Nikah Paksa Jadi Cinta

Nikah Paksa Jadi Cinta
Part 70


__ADS_3

"Mas..." panggil Jiana yang mengejutkan mereka bertiga. Jiana bersandar pada ranjang. Mereka menatap Jiana dan terkejut melihat Jiana yang ternyata sudah bangun. Mereka bertiga masih terpaku menatap Jiana.


"Kenapa kamu tidak bilang sama aku sebelumnya?" tanya Jiana yang mulai meneteskan air matanya. Raka nampak kebingungan. Ia menatap kedua mertuanya lalu kembali menatap istrinya.


"Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini dariku?" tanya Jiana lagi. Raka berdiri dan berjalan mendekati istrinya. Sedangkan Desi dan Alex hanya terdiam sambil menyimak mereka. Desi dan Alex tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.


Jiana menundukkan wajahnya. Ia meneteskan air matanya. Merasa sedih dan benci dengan keadaannya saat ini. Raka langsung memeluk Jiana dan menciumi puncak kepalanya. Jiana memeluk suaminya dengan erat dan menumpahkan segala kesedihannya.


"Maaf sayang, aku tidak tega menceritakan hal ini padamu. Setiap kali aku ingin bercerita, melihatmu yang senang atas kehamilan ini membuatku sedih. Sedih karena kita harus melepas calon anak kita secepat mungkin," tutur Raka.


Jiana melepas pelukan itu. Ia menatap perutnya yang masih rata dan mengusapnya dengan lembut.


"Apapun resikonya, biarkan aku melahirkan bayi ini mas. Kita sudah menantikannya hampir satu tahun. Jika nyawaku yang menjadi gantinya, aku siap mas mengorbankannya. Tapi, biarkan bayi ini lahir," ucap Jiana yang masih menatap perutnya dan mengusapnya. Raka dan kedua orang tua Jiana terkejut dengan permintaan Jiana.


"Aku tidak akan membiarkanmu dalam masalah. Sayang, dengarkan aku. Setelah ini kita masih bisa punya anak lagi. Tapi, jika ini membahayakan nyawa kamu, aku tidak akan mempertaruhkannya," ujar Raka mulai panik. Jiana memejamkan matanya sejenak.


"Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa Tuhan memberikan ujian sebesar ini?" batin Jiana pilu.


Ia sudah sangat bahagia dengan kabar kehamilannya ini. Namun, disaat bersamaan Tuhan tidak mengizinkannya membesarkan bayi itu dan tumbuh dirahimnya. Ia sudah lama menunggu saat-saat ia hamil. Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Ia harus segera menggugurkan kandungan itu demi keselamatannya.


Jiana mendongak untuk menatap suaminya. Raka hanya tersenyum tipis dengan jemarinya yang mengusap air mata istrinya itu.


"Tapi mas, aku rela jika harus kehilangan nyawaku demi bayi kita. Biarkan aku membesarkannya hingga dia lahir, aku mohon," pinta Jiana lagi. Ia meraih tangan Raka dan menggenggamnya. Raka duduk di samping Jiana. Ia memeluk istrinya kembali dan kini ia merasa sedih atas apa yang ingin istrinya lakukan.

__ADS_1


"Jangan lakukan itu sayang. Bukannya aku tidak sayang dengan calon anak kita. Namun, ini adalah jalan yang terbaik untuk kamu dan bayi kita. Mungkin kita masih belum diberikan kepercayaan untuk mengurus anak," ucap Raka sedih.


Desi dan Alex berjalan mendekat ke arah mereka. Mereka juga merasa sedih atas kenyataan ini. Semua yang Raka ucapkan memang benar dan harus segera dilakukan. Jika tidak, nyawa putrinya yang akan menjadi taruhannya. Ini semua demi kebaikan Jiana. Pada kehamilan pertamanya harus mengalami masalah yang sangat membuatnya terpukul. Desi paham apa yang mereka rasakan. Namun, ia juga tidak ingin membahayakan nyawa putrinya sendiri.


"Apa yang dikatakan suamimu memang benar sayang. Ini adalah jalan satu-satunya saat ini. Percayalah pada mama, jika kamu masih bisa hamil lagi suatu hari nanti," tutur Desi. Alex mengangguk membenarkan apa yang diucapkan istrinya.


Jiana hanya diam. Ia terus memandangi perutnya yang masih rata. Namun, air matanya juga tak hentinya menetes. Ia merasa tidak sanggup dengan kenyataan ini.


Dokter Faye datang berkunjung untuk memeriksa keadaan Jiana. Ia mulai memeriksa Jiana. Sedangkan Raka dan orang tua Jiana berdiri di dekat ranjang sambil memperhatikannya.


