
Hari-hari berlalu, Jiana sudah hampir menyelesaikan skripsinya. Akhir-akhir ini ia sangat sibuk dengan tugasnya sehingga jarang punya waktu untuk Raka. Raka memaklumi hal itu. Ia juga tidak ingin mengganggu konsentrasi Jiana agar cepat menyelesaikan skripsinya.
Sudah masuk bab empat, dan itu artinya sebentar lagi skripsinya akan selesai. Berhari-hari Jiana berada di ruang kerja Raka. Karena hanya di sana ia bisa mendapatkan ketenangan. Seperti saat ini, ia sedang menyusun laporannya.
Klek
Raka membuka pintu ruang kerjanya dan tersenyum tipis. Ia menatap Jiana yang sedang fokus dengan laporannya. Sesekali ia juga membantu dan memberikan pengarahan untuk Jiana. Tetapi hanya garis besarnya saja. Ia ingin Jiana sendiri yang menyelesaikannya.
Raka berjalan menghampiri Jiana. Ia duduk di samping Jiana. Jiana menoleh dan langsung mencium bibir Raka sekilas. Ia tersenyum tipis. Lalu ia melanjutkan lagi mengetiknya.
"Sudah revisi berapa kali? Kenapa tidak selesai juga?" tanya Raka. Ia sedikit mendekat lagi ke arah Jiana.
"Revisi dua kali, sebenarnya sudah bagus sih kata pak Ferdy. Tapi ada beberapa data yang harus dipastikan dulu sumbernya," ucap Jiana. Raka tersenyum.
"Jangan lupa makan sayang," ujar Raka. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Jadi, Raka berada di rumah. Jiana mengangguk.
Tok tok tok
Raka dan Jiana langsung menatap ke arah pintu. Mereka saling bertukar pandang.
"Tuan, nyonya besar datang untuk berkunjung," ujar bi Lastri. Jiana langsung mematikan laptopnya dan keluar bersama Raka.
"Di mana bi?" tanya Jiana.
"Ada di ruang tamu nyonya, saya permisi dulu," ujar bi Lastri. Keduanya mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu.
Mama Mira sudah berdiri untuk menyambut anak dan menantunya. Mira sudah lama tidak ke sini, ia merasa rindu dengan anak dan menantunya itu. Jiana dan Raka langsung mencium punggung tangan Mira bergantian. Raka mempersilakan mamanya untuk duduk.
__ADS_1
"Kenapa kalian jarang ke rumah mama? Apa istrimu lagi hamil terus jarang keluar rumah?" tanya mama Mira. Jiana langsung menunduk. Pembicaraan ini sungguh sangat sensitif buat Jiana. Namun hal wajar juga jika mertuanya menanyakan hal itu. Raka melirik Jiana dan menggenggam tangannya. Ia tersenyum tipis seolah menguatkan istrinya.
"Mmm... Bagaimana kabar mama?" tanya Raka mengalihkan topik pembicaraan.
"Yah, seperti apa yang kalian lihat. Mama baik-baik saja. Jadi, kapan kalian akan memberikan mama cucu? Ini sudah hampir satu tahun kalian menikah loh," ujar mama Mira. Sejujurnya ia sudah tidak sabar menantikan kehadiran cucunya.
"Ma, biarkan itu menjadi masalah kami berdua. Mungkin saat ini kami belum diberikan kepercayaan sama Allah untuk mengurus bayi," jawab Raka. Ia terus menguatkan Jiana.
Obrolan terhenti saat bi Lastri datang dengan membawa beberapa camilan dan minuman untuk mereka. Setelah menyajikan di atas meja, bi Lastri pamit ke dapur kembali. Mama Mira mencicipi minuman hangat tersebut dan beberapa kue kering.
"Apa kalian sudah pernah konsultasi?" tanya mama Mira.
"Iya, tapi dokter bilang ini hanya masalah waktu saja Ma," jawab Raka. Ia tidak akan memberikan Jiana kesempatan untuk menjawab pertanyaan mamanya. Karena jika hal itu terjadi, mungkin Jiana akan terpojok dan kembali merasa bersalah.
"Hah, memang harus bersabar ya. Tapi sampai kapan?" gumam mama Mira.
