
Pukul 12.00 Raka selesai meeting bersama kliennya. Ia segera menuju ke ruangannya kembali dan ingin menghubungi istrinya. Ia sudah rindu sekali dengan Jiana.
"Hai sayang, lagi apa kamu?" ucap Raka setelah panggilan teleponnya terjawab oleh istrinya.
"Lagi makan siang sama mama Mira. Kamu sudah makan?" ucap Jiana.
"Oh, ada mama di sana?" tanya Raka lagi.
"Ada, mau ngomong sama mama?" tanya Jiana.
"Tidak, aku hanya merindukanmu," ucap Raka. Terdengar suara gelak tawa Jiana dari sana. Mereka bicara cukup lama ditelepon.
***
"Niha, saya amati waktu rapat tadi kamu nampak murung, ada apa?" tanya pak Rusdi setelah mereka sampai di kantornya.
__ADS_1
"Saya hanya kurang enak badan saja," jawab Niha lalu tersenyum tipis. Pak Rusdi mengangguk paham.
"Menurutmu, bagaimana pandangan kamu tentang Raka?" tanya pak Rusdi sambil berjalan menuju meja kerjanya. Kemudian ia duduk di kursi kerjanya dengan santai. Sedangkan Niha berdiri tak jauh dari meja kerja pak Rusdi.
"Maksud bapak apa ya?" tanya Niha sedikit gugup. Pak Rusdi tertawa sejenak. Ia menatap Niha dengan lekat.
"Kamu menyukainya kan? Lalu, kenapa kamu tidak berusaha mendekatinya?" tanya pak Rusdi. Tak banyak yang tahu bahwa Raka sebenarnya sudah memiliki istri. Bahkan orang-orang yang menjadi koleganya juga jarang yang mengetahui informasi ini.
Niha meremas jemarinya. Ia tidak tahu apa maksud dari pak Rusdi menanyakan masalah pribadi seperti ini. Ia bukan tidak ingin mengakui bahwa dirinya mencintai Raka yang selama ini menjadi sahabatnya tersebut. Namun, ia tidak bisa sembarangan cerita kepada seseorang.
"Kalau Niha bisa mendekati Raka itu akan menguntungkan perusahaanku. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini," batin pak Rusdi.
***
Sore harinya, Raka pulang dari bekerja. Namun sebelum sampai di rumahnya, ia menuju ke sebuah panti asuhan yang tadi siang sudah disurvey oleh Farrel. Ia teringat dengan keinginan Jiana yang ingin mengadopsi anak. Tetapi semua tidak bisa sembarangan dilakukan. Ada beberapa prosedur yang harus mereka selesaikan nanti.
__ADS_1
"Tuan muda, silakan," ucap Farrel setelah membuka pintu mobilnya. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruangan kepala panti tersebut.
"Anda sudah datang?" sapa bu Irin, pengelola panti "Griya Indah" itu. Bu Irin mempersilakan mereka untuk duduk. Ia menjelaskan keadaan dan segala informasi mengenai anak-anak yang tinggal di panti tersebut.
"Jadi, mereka ini rata-rata adalah yatim piatu?" tanya Raka.
"Betul tuan, tetapi ada juga yang sengaja ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Saya merasa sangat kasihan kepada mereka, dan akhirnya saya mendirikan "Griya Indah" ini agar mereka bisa hidup dengan layak," ujar bu Irin. Raka tersenyum sambil mengangguk pelan.
Bu Irin membawa Raka untuk bertemu dengan anak-anak asuhnya. Agar Raka bisa melihat secara langsung anak-anak yang tinggal di sana. Meskipun mereka tinggal di sebuah panti asuhan, tetapi bu Irin memperlakukan mereka dengan sangat layak serta tidak pernah membedakan mereka. Bu Irin selalu berusaha memberikan yang terbaik dari segi pendidikan hingga kebutuhan hidup mereka.
"Terima kasih banyak bu Irin atas waktunya. Lain waktu saya akan mengajak istri saya ke sini dan melihat secara langsung keadaan mereka. Mungkin istri saya ingin mengadopsi salah satu dari mereka," ujar Raka.
"Sama-sama tuan, saya sangat senang sekali jika Anda dan istri Anda mau datang ke tempat kami," balas bu Irin.
"Sama-sama bu, kalau begitu saya pamit dulu. Salam untuk mereka," ucap Raka. Bu Irin hanya tersenyum. Ia tentunya juga bahagia apabila anak-anak yang diasuhnya memiliki kehidupan yang lebih layak lagi dan memiliki keluarga yang lengkap yang bisa mengurus dan menyayangi mereka.
__ADS_1
Setelah itu, Raka langsung bergegas ke rumahnya dan memberitahu kabar ini kepada istrinya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan istrinya tersebut.