
Dua hari berikutnya, Karena Jiana merasa tertekan, Raka membawa Jiana untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Raka dan Jiana menginap di rumah keluarga Alex untuk beberapa hari ke depan. Raka berharap agar Jiana sedikit melupakan masalah mamanya yang menekan Jiana untuk segera hamil.
Hari ini, Raka izin untuk tidak bekerja dan menemani Jiana berkemas untuk persiapan ke rumah orang tua Jiana. Tentu saja Jiana sangat senang, ia sudah lama tidak tidur di kamarnya itu. Ia juga rindu suasana di rumahnya.
"Bawa seperlunya saja sayang, bukankah di rumah juga masih banyak pakaianmu?" ucap Raka yang baru saja duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopinya.
"Aku tidak bawa banyak barang. Ini untuk kamu sayang, kamu kan harus tetap bekerja," jawab Jiana tanpa melihat Raka. Ia fokus mengemas pakaian kerja Raka.
"Aku bisa pulang ke sini nanti untuk ambil baju kerja," balas Raka. Ia mengambil ponselnya untuk memantau pekerjaan Farrel, asistennya.
Jiana sudah selesai berkemas. Tidak banyak yang ia bawa, hanya yang terpenting saja. Termasuk laptop dan buku-bukunya.
Setelah selesai, ia duduk di samping Raka. Jiana tersenyum dan menyandarkan dagunya di lengan Raka sambil melihat ke arah ponsel Raka. Raka menoleh sekilas untuk mencium kening Jiana.
"Terima kasih ya kamu sudah sabar menghadapiku selama ini. Maaf jika aku belum bisa membahagiakanmu," ucap Jiana. Raka beralih merangkul istrinya dan mengusap punggungnya.
"Jangan berkata seperti itu. Bisa menikahimu saja aku sudah merasa beruntung," balas Raka. Raka meletakkan ponselnya di atas meja. Ia merengkuh Jiana ke dalam dekapannya. Cukup lama mereka dalam posisi itu tanpa satu patah kata yang terucap di antara mereka. Jiana memejamkan matanya. Menikmati aroma khas tubuh Raka. Jiana merasa nyaman dan aman setiap kali Raka mendekapnya.
"Tidak jadi ke rumah mama?" tanya Raka. Jiana mendongak menatap Raka.
"Jadi. Sekarang?" tanya Jiana balik.
__ADS_1
"Kalau kamu memelukku terus, mana jadi kita berangkat sekarang sayang," ucap Raka. Ia mencium kening Jiana sekilas.
Jiana menyengir ke arah Raka. Lalu ia melonggarkan pelukannya. Jiana pamit untuk ke kamar mandi lebih dulu. Sedangkan Raka kembali memantau pekerjaannya dari ponselnya. Ini masih pukul 09.00, Raka juga tidak ingin terburu-buru ke rumah mertuanya.
Beberapa menit berlalu. Kini Jiana sudah siap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Sedangkan Raka baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Dengan langkah gontai Raka menuju bath up. Jiana menunggu Raka sambil berias diri agar terlihat lebih segar.
Tak lama setelah itu, Raka sudah keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju santainya dengan rapi. Raka membawa koper yang berisi pakaian mereka. Mereka menuruni tangga dan pamit pada bi Lastri. Lalu Raka berpesan jika mamanya menanyakan keberadaan mereka suruh bi Lastri jawab tidak tahu tentang itu. Raka juga meminta agar bi Lastri menjaga dan mengurus rumahnya selama ia dan istrinya pergi.
Raka memasukkan koper ke bagasi. Mereka masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya. Kali ini Raka tidak akan membiarkan mamanya menyakiti hati istrinya lagi. Ini adalah keputusan terbaiknya. Meski dulu mamanya sangat penyayang, entah kenapa kini seperti berubah menjadi orang lain. Raka tak habis pikir jika mamanya setega itu pada menantu kesayangannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kediaman Alex. Jiana dan Raka keluar mobilnya. Raka membuka bagasi dan mengambil kopernya. Pak Rio dengan sigap membantu membawakan koper mereka sampai ke dalam rumah.
"Mama ada pak?" tanya Jiana pada pak Rio.
"Ma, mama..." panggil Jiana saat mereka baru masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan menuju ruang keluarga. Pak Rio meninggalkan kopernya di sana atas permintaan Raka.
Mama Desi yang sedang berada di kamarnya bergegas keluar saat mendengar suara putrinya. Mama Desi ingin melihat apakah benar itu suara putrinya.
"Loh, kalian ke sini kok tidak mengabari mama lebih dulu?" tanya mama Desi sambil berjalan menuruni tangga.
"Iya, tadi kami buru-buru Ma," jawab Jiana. Mama Desi menghampiri mereka dan matanya terfokus pada koper di dekat mereka.
__ADS_1
"Kalian mau ke mana?" tanya mama Desi heran. Karena jarang sekali jika Raka dan Jiana datang ke sini membawa barang yang begitu banyak. Mama Desi ikut duduk di sofa.
"Ma, bolehkah kami tinggal di sini untuk sementara?" tanya Raka. Mama Desi semakin bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Hanya sementara Ma," sambung Jiana karena mamanya tidak kunjung memberikan jawaban.
"Kalian mau tinggal di sini? Serius?" tanya mama Desi memastikan. Mereka berdua mengangguk. Mama Desi tersenyum lebar.
"Kapan pun, rumah mama akan tetap terbuka untuk kalian. Mau menginap satu hari, dua hari, satu tahun, dua tahun, atau selamanya juga tidak masalah sayang. Justru mama sangat senang," tutur mama Desi antusias. Jiana dan Raka menghela napas lega.
Mama Desi membuatkan minuman dingin untuk mereka. Sedangkan Raka menuju ke kamar untuk menaruh kopernya. Selesai menaruh koper, Raka kembali menuju ruang keluarga dan duduk di sana. Jiana membantu mamanya di dapur sekalian menyiapkan makan siang nanti. Mama Desi juga menghubungi suaminya agar cepat pulang karena anak dan menantunya datang untuk berkunjung.
"Kamu dan suamimu ada masalah apa sebenarnya?" tanya mama Desi. Ia seolah bisa menebak jika mereka sedang ada masalah. Jiana tersenyum tipis. Ia bingung untuk bercerita dari mana.
"Tidak ada Ma, kami hanya ingin suasana yang beda saja. Bosan di rumah terus," jawab Jiana. Ia melanjutkan lagi membantu mamanya memasak.
"Kamu tidak pandai berbohong sayang. Apa mamamu ini tidak cukup baik mengenal putrinya sendiri?" ucap mama Desi. Jiana langsung menunduk dan menangis. Ia merasa sedih jika teringat beberapa hari yang lalu mertuanya memaksa dirinya untuk segera memberikan keturunan. Mama Desi langsung memeluk putrinya dan mengusap punggung Jiana dengan lembut. Agar kesedihan Jiana sedikit berkurang. Jiana menceritakan hal yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Ia merasa tidak nyaman dan tidak tenang setelah ancaman dari mama Mira. Mama Desi seolah terpukul, ia begitu terkejut karena mama Mira dengan tega mengatakan hal semacam itu.
"Jangan sedih sayang. Mama akan selalu ada buat kamu dan menguatkanmu. Masih ada suamimu juga yang setia menjagamu," ucap mama Desi agar Jiana berhenti bersedih. Melihat putrinya menangis saja membuatnya seolah juga merasakan kesedihan putrinya.
" Dasar Mira! Bagaimana bisa dia setega itu dengan putriku!" gumam mama Desi dalam hatinya.
__ADS_1
"Ma, Jiana ke sini hanya untuk menenangkan diri. Jangan bilang ke Raka ya kalau mama sudah tahu masalah ini," ucap Jiana. Mama Desi mengangguk tipis. Mereka melanjutkan memasaknya.