
Mereka menuju meja makan. Mira mengembangkan senyumnya saat melihat Jiana dan Raka menuju meja makan.
"Sini sayang, mama sudah menunggu kalian lama sekali," ujar Mira. Jiana tersenyum tipis.
"Maaf Ma, tadi nunggu Raka selesai mandi. Jadi agak lama," jawab Jiana lembut. Mira hanya mengangguk. Mereka mulai makan.
"Malam ini kalian menginap di sini kan?" tanya Mira di tengah-tengah makan. Raka dan Jiana menghentikan makannya. Mereka saling bertukar pandang. Jiana mengangguk pelan memberikan isyarat untuk Raka agar menyetujui permintaan mamanya.
"Iya Ma, kami akan menginap di sini," jawab Raka. Mira menghela napasnya lega. Sudah lama Raka dan Jiana tidak menginap. Biasanya hanya sebentar menjenguknya dan tak punya waktu banyak untuk sekedar mengobrol seperti ini.
__ADS_1
Selesai makan, Raka langsung menarik Jiana ke kamar. Tentunya mereka izin terlebih dahulu untuk istirahat. Dengan alasan pekerjaan di kantor begitu banyak sehingga mereka butuh istirahat yang cukup. Jiana juga hanya menurut saja. Tentunya ia tahu maksud Raka segera menariknya ke kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Raka langsung memeluk Jiana dari belakang. Ia mencium tengkuk dan bahu Jiana.
"Malam ini aku tidak akan melepaskanmu sayang," bisik Raka. Ia menggigit kecil telinga Jiana. Jiana hanya memejamkan matanya merasakan sesuatu yang menjalar di tubuhnya.
Raka membalikkan tubuh Jiana. Ia menyentuh pipi dan membelainya dengan lembut. Jiana kembali memejamkan matanya. Degupan jantung mereka semakin keras. Keduanya sama-sama gugup meski ini bukan pertama kalinya.
Raka menaikkan dagu Jiana dengan telunjuknya. Ia memajukan wajahnya dan mencium bibir Jiana dengan lembut. Jiana membalas ciuman itu. Lidah mereka saling beradu. Semakin lama semakin kasar dan menuntut.
__ADS_1
Raka melepas ciuman itu sejenak. Napas mereka beradu. Mereka terengah-engah. Raka tersenyum tipis dan mengecup hidung Jiana sekilas.
Raka menggendong Jiana dan merebahkannya di kasur. Ia langsung menindih Jiana. Jiana tersenyum dan mengusap pipi suaminya itu. Raka mulai mencium kening, kedua pipi Jiana dan bibirnya.
Raka bangkit dan melepas semua pakaiannya. Ia juga membantu Jiana melepas pakaian. Jiana kini terbuai dengan sentuhan Raka. Raka memandangi wajah Jiana dengan intens hingga Jiana salah tingkah. Tatapan Raka sudah sayu. Ia menggesekkan adik kecilnya pelan. Tubuhnya semakin panas dan hasratnya kian memuncak. Ia memulai permainan panas itu. Malam yang sunyi menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Meski Jiana belum mengakui jika ia telah jatuh cinta kepada Raka. Tetapi dilihat dari sikapnya sudah terlihat dengan jelas bahwa Jiana menerima dengan sukarela setiap sentuhan itu.
Tengah malam mereka baru selesai dengan urusannya. Jiana sudah lelah dan mengantuk. Namun Raka benar-benar tidak melepaskannya meski Jiana merintih lelah dan mengantuk.
Raka tersenyum puas. Ia mencium kening Jiana sekilas lalu menyelimuti Jiana dan dirinya. Ia merengkuh Jiana ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Pukul 04.30 Jiana terbangun. Badannya lengket karena kemarin sore ia belum mandi. Raka juga tidak mengizinkannya untuk mandi terlebih dahulu. Rasa malas dan kantuknya membuatnya betah untuk rebahan di atas kasurnya. Ia kembali memeluk Raka dan memejamkan matanya.
Ketika Jiana membuka matanya kembali, ia tidak mendapati Raka di sampingnya. Jiana langsung duduk dan tatapannya mencari keberadaan suaminya. Terlihat jelas jika hari sudah pagi. Perlahan sinar mentari merambat memasuki kamarnya melewati celah jendela. Ia lupa jika masih berada di rumah ibu mertuanya.