"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Desi. Sebelum menjawabnya, dokter Faye menatap Raka. Raka mengangguk pelan. Dokter Faye tersenyum lalu mulai menjelaskan bagaimana kondisi Jiana saat ini. Ia juga memberikan beberapa opsi untuk menangani masalah tersebut. Dan, akhirnya Jiana memutuskan untuk meminum obat yang disarankan oleh dokter dengan alasan ia takut melakukan operasi meskipun itu hanya operasi kecil. Dokter Faye segera menyiapkan keperluan untuk Jiana. Tetapi, Jiana meminta untuk dilakukan di rumahnya. Ia tidak ingin tinggal lama-lama di rumah sakit ini. Tentunya, ia juga sudah berkonsultasi dengan dokter Faye. Dan dokter Faye secara pribadi mengawasi Jiana saat melakukan pengobatan di rumah.


***


Saat ini, mereka sudah sampai di rumah. Semenjak hari itu, Raka belum menyempatkan dirinya lagi untuk ke kantor. Keadaan ini membuatnya tak tega jika harus meninggalkan istrinya meskipun itu hanya bekerja. Ia menyerahkan semuanya kepada asistennya dan sekretarisnya. Beberapa hari ini, ia ingin menemani Jiana sampai keadaan Jiana kembali stabil.


Sesampainya di kamar, Jiana langsung merebahkan dirinya di kasur. Raka duduk di sampingnya sambil menyelimuti istrinya. Ia mengusap lembut kening istrinya lalu tersenyum manis.


"Mau sarapan apa? Biar aku siapkan untukmu sayang," ucap Raka dengan lembut.


"Aku mau makan bubur," jawab Jiana. Lalu Raka pamit untuk ke dapur dan menyiapkan sendiri bubur itu.


Jiana terus memandangi obat yang sudah ada ditangannya. Ketika ia menelan obat tersebut, berarti janin yang ada dirahimnya perlahan akan mati dan mengalami keguguran. Jiana mencengkram kuat obat tersebut. Ia tidak ingin melakukan itu, tetapi kenyataan yang telah memaksanya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak bisa melakukan ini," batin Jiana sambil meneteskan air matanya. Namun, ia buru-buru mengusapnya karena takut membuat suaminya khawatir.


"Mama akan melindungimu sayang. Maafkan aku mas, aku akan mempertahankan bayi ini sampai lahir nanti, meskipun itu akan membahayakan nyawaku sendiri," batin Jiana dengan tekadnya yang kuat. Sebenarnya, alasan ia takut operasi adalah alasan fiktif saja. Ia tidak benar-benar menyetujui keputusan tersebut. Dan ia hanya ingin melindungi bayinya.


Tak lama kemudian, Raka masuk ke kamar dengan membawa bubur serta air minum. Jiana langsung menyembunyikan obat tersebut ke bawah bantalnya. Raka tersenyum tipis lalu duduk di samping Jiana. Ia mulai menyuapi istrinya.


"Suka?" tanya Raka. Jiana mengangguk pelan dan terus menatap suaminya. Raka mengusap pipi Jiana dengan lembut.


"Habis ini minum obatnya dan istirahatlah sayang," ucap Raka.


"Pa-pasti... Aku akan meminumnya nanti," jawab Jiana dengan gugup. Raka tersenyum tipis lalu kembali menyuapi Jiana sampai bubur itu habis. Setelah selesai, ia meletakkan mangkuk kosong itu di atas nakas. Jiana meminum minumannya sedikit dan meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas.


"Obatnya di mana sayang? Tadi di sini," tanya Raka sambil mencari obat tersebut. Jiana diam sejenak. Ia terlihat kebingungan.


"I-itu, aku telah menyimpannya. Aku akan meminumnya nanti mas," ujar Jiana.


"Minumlah sekarang sayang, Ini demi kebaikanmu," ucap Raka lalu mengecup kening Jiana dengan lembut.


Jiana mengeluarkan obat tersebut dan meminumnya. Karena Raka tidak akan pergi dari sana sebelum melihat Jiana meminumnya. Setelah selesai, Jiana langsung berbaring dan memejamkan matanya. Sedangkan Raka menuju ke dapur untuk mengembalikan mangkok dan gelas tadi.


Setelah memastikan Raka keluar kamar, Jiana langsung buru-buru menuju kamar mandi untuk membuang obat yang belum ia telan. Setelah itu, ia buru-buru kembali ke kasurnya dan memejamkan matanya.


"Maafkan aku mas... Aku hanya ingin bayi kita selamat," batinnya sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2