Jiana pamit untuk ke dapur sebentar. Daripada ia mendengarkan obrolan mertuanya, lebih baik ia membantu bi Lastri menyiapkan makan siang. Tak lama setelah itu, mama Mira datang ke dapur. Ia memperhatikan Jiana yang sedang membantu menyiapkan makan siang.
"Eh, mama," ucap Jiana kaget karena mamanya sudah duduk manis di ruang makan.
"Sini, mama mau ngobrol sama kamu," ucap mama Mira lembut. Jiana menghampiri mama mertuanya dan duduk di sampingnya. Mama Mira terdiam sejenak. Ia menatap Jiana.
"Kamu tidak lagi menyembunyikan sesuatu pada mama kan, sayang?" tanya mama Mira dengan lembut. Jiana mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti maksud dari mertuanya ini.
"Yah, mama tahu kalian masih muda dan masih punya banyak waktu untuk mempunyai anak. Tetapi mama? Kamu tidak kasihan pada mama?" ujar mama Mira memelas.
Jiana mengerti apa yang dirasakan mertuanya. Bukan hanya mertuanya, Jiana sendiri juga sedih karena sampai detik ini ia belum diberikan kepercayaan untuk menjaga buah hati. Sabar, itulah yang selalu Raka ucapkan padanya untuk menguatkan Jiana.
__ADS_1
"Kalau dalam waktu dekat ini kamu belum juga hamil, mama akan mencarikan Raka perempuan lain yang bisa memberikan Raka keturunan. Untuk apa punya istri yang tidak bisa memberikannya keturunan? Maafkan mama yang bicara kasar padamu. Tetapi mama juga berhak untuk ini," tutur mama Mira. Setelah berucap demikian, mama Mira langsung berdiri. Jiana tak lagi memiliki kata-kata untuk membalas ucapan mertuanya. Bahkan ia tak yakin pada dirinya sendiri.
"Mama mau ke mana? Tidak makan siang dulu?" tanya Jiana saat mama Mira melangkah meninggalkan ruang makan.
"Tidak perlu! Mama masih kenyang," jawab mama Mira tanpa melihat ke arah Jiana. Ia juga pamit pada Raka untuk segera pulang.
Jiana kembali duduk dan kini ia menangis. Hatinya sakit saat mertuanya mendesaknya untuk segera memiliki buah hati. Andaikan ia bisa mengendalikan semua itu sendiri, dirinya juga tidak akan bersusah menanti seperti ini. Hatinya hancur saat mertua yang biasanya bersikap penuh kasih sayang padanya justru bersikap dingin hari ini.
Raka menghampiri Jiana dan memeluknya dari belakang. Ia mencium pelipis Jiana sekilas.
"Jangan menangis," bisik Raka. Jiana berbalik dan langsung memeluk Raka. Ia menangis dalam dekapan Raka. Raka mengusap punggung Jiana dan menciumi puncak kepala istrinya.
"Kamu sudah dengar semuanya?" tanya Jiana.
"Bukan, tadi mama bicara sama aku soal itu. Tapi kamu tenang saja ya, wanita yang aku cintai hanya kamu sayang. Bagaimanapun kamu aku tetap akan menerimamu," ujar Raka. Ia mencium kening Jiana lama.
Raka menyeka air mata Jiana. Ia tersenyum tipis. Raka mengecup punggung tangan Jiana sekilas. Ia menarik Jiana lagi ke dalam pelukannya.
"Makan siang aja yuk," ajak Raka.
"Suapi," ucap Jiana manja. Raka tertawa kecil dan membantu Jiana duduk di kursi. Ia mengambil makanan dan mulai menyuapi Jiana.
"Kamu tidak makan?" tanya Jiana. Raka menggeleng pelan.
"Kamu saja," balas Raka. Jiana memakan makanannya dengan lahap.
Kini suasana Jiana kembali seperti biasa. Perhatian Raka padanya membuatnya lupa akan ancaman dari mertuanya. Jiana sudah kembali ceria lagi.
__ADS_1
Selesai makan siang, Jiana kembali menyelesaikan tugasnya dengan dibantu oleh Raka. Jiana bersyukur suaminya penuh perhatian padanya. Ada rasa sesal dalam hatinya saat dulu ia berusaha menolak pernikahan ini.