
Setelah memastikan istrinya terlelap, perlahan Raka beranjak dari ranjangnya. Ia menuju ke ruang kerjanya dan berniat menghubungi mertuanya untuk menanyakan apa yang telah terjadi pada istrinya siang tadi. Ia sangat penasaran karena tak biasanya istrinya lebih banyak melamun seperti tadi.
Ternyata benar dugaannya, istrinya tak baik-baik saja hari ini. Raka bingung harus bersikap seperti apa pada istrinya agar Jiana mengerti bahwa dirinya tak menuntut banyak hal terhadapnya. Raka bahkan sering kali mengutarakan bahwa kebahagiaan bukan hanya melulu soal mempunyai buah hati, tetapi Jiana tidak mau mengerti tentang ini.
Raka terduduk di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya. Ia memejamkan matanya sambil merenung. Ia tidak tega melihat istrinya yang selalu berusaha menyembunyikan kesedihan dihadapannya dan berusaha bersikap baik-baik saja.
"Kenapa kamu menghukum dirimu sendiri seperti ini sayang?" gumam Raka. Sampai akhirnya ia tertidur di sofa tersebut.
--
Pukul 02.00 pagi, Jiana terbangun dan terkejut karena suaminya tidak ada di sampingnya. Ia beranjak dari ranjangnya lalu menuju ke kamar mandi. Namun suaminya tidak berada di sana. Jiana keluar kamarnya untuk mencari keberadaan suaminya. Tetap saja ia tidak menemukannya. Lalu ia menuju ke dapur untuk mengambil air dan meneguknya.
__ADS_1
Saat ia ingin kembali ke kamarnya, Jiana melihat pintu ruang kerja suaminya terbuka sedikit. Jiana berjalan pelan untuk melihat apakah suaminya berada di dalam sana. Jiana mengintip dan melihat bahwa suaminya terlelap di sofa yang ada di ruangan tersebut. Ia menghampiri suaminya dan bermaksud untuk membangunkannya. Jiana bersimpuh di depan sofa. Ia duduk di lantai sambil memandangi wajah suaminya itu. Ia sama sekali tak bersuara, Jiana hanya memperhatikan suaminya yang saat ini sedang terlelap.
"Kenapa kamu tidur di sini mas?" tanya Jiana lirih. Tangannya tergerak mengusap lembut kening suaminya.
"Apa kamu tidak mau lagi tidur bersamaku?" tanya Jiana lagi. Entah apa yang ia pikirkan saat itu.
Kebetulan, Raka sudah terbangun saat Jiana mengusap keningnya. Namun ia urungkan untuk membuka matanya. Ia mendengarkan semua keluh kesah yang istrinya gumamkan di depannya.
"Mas, kalau misalnya nanti aku sulit untuk memiliki anak, apakah kamu akan menikah lagi? Atau kamu akan pergi meninggalkanku?" gumam Jiana. Ia masih belum sadar jika Raka mendengar setiap ucapannya.
"Hah? Mas, kamu sudah bangun? Sejak kapan?" tanya Jiana sambil mengernyitkan dahinya. Raka tersenyum dan memiringkan tubuhnya menghadap istrinya. Raka meraih tubuh Jiana dan mengecup kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau kalau aku menikah lagi, hmm?" tanya Raka. Ia mencubit pipi Jiana dengan gemas. Seketika Jiana menatap suaminya dengan tajam sehingga membuat Raka sedikit takut.
"Awas saja ya kalau sampai berani!" ujar Jiana. Ia ingin beranjak dari sana namun Raka menghentikannya. Raka duduk dan menarik istrinya agar duduk di sampingnya. Ia memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Bahkan apa yang diucapkan istrinya tersebut tidak pernah singgah dalam pikirannya. Ia mencintai istrinya lebih dari dirinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan meninggalkan istrinya hanya karena masalah seperti ini.
"Berjanjilah untuk tidak memikirkan masalah ini lagi sayang. Aku lelah jika terus memikirkan hal ini. Kamu tahu sendiri apa yang diucapkan dokter. Kita bisa mengikuti program dan semuanya butuh proses. Aku tidak ingin ini menjadi beban untukmu," ujar Raka panjang lebar sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut. Ia mengecup bahu istrinya pula. Jiana hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ayo, kembali ke kamar," ajak Raka. Ia menarik istrinya menuju kamar untuk tidur kembali. Masih ada beberapa jam lagi untuk melanjutkan tidurnya.
Saat ini, mereka sudah berbaring di atas ranjang. Raka semakin mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma istrinya yang tiba-tiba membuatnya menginginkan sesuatu yang lebih. Tangannya mulai menjelajahi tubuh istrinya.
"Sayang," ucap Raka pelan.
__ADS_1
"Ya mas?" jawab Jiana.
Raka memandangi wajah istrinya. Ia mengusap lembut setiap sudut wajah istrinya. Jiana hanya pasrah dengan perlakuan suaminya tersebut. Sesuatu yang asik terjadi pagi itu.