Jiana. Ingatlah, bahwa aku adalah suamimu selamanya." Kini Raka mencengkram dagu Jiana dan mencium bibirnya dengan kasar. Jiana berusaha menolak namun ia tak bisa lepas dari Raka.
Napas Raka tersengal. Ia menatap tajam Jiana. Raka mengusap bibir Jiana yang sedikit bengkak akibat ulahnya tadi.
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud itu Raka. Tapi kalau kamu bertanya soal kak Rama, aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Dia berusaha mendekatiku tapi aku juga punya hati, aku ini istri kamu. Mana mungkin aku berbuat serendah itu dan menjalin cinta dengan pria lain!" Ungkap Jiana yang kini dirinya tersulut emosi.
"Kamu nggak seharusnya mengekangku seperti ini. Aku tahu batasanku sendiri." Tambah Jiana dan kini ia membuang muka dari Raka.
Raka hanya terdiam mendengar setiap ucapan dari Jiana. Apakah yang ia lakukan itu salah? Ia hanya tidak ingin Jiana berpaling darinya atau mencari pria lain yang lebih Jiana cintai. Raka hanya takut jika Jiana pergi meninggalkannya.
"Apakah yang kamu katakan itu benar sayang?" Kini suara Raka terdengar lembut.
"Kalau ditanya itu jawab Jiana." Ucap Raka sambil memainkan rambut Jiana.
"Males." Jawab Jiana ketus. Ia mendorong Raka agar menjauh darinya. Jiana segera menuju kamar mandi.
__ADS_1
Raka tersenyum tipis. Ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Raka membaringkan dirinya di tempat tidur sambil menunggu Jiana selesai mandi.
Jiana keluar kamar mandi, namun ia tidak melirik Raka sedikitpun. Ia duduk menghadap ke cermin. Menyisir rambutnya perlahan sambil memasang muka datar.
"Sayang, sini." Ucap Raka sambil menepuk sampingnya.
Namun Jiana hanya diam tak menghiraukan Raka. Ia masih fokus dengan rambutnya. Setelah selesai, Jiana keluar kamar menuju dapur. Ia tak lupa tugasnya sebagai istri jika di rumah. Ia segera memulai masaknya karena ia juga sudah lapar.
Raka menghela napasnya sejenak. Ia segera menyusul istrinya itu. Raka memeluk Jiana dari belakang.
"Apa kamu masih marah padaku, hmm?" Ucap Raka sambil sesekali mencium tengkuk Jiana.
"Raka, aku lagi masak. Kamu bisa nggak sih gak usah ganggu dulu. Sana duduk saja." Ujar Jiana dan mendorong Raka agar duduk di kursi.
Namun ketika Jiana kembali fokus dengan masakannya, Raka memeluknya lagi namun ini dengan erat sehingga Jiana susah melepas tangan Raka yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Maaf ya, tadi sudah salah paham." Bisik Raka di samping telinga Jiana yang membuat Jiana merinding.
"Kalau kamu ganggu terus, aku tidak akan melanjutkan masaknya!" Kini Jiana buka suara. Terlihat jelas jika Jiana sedang marah pada Raka.