
đź’›Rakađź’›
Baru setengah perjalanan, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa istriku masuk rumah sakit karena pingsan. Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi pada istriku itu. Aku segera membatalkan pertemuan itu. Aku tak peduli jika nantinya mereka akan membatalkan perjanjian ini. Lebih baik aku kehilangan kolegaku daripada kehilangan orang yang aku sayangi.
Aku meminta Farrel untuk memutar arah menuju rumah sakit tempat Jiana dirawat. Pikiranku kalut, aku cemas memikirkan keadaannya. Semoga dia baik-baik saja, gumamku tak hentinya menenangkan diriku sendiri.
Aku meremas jemariku dan beberapa kali mengepalkan tanganku. Merasa tak bisa menjaga istriku sendiri. Bayanganku melayang jauh, teringat saat Jiana sakit dan ternyata... Ah sudahlah. Aku tidak ingin menambah kecemasanku.
Sampai di parkiran rumah sakit, aku segera berlari menuju ruang melati nomor 02 tempat Jiana tengah dirawat. Aku meninggalkan Farrel dan tak mempedulikan dia. Sebelum aku membuka pintu ruangan itu, aku mengatur napasku terlebih dahulu. Aku membuka pintunya dengan pelan. Ada mama dan mertuaku yang menemani istriku. Syukurlah.. Legaku.
"Ma, bagaimana keadaan Jiana?" tanyaku sambil berjalan menghampiri mereka. Bukan jawaban namun hanya senyuman yang aku dapatkan. Mama Desi menepuk bahuku dengan pelan.
"Bicaralah dengan istrimu. Tunggulah sejenak sampai dia bangun," ucap mama mertuaku. Aku menatapnya dengan penuh tanya. Beralih menatap mamaku untuk mendapatkan jawaban atas itu. Namun mereka justru terdiam dan kini meninggalkan kami berdua. Aku menarik kursi dan duduk di samping ranjang yang di tempati istriku. Membelai keningnya dengan lembut dan menatapnya dengan lekat.
Selang beberapa menit, Jiana mulai membuka matanya. Aku lega, ternyata istriku baik-baik saja. Aku membantunya duduk dan bersandar di ranjang.
"Mas, kenapa kamu di sini?" tanyanya saat melihatku sudah berada di sampingnya. Bodoh! Suami mana yang akan tenang-tenang saja mendengar istrinya masuk rumah sakit, batinku.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang kalau kamu sakit? Aku kan bisa menunda perjalanan bisnisku sayang," ucapku sambil membelai rambutnya. Lalu aku duduk di sampingnya. Mengecup keningnya sekilas. Jiana justru tersenyum sambil menatapku. Aku mengernyitkan dahiku. Dalam keadaan seperti ini masih bisa tersenyum? Haih, dasar Jiana. Tidakkah kau lihat betapa khawatirnya diriku ini?
"Siapa bilang aku sakit mas," ucapnya lirih. Aku masih tidak mengerti apa yang ingin ia bicarakan saat ini. Dia dirawat di rumah sakit dan ada selang infus di tangannya masih bilang tidak sakit?
"Lalu?" tanyaku menuntut jawaban. Aku masih menatapnya agar ia segera memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kata dokter aku hanya kelelahan mas, dan..."
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Jangan capek-capek sayang. Ingat, kamu juga perlu menjaga kesehatanmu," ucapku memotong pembicaraannya.
"Iya-iya, aku tahu mas. Kamu jangan menyela pembicaraanku dulu. Ada yang harus aku beritahu mengenai sesuatu," ucapnya kesal. Yah, aku memang over protektif jika itu menyangkut tentang kesehatannya.
"Kata dokter aku sedang hamil mas. Itu sebabnya tadi aku pingsan dan dokter menyuruhku untuk banyak istirahat," ucapnya bahagia. Seketika tubuhku menegang. Hamil? Istriku? Ya Tuhan, aku hampir kehabisan napas mendengar berita membahagiakan ini. Aku menangkup wajahnya. Mencium keningnya dan tanpa sadar aku menangis. Terima kasih, terima kasih, gumamku.
Aku beralih mencium pipi, dagu, dan berakhir kecupan lembut dibibirnya. Aku melihat tangan istriku menyentuh wajahku. Mengusap air mataku dengan lembut. Aku mendekatkan keningku dan keningnya.
"Kamu serius kan?" tanyaku memastikan karena aku takut hanya salah dengar. Dia mengangguk dan itu menambah keharuanku. Aku memeluknya dengan erat. Menciumi puncak kepalanya dan membelainya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," gumamku lirih. Aku melepas pelukanku dan menatapnya.
"Jangan menangis mas," ucapnya. Aku tersenyum tipis. Bukan kesedihan, namun kebahagiaan. Inikah hadiah kita yang sudah disiapkan oleh Tuhan? Semoga kami selalu bahagia dan kehadiran bayi ini akan menambah kebahagiaan rumah tangga kita sayang. Semoga...
***
Setelah memastikan istrinya istirahat, Raka bergegas menemui Farrel. Ia ingin tahu kabar kelanjutan dari pembatalan janji dengan kliennya itu.
"Bagaimana?" tanya Raka. Saat ini mereka berada di satu ruangan dengan Jiana.
"Setelah mengetahui alasan pembatalan Anda, mereka memakluminya tuan. Tapi, mungkin akan lebih susah lagi membuat janji dengan mereka kembali," jawab Farrel.
"Aku mengerti. Sampaikan permintaan maafku pada mereka," ujar Raka. Farrel mengangguk.
Raka duduk di sofa sambil memandangi istrinya yang tengah tertidur. Mama dan mertuanya sudah pulang sejak tadi sore. Sedangkan Maura diasuh oleh orang tua Jiana untuk sementara.
Raka menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia tersenyum kala mengingat pernyataan istrinya tadi siang yang mengatakan bahwa dirinya tengah hamil dua bulan. Rasa senang dan haru bercampur menjadi satu. Raka berjalan mendekati Jiana. Ia mengecup kening istrinya dan menatapnya dengan lembut. Tangannya mengusap perut istrinya dengan pelan.
__ADS_1
"Tumbuhlah dengan sehat sayang. Papa dan bunda akan menunggu kelahiranmu," gumam Raka. Ia mencium perut istrinya dan tak lupa membenahi selimutnya. Ia duduk di kursi samping ranjang untuk menjaga istrinya.