
Terasa lengkaplah kini kebahagiaan Raka dan Jiana. Penantian selama ini terbayar sudah dengan kehadiran putrinya. Begitu banyak kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
Inilah kebahagiaan sesungguhnya. Jiana merasa sangat bersyukur. Memiliki suami seperti Raka Sanjaya. Mungkin dulu Jiana egois. Lebih mementingkan egonya sendiri. Namun, lambat laun ia mengerti. Bahwa Raka adalah laki-laki yang tepat untuknya.
Apa yang terlihat tak baik bukan berarti tak baik bagi dirimu. Justru sebaliknya, mungkin itulah yang terbaik dalam hidupmu. Jangan pernah menyiakan kasih sayang seseorang hanya demi egomu semata.
Semua butuh proses. Seperti halnya kehadiran cinta dalam hati Jiana. Meski telah beribu cara ia lakukan untuk menolaknya, jika itu adalah takdirnya, Jiana bisa apa. Rencana Tuhan memang begitu indah. Tak ada yang bisa mengetahuinya. Bisa saja hari ini kamu membenci seseorang, tetapi esok dialah orang yang sangat engkau cintai. Nikmati hidup dan tebarkan kebahagiaan.
Jangan pernah berputus asa. Tak ada penantian yang sia-sia. Justru proses itulah yang akan membuatmu semakin dewasa. Menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
***
Setelah dirawat di rumah sakit selama satu minggu, kini Jiana diperbolehkan untuk pulang. Dengan dijemput oleh orang tuanya, kini Jiana pulang ke rumahnya.
"Hati-hati sayang," ujar Raka sambil menuntun Jiana keluar dari mobil. Dengan hati-hati, Jiana memasuki rumahnya.
__ADS_1
Mama Mira, sang mertuanya menyambutnya dengan gembira. Jiana menuju kamarnya. Ia meletakkan bayinya di ranjang bayi lalu Jiana duduk di tepi ranjang. Ini pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu. Berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan putrinya. Ia masih harus banyak belajar dari kedua ibunya.
Sejujurnya, Jiana sedikit takut untuk menggendong bayinya. Bayinya yang masih mungil itu. Ia takut jika terjadi sesuatu kepada bayinya.
"Bayinya cantik ya seperti ibunya," ucap mama Mira ketika memandangi bayi itu yang terlelap. Semua orang yang ada di sana tertawa kecil.
"Bunda, Maura boleh lihat dedeknya?" tanya Maura di dekat Jiana. Jiana tersenyum tipis. Ia mengusap rambut Maura.
"Boleh dong. Maura lihatnya sama papa ya," jawab Jiana dengan lembut. Maura menganggukkan kepalanya.
***
"Bundaaa...." teriak Maura yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Jiana. Disusul Raka yang berjalan santai di belakangnya. Maura duduk di samping Jiana. Ia menatap adiknya itu yang sedang menyusu.
"Bunda, dedeknya tidur," ujar Maura lalu menatap Jiana. Jiana tersenyum tipis.
__ADS_1
"Iya sayang. Karena dedeknya masih kecil. Dulu Maura juga seperti ini," jawab Jiana.
Raka duduk di samping Maura. Ia hanya diam sambil memperhatikan Jiana dan Maura mengobrol. Sesekali dirinya tersenyum melihatnya.
"Mas, mama masih di bawah?" tanya Jiana sambil beralih untuk menidurkan bayinya kembali.
"Iya. Mama Desi ingin tinggal di sini selama kamu masa pemulihan. Dan juga ingin membantu merawat Maura sayang," jawab Raka.
"Loh, memangnya papa tidak menginap di sini juga?" tanya Jiana kembali. Ia sambil membereskan tempat tidurnya.
"Enggak. Hanya mama saja," jawab Raka. Jiana mengangguk paham. Mereka bertiga bergegas menuju meja makan.
Meskipun ada bi Lastri yang mengurus rumah dan Maura, tetapi mama Desi juga ingin membantu putrinya itu. Apalagi, Jiana masih dalam tahap pemulihan pasca melahirkan. Kehadiran ibunya di samping Jiana adalah hal yang diinginkannya.
"Kamu harus makan sayur yang banyak sayang. Jangan takut gemuk ya. Kalau sedang dalam masa menyusui itu harus makan yang banyak," ucap mama Desi dengan lembut. Ia mengambilkan makanan untuk Jiana.
__ADS_1
"Iya Ma," jawab Jiana lalu tersenyum tipis. Raka menatap istrinya dengan penuh cinta. Lalu mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Maura juga mau makan yang banyak. Biar bisa kuat gendong dedek bayi," ucap Maura sambil mengacungkan jarinya. Membuat mereka yang ada di ruang makan itu tertawa begitu juga bi Lastri.