Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 45


__ADS_3

Selesai memasak, Jiana menyiapkan makanan itu ke meja makan. Mira senang jika Jiana mau membantunya seperti ini. Mira juga lega mendapat menantu yang baik dan pengertian seperti Jiana. Mira yang awalnya takut jika hubungan rumah tangga anaknya akan berantakan ternyata hal itu sama sekali tidak terjadi. Meskipun awalnya Jiana terpaksa menikah dengan Raka, sepertinya dari hari ke hari Mira mulai melihat adanya cinta di mata Jiana untuk Raka.


"Semoga kalian selalu bahagia. Mama hanya bisa mendoakan kalian sayang, semoga rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan," batin Mira yang melamun sambil memerhatikan Jiana dari dapur.


"Ma? Ada apa? Jika mama capek istirahat saja. Biar Jiana yang menyelesaikan ini," ucap Jiana yang mendekat ke arah Mira. Mira hanya tersenyum dan mengusap pipi Jiana lembut.


"Baiklah, setelah ini kamu panggil suamimu untuk makan," ujar Mira. Jiana mengangguk. Mira memutuskan untuk ke kamar terlebih dahulu. Ia memutuskan untuk menyegarkan diri.


Jiana melanjutkan lagi dibantu oleh pembantu di situ. Setelah selesai, Jiana segera menuju kamar Raka untuk mengajaknya makan malam.


Jiana membuka pintu kamar Raka dan mengintip ke dalam. Jiana mengedarkan pandangannya di kamar tersebut. Kemudian Jiana masuk dan menutup kembali pintu kamar itu.


Saat Jiana berbalik, Raka sudah berdiri di depan almari mencari pakaian gantinya. Namun yang membuat Jiana lebih terkejut lagi Raka telanjang bulat tidak memakai sehelai kain yang menutupinya. Jiana sedikit berteriak dan memalingkan wajahnya. Pipinya memerah seketika.


"Raka, kamu kenapa kebiasaan sih. Nggak pakai handuk!" ucap Jiana yang masih memunggungi Raka. Raka tersenyum tipis dan mendekati Jiana.

__ADS_1


Raka memeluk Jiana dari belakang. Jiana semakin salah tingkah. Raka semakin mendekapnya dengan erat.


"Kenapa masih malu? Padahal setiap malam juga melihat loh," bisik Raka di dekat telinga Jiana.


"Pakai bajumu Raka. Kita sudah ditunggu mama di bawah untuk makan malam," ujar Jiana agar Raka segera memakai bajunya.


"Kenapa terburu-buru?" bisik Raka kembali. Jiana hanya mematung merasakan debaran dalam dadanya.


Dengan sedikit kasar, Raka membalikkan tubuh Jiana untuk menghadapnya. Jiana yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya perlahan di buka oleh Raka. Raka menyentuh pipi Jiana dengan lembut. Beralih lagi mengusap lembut bibir Jiana dengan jari jempolnya.


Tok tok tok


"Tuan muda? Nyonya muda? Anda sudah ditunggu oleh nyonya di meja makan," ucap salah satu pelayan rumah itu.


Raka menggertakkan giginya. Ia terlihat kesal karena ada yang berani mengganggunya. Sedangkan Jiana tersipu malu. Jiana mendorong pelan tubuh Raka dan mengambil handuk. Ia memakaikan handuk tersebut ke tubuh Raka.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah bilang tadi jika mama sudah menunggu kita," ucap Jiana sambil mencarikan baju ganti untuk Raka.


"Tuan muda?" panggil pelayan itu lagi.


"Bi, tolong sampaikan pada mama sebentar lagi kami turun," jawab Raka. Sebenarnya saat ini Raka sedang kesal.


"Baik tuan," ucap pelayan itu. Kemudian ia kembali menuju meja makan.


Selesai memakai baju, Jiana menarik tangan Raka agar segera keluar dari kamar. Ia tidak enak hati jika mamanya menunggu mereka lama.


"Sayang," panggil Raka.


"Ya?" Jiana berbalik menatap Raka. Raka menatap Jiana dengan sendu. Jiana tersenyum tipis dan mendekati Raka. Ia mengecup pipi Raka sekilas.


"Kita selesaikan urusan kita setelah makan, oke?" ucap Jiana sambil mengedipkan sebelah matanya. Jiana segera berjalan mendahului Raka. Raka tersenyum lebar. Ia segera menyusul istrinya ke meja makan.

__ADS_1


__ADS_2