
Raka tersenyum bangga ketika berhasil mendapatkan Jiana seutuhnya. Ia tidak akan pernah melepaskan Jiana dari hidupnya. Takdirnya hanya bersama Jiana.
Raka menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Jiana. Membelai pipi Jiana yang tengah tertidur karena kelelahan. Raka mencium sekilas kening dan bibir Jiana. Ia merengkuh Jiana ke dalam pelukannya.
Pukul 20.30, Jiana terbangun karena merasa lapar. Tadi sore ia belum sempat makan gara-gara berdebat dengan Raka.
Eh, tunggu!
Apa tadi? Berdebat? perdebatan yang berakhir tak menyenangkan bagi Jiana. Jiana memutar kepalanya dan benar saja, Raka tertidur di sampingnya. Bahkan semua kejadian itu terasa mimpi baginya.
Jiana berusaha untuk duduk. Meskipun terasa nyeri di bagian bawahnya. Ia ingin membersihkan diri dan ingin segera makan. Jiana melangkah pelan ke arah kamar mandi dengan dibalut selimut ditubuhnya. Ia bahkan tidak peduli dengan keadaan Raka yang sama seperti dirinya.
"Aauuww.." ujar Jiana lirih dan terduduk di lantai. Bahkan kakinya sangat lemas sekali.
"Kalau masih sakit tidur saja dulu," ujar Raka tanpa membuka matanya. Jiana mendelik ke arah Raka. Rasanya ia ingin mencabik-cabik pria dihadapannya itu. Alih-alih ingin mencabik Raka, tetapi ia sendiri yang akan tercabik habis olehnya.
__ADS_1
"Dasar Raka sialan!" umpat Jiana yang berusaha berdiri karena sudah tidak tahan lagi dengan perutnya yang lapar.
Bibir Raka menyungging. Tanpa sepengetahuan Jiana, ia tersenyum mendengar umpatan itu. Setidaknya Jiana bersikap seperti biasanya.
Setelah bersusah payah, barulah Jiana sampai di depan pintu kamar mandi. Dirinya menghela napas lega.
Setelah selesai mandi, ia bergegas menuju meja makan. Ia sungguh tak peduli sama sekali dengan Raka.
Makanan yang ia masak tadi sore belum tersentuh sama sekali. Jiana memanaskan lagi makanan tersebut dan mulai menyantapnya.
"Ngapain?" tanya Jiana asal dan masih menikmati makanan di depannya.
"Aku juga belum makan sayang," ucap Raka sambil mencium bahu Jiana sekilas.
"Bodoamat!" jawab Jiana ketus.
__ADS_1
Raka menghela napas panjang. Ia menarik kursi yang ada di samping Jiana dan duduk di sana. Ia memperhatikan Jiana yang sedang makan sambil tersenyum tipis.
"Ngapain sih?" tanya Jiana yang menyadari bahwa Raka sedang memperhatikannya.
"Kamu tidak marah?" tanya Raka sambil menaikkan alisnya.
Jiana menatap Raka sekilas. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Raka. Mau marahpun ia sudah tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi dan Jiana juga secara tidak langsung mengizinkan Raka tadi. Jiana terdiam dalam pikirannya.
"Sayang?" panggil Raka karena Jiana hanya diam saja.
Jiana tersenyum kaku. Mau dibilang bahagia rasanya itu bukan keadaan hatinya saat ini. Karena Jiana belum merasa jatuh cinta pada Raka.
"Nggak kok. Aku justru minta maaf sama kamu yang baru sekarang ini bisa memberikan hak kamu sebagai suami," ucap Jiana tanpa menatap Raka.
Raka meraih Jiana dan memeluknya dengan erat. Jiana memejamkan matanya meresapi setiap aroma dari tubuh Raka. Dan yang membuat Raka terkejut lagi, bahkan Jiana membiarkan Raka memeluknya lama seperti ini.
__ADS_1
Adegan panas tak berhenti di situ saja. Raka yang mempunyai seribu macam cara untuk membuat Jiana tak berdayapun memulai aksinya. Kali ini Jiana benar-benar terbuai oleh kelembutan sikap Raka. Bahkan kini tubuhnya semakin agresif jika Raka menyentuhnya dengan lembut.