
"Hei, tunggu dulu!" ujar Raka sembari menarik tangan Jiana namun buru-buru ditepis olehnya. Jiana langsung berlari menjauh dari Raka.
Raka mengikuti Jiana pergi. Namun Jiana berlari dan entah ke mana ia juga tidak tahu. Saat ini dirinya sedang marah dengan suaminya itu yang menurutnya tidak menepati janji.
Jiana kesal saat melihat Raka tanpa rasa bersalah padanya sedikitpun. Bahkan sikapnya juga masih seperti biasanya.
"Sayang, kita bicara baik-baik yuk. Aku minta maaf, tadi aku benar-benar lupa," ujar Raka sambil mengikuti Jiana. Jiana tak meresponya sedikitpun.
"Sayang, tunggu dulu," ujar Raka dan menarik Jiana kuat hingga Jiana terhempas dalam pelukannya.
"Aku tahu kamu marah saat ini. Tapi kita bisa bicarakan ini baik-baik, oke?" ucap Raka berusaha menenangkan Jiana.
__ADS_1
"Apalagi Raka yang akan kamu jelaskan, hah? Aku tidak keberatan jika kamu sibuk seharian atau tidak pulang sekalian. Tapi bisa kan balas pesan atau telepon aku sejenak? Aku sudah nunggu kamu di kampus dari jam 13.00 siang. Kamu bisa bayangin aku di sana berapa lama?" ucap Jiana dengan marah.
"Aku nunggu kamu sampai pukul 16.30 Raka. Tapi apa? Kamu sama sekali tidak datang," ucap Jiana meluapkan keluh kesahnya yang sudah ia tahan sedari tadi. Raka berdiri mematung di depan Jiana. Iya, kali ini ia bersalah. Ia bahkan mengecewakan kepercayaan Jiana yang susah payah sudah ia dapatkan. Harusnya hari ini akan menjadi hari ia dan istrinya saling dekat satu sama lain.
"Bodoh, saat Jiana mulai membuka hatinya kenapa kamu justru menghancurkannya sendiri Raka?" batin Raka menyesal.
"Iya aku minta maaf. Kamu bisa hukum aku apa saja, asal jangan marah lagi ya. Tadi memang benar-benar sibuk sayang. Ponselku juga mati tadi," ujar Raka. Ia berharap kali ini Jiana memaafkannya.
"Sudahlah, aku capek ingin pulang," ucap Jiana acuh. Jiana menghentikan taksi dan pergi meninggalkan Raka yang masih berdiri sambil menatap Jiana.
Sampai di rumah, Jiana langsung melemparkan tasnya ke sembarang tempat. Ia masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi. Tak lama setelah itu, ia keluar dan ternyata Raka baru sampai di kamarnya.
__ADS_1
Jiana hanya menatap Raka sekilas dan melewatinya begitu saja. Ia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Raka ingin sekali merengkuh Jiana, namun keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Ia memutuskan untuk segera mandi.
"Sayang, kamu mau berapa pembantu di rumah kita?" tanya Raka saat melangkah menapaki anak tangga satu persatu.
"Nggak perlu," jawab Jiana ketus.
"Aku serius loh. Minta berapa? Satu? Dua? Atau tiga?" tanya Raka lagi. Ia menarik kursi dan duduk di sana.
"Aku juga serius. Bukankah kamu sendiri yang bilang jika aku harus menjadi istri yang mandiri?" ujar Jiana malas.
__ADS_1
"Hah... Bagaimana caranya agar dia tidak marah lagi ya... Biasanya dia tidak semarah ini. Atau mungkin lagi datang bulan jadi mood nya lebih sensitif?" gumam Raka dalam hatinya. Jujur saat ini ia bingung harus berbuat apa agar Jiana memaafkannya.
Jiana makan lebih dulu. Ia bahkan tak menatap Raka sama sekali. Sedangkan Raka masih fokus memerhatikan Jiana.