
Sudah satu minggu ini Jiana mendiamkan Raka. Ia bahkan bangun pagi langsung masak, setelah selesai ia segera bersiap ke kampusnya. Meskipun terkadang tidak ada jam kelas.
Raka dibuat kebingungan dengan sikap Jiana yang tiba-tiba acuh padanya. Raka mengakui jika ia memang salah. Namun ia tak pernah berpikir jika efeknya akan sampai seperti ini.
Seperti pagi ini, walaupun hari libur Jiana tetap pergi ke kampusnya. Meskipun di sana hanya duduk santai bersama Sarah atau mungkin sekedar mengobrol ringan.
"Hah, sampai kapan kamu mau marah sama aku sayang," gumam Raka saat menuruni tangga. Ia baru bangun dari tidurnya namun Jiana sudah tidak ada di rumahnya.
Raka mengambil ponselnya dan menghubungi Farrel untuk memantau Jiana di luar sana. Meskipun ia tidak bisa langsung menemui istrinya, setidaknya ia tahu apa yang dilakukan istrinya di luar sana.
Setelah makan, Raka menuju ruang tengah. Ia bahkan sudah berencana untuk mengajak Jiana jalan. Ia ingin menebus kesalahannya waktu itu. Raka masih fokus dengan ponselnya. Ia bersandar di sofa.
"Sendirian saja? Di mana istrimu?" ujar mama Mira yang baru saja datang.
"Eh, Ma," ucap Raka terkejut.
Mira duduk di samping Raka. Raka mencium punggung tangan mamanya.
__ADS_1
"Di mana istri kamu?" tanya mama Mira sambil mengedarkan pandangannya.
"Lagi di kampus Ma. Ada tugas kuliah," jawab Raka asal. Ia tidak ingin mamanya tahu jika mereka sedang marahan. Mira mengangguk paham.
"Kenapa tidak mengunjungi mama? Mama itu kangen sama kalian," ujar mama Mira.
"Maaf Ma. Kami benar-benar sibuk. Lain kali kami akan sering-sering ke rumah mama," jawab Raka. Ia tersenyum manis ke arah mamanya.
Raka mencoba menghubungi Jiana agar cepat pulang karena mamanya berkunjung ke rumahnya. Namun tak ada jawaban bahkan satupun pesannya tak ada balasan.
"Kenapa Ma? Kami baik-baik saja," jawab Raka dan sedikit bingung dengan pertanyaan mamanya. Mira menghela napasnya sejenak. Ia mengusap lembut puncak kepala putranya.
"Syukurlah kalau seperti itu. Mama hanya takut jika kalian tidak bisa saling menerima satu sama lain," ucap Mira. Bagaimanapun pernikahan ini dilandasi karena paksaan dari kedua keluarganya. Mira hanya ingin memastikan bahwa hubungan keduanya baik-baik saja.
Raka menatap mamanya lama. Kekhawatiran dalam raut wajah mamanya sungguh terlihat jelas. Ia tahu jika saat ini mamanya sedang mengkhawatirkan hubungannya dengan istrinya.
"Mama tenang saja. Meskipun Jiana awalnya menolak pernikahan ini tapi dia bisa menjadi istri yang baik untuk Raka Ma. Jiana juga tidak bertindak yang berlebihan. Dia juga sudah mengerti dengan tanggung jawabnya sebagai seorang istri," ucap Raka sambil memeluk mamanya dari samping.
__ADS_1
"Mama percaya sama kalian. Kalau begitu, kapan kalian akan memberikan mama ini cucu?" tanya Mira.
Uhuk uhuk uhuk
"Eh itu, secepatnya Ma," jawab Raka gugup. Ia sedikit malu jika ditanya seperti itu. Mira hanya tersenyum tipis melihat sikap Raka yang seperti itu.
"Jangan kecewakan mama," ucap Mira. Raka hanya mengangguk.
Cukup lama mereka mengobrol. Jiana juga belum pulang. Entah karena masih marah atau apa. Hingga saat ini Jiana belum juga merespon pesannya.
"Mama pulang dulu ya sayang. Mama lega jika hubungan kalian baik-baik saja," ucap Mira. Ia berdiri dan meraih tasnya.
"Mama nggak nunggu Jiana sebentar?" ucap Raka sambil berdiri.
"Lain kali saja. Kamu harus sering-sering membawa menantu mama ke rumah, oke?" ucap Mira. Ia mengusap pelan pipi Raka.
Mira keluar meninggalkan rumahnya. Raka hanya menatap kepergian mamanya itu. Ia kembali duduk sambil meraih ponselnya dan memainkannya.
__ADS